Pendidikan

Bank Mandiri Taspen & PNM Latih Penyandang Disabilitas Menjahit Sepatu untuk Masuk Dunia Kerja

×

Bank Mandiri Taspen & PNM Latih Penyandang Disabilitas Menjahit Sepatu untuk Masuk Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Penyandang Disabilitas Dibekali Skill Jahit Sepatu untuk Masuk Dunia Kerja Money 26 Juni 2026
Ilustrasi: Penyandang Disabilitas Dibekali Skill Jahit Sepatu untuk Masuk Dunia Kerja

jurnalistik.co.id – PT Bank Mandiri Taspen bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Tegal menggelar Program Vokasi Disabilitas di Gedung Islamic Center Brebes, Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung sepekan dan menjadi bagian dari upaya memperluas akses pelatihan keterampilan sekaligus kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

Langkah kolaborasi kedua perusahaan pelat merah itu ditujukan untuk mendorong kemandirian ekonomi kelompok rentan melalui pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Program ini juga lahir dari persoalan bahwa akses penyandang disabilitas terhadap pelatihan kerja masih terbatas, begitu pula kesempatan memperoleh pekerjaan formal.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas masih relatif rendah. Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat hanya 702 penyandang disabilitas yang memperoleh penempatan kerja melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) sepanjang 2023.

Menurut catatan yang disebut dalam laporan tersebut, salah satu penyebabnya adalah keterbatasan keberadaan ULD. Hingga saat ini, ULD baru tersedia di 28 provinsi atau sekitar 73,7 persen dari total 38 provinsi di Indonesia. Sementara itu, di tingkat kabupaten dan kota jumlahnya baru mencapai 179 ULD atau sekitar 34,82 persen dari total 514 daerah.

Kondisi ini membuat banyak penyandang disabilitas yang sebenarnya memiliki keterampilan, namun belum memperoleh akses pelatihan lanjutan maupun pintu masuk ke dunia kerja formal. Melalui Program Vokasi Disabilitas, Bank Mandiri Taspen dan PNM berupaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan memberikan pelatihan keterampilan sekaligus membuka akses penempatan kerja.

Program ini tidak hanya diposisikan sebagai dukungan dalam bentuk bantuan. Inisiatif tersebut dirancang agar peserta dapat memperoleh penghasilan melalui pekerjaan formal maupun usaha mandiri, sehingga berpotensi memperkuat kemandirian ekonomi mereka dalam jangka panjang.

Keberlanjutan program juga didekati sebagai pertemuan antara kebutuhan tenaga kerja industri dan ketersediaan sumber daya manusia. Dari sisi penyedia tenaga kerja, peserta dilatih hingga memiliki kompetensi dan sertifikasi. Dari sisi industri, peserta kemudian dihubungkan dengan perusahaan garmen maupun alas kaki yang membutuhkan tenaga operator.

Upaya tersebut sejalan dengan fungsi perantaraan kerja yang dijalankan ULD Kementerian Ketenagakerjaan. Pada saat yang sama, program turut mendukung pengembangan ekosistem pendidikan yang inklusif, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pasar kerja yang relevan bagi peserta.

Untuk kedua perusahaan, program ini juga dipandang sebagai bagian dari langkah menyiapkan sumber daya manusia yang siap memasuki dunia kerja. Kolaborasi yang dijalankan disebut sejalan dengan kerja yang sebelumnya telah dijalankan Bank Mandiri Taspen bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pelatihan operator jahit sepatu untuk peserta di Brebes

Sebanyak 30 peserta dari komunitas difabel di Kabupaten Brebes dan sekitarnya mengikuti pelatihan keterampilan menjahit. Kegiatan tersebut menggunakan skema Operator Jahit Sepatu yang difasilitasi oleh Ruang Amal Indonesia.

Dengan model pelatihan yang terarah, kegiatan ini menempatkan peserta pada proses belajar yang diharapkan mampu membentuk kemampuan praktik sekaligus kesiapan bekerja. Pada akhirnya, program berupaya mempertemukan keterampilan yang tumbuh dari pelatihan dengan permintaan tenaga kerja di sektor garmen dan alas kaki.

Melalui rangkaian tersebut, Program Vokasi Disabilitas Bank Mandiri Taspen–PNM di Brebes menunjukkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pelatihan, sertifikasi, dan penghubungan dengan kebutuhan industri ditempatkan sebagai satu rangkaian yang sama, agar akses kerja formal bagi penyandang disabilitas dapat diperluas secara lebih nyata.

Program juga menegaskan bahwa peluang yang dibangun lewat pelatihan dapat diteruskan hingga tahap kesiapan kerja, bukan berhenti pada sesi belajar saja.

Dengan pendekatan yang mengaitkan proses vokasi, sertifikasi, serta kebutuhan industri, peserta diharapkan semakin siap berperan sebagai operator pada rantai kerja garmen dan alas kaki.