Hukum & Kriminal

Awal Adik Naik ke Lantai Dua, Dokter Icha Ditemukan Meninggal

×

Awal Adik Naik ke Lantai Dua, Dokter Icha Ditemukan Meninggal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kronologi Dokter Icha Ditemukan Meninggal, Berawal Sang Adik Naik ke Lantai Dua Rumah

jurnalistik.co.id – Kasus kematian dr Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa dr Icha, bermula dari momen sederhana di rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, NTT, pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.00 WITA.

Keluarga kemudian memaparkan kronologi yang berujung pada ditemukannya dr Icha dalam kondisi meninggal dunia di lantai dua rumah tersebut.

Kronologi penemuan di lantai dua

Fabianus Banase, paman dr Icha, menyampaikan bahwa pada saat kejadian dokter 27 tahun itu berada di rumah bersama dua adiknya. Ayah dr Icha sedang berada di kebun, sementara ibunya masih bekerja.

Menurut keluarga, salah satu adik dr Icha yang juga berprofesi sebagai dokter naik ke lantai dua. Namun ketika sampai di atas, ia justru mendapati dr Icha sudah dalam kondisi tergantung.

“Berdasarkan perkiraan keluarga, dr Icha telah meninggal sekitar 20 menit sebelum ditemukan,” ujar Fabianus, Sabtu (27/6/2026), dilansir dari Kompas.com.

Pemeriksaan awal dan keputusan keluarga

Usai ditemukan, jenazah dr Icha dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.

Fabianus mengatakan, hasil pemeriksaan awal tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhumah.

“Atas kesepakatan keluarga, kami memutuskan tidak dilakukan otopsi. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Duka Baumata untuk disemayamkan dan didoakan bersama keluarga, sahabat, serta para pelayat,” tandasnya.

Latar belakang perawatan medis

Sebelum meninggal dunia, dr Icha diketahui telah menjalani perawatan medis selama sekitar enam hari sejak 15 Juni 2026. Perawatan itu dilakukan setelah dr Icha diduga mengalami tekanan psikologis.

Tekanan tersebut muncul usai ia disebut mendapat intimidasi dari anggota DPRD TTU saat menangani pasien anak korban gigitan ular di RS Leona pada Sabtu (13/6/2026).

Setelah kondisi dr Icha membaik, ia diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026. Setelah itu, ia melanjutkan pengobatan secara rawat jalan.

Komunikasi terakhir sebelum kabar meninggal

Fabianus menyebut masih sempat berkomunikasi dengan dr Icha melalui pesan singkat pada hari yang sama, Jumat (26/6/2026). Dalam pesan tersebut, ia meminta keponakannya untuk memulihkan kondisi kesehatan.

Ia juga menekankan agar dr Icha tidak memikirkan persoalan lain di luar proses pemulihan.

“Sore itu juga saya sampaikan supaya nanti kita bertemu di Bhayangkara untuk pemeriksaan lanjutan sekitar pukul 16.15. Tetapi sebelum itu terlaksana, sekitar menjelang pukul 18.00 kami mendapat kabar dia sudah meninggal dunia,” terang Fabianus.

Reaksi keluarga

Fabianus mengatakan kabar kematian itu menjadi pukulan berat bagi keluarga. Menurutnya, keluarga mengaku tidak pernah membayangkan dr Icha akan mengakhiri hidupnya.

Ia melanjutkan bahwa sebelum meninggal dunia, dr Icha diketahui meninggalkan sepucuk surat dan ponsel di lokasi kejadian.

Dengan keputusan keluarga untuk tidak melakukan otopsi dan membawa jenazah ke rumah duka untuk disemayamkan, proses penghormatan berlangsung bersama pihak-pihak yang datang melayat. Keluarga tetap berupaya melalui doa bersama sambil menerima kabar yang datang menjelang sore pada Jumat (26/6/2026).

Setelah jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang, keluarga memperoleh informasi dari pemeriksaan luar yang dilakukan pada tahap awal. Dari keterangan tersebut, tidak ditemukan indikasi kekerasan pada tubuh almarhumah, sehingga arah langkah berikutnya sepenuhnya ditentukan melalui musyawarah keluarga.

Dalam penuturan keluarga, rangkaian peristiwa tersebut tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, dr Icha menjalani perawatan sekitar enam hari sejak 15 Juni 2026 setelah mengalami tekanan psikologis, yang disebut muncul setelah ia menghadapi situasi intimidasi saat bertugas menangani pasien anak korban gigitan ular di RS Leona pada 13 Juni 2026.

Menjelang akhir hari pada Jumat (26/6/2026), keluarga tetap berpegang pada komunikasi terakhir yang sempat terjalin lewat pesan singkat. Fabianus menyampaikan bahwa arahan yang diberikan adalah agar dr Icha fokus pada proses pemulihan dan tidak memikirkan hal lain, namun sebelum jadwal pemeriksaan lanjutan sekitar pukul 16.15 terlaksana, kabar duka justru datang sekitar menjelang pukul 18.00.