Bisnis & Ekonomi

Badak NGL Torehkan Produksi LNG 7,12 Juta m³ pada 2025, Lampaui Target RKAP

×

Badak NGL Torehkan Produksi LNG 7,12 Juta m³ pada 2025, Lampaui Target RKAP

Sebarkan artikel ini
Badak NGL Produksi 7,12 Juta Meter Kubik LNG pada 2025 Money 17 Juni 2026
Ilustrasi: Badak NGL Produksi 7,12 Juta Meter Kubik LNG pada 2025

jurnalistik.co.id – Sepanjang 2025, PT Badak NGL (Badak LNG) mencatat produksi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) sebesar 7,12 juta meter kubik, tepatnya 7.122.857 meter kubik. Perusahaan juga membukukan produksi liquefied petroleum gas (elpiji) sebanyak 197.496 meter kubik pada tahun lalu.

Capaian tersebut datang dari anak usaha Subholding Upstream Pertamina. Berdasarkan catatan perusahaan, hasil produksi LNG dan elpiji itu menjadi penanda ketahanan operasi Badak LNG di tengah tantangan industri energi yang terus bergerak.

President Director & CEO Badak LNG, Achmad Khoiruddin, menyampaikan bahwa kinerja yang diraih menunjukkan kemampuan perusahaan menghadapi dinamika sektor energi global. Ia menilai situasi industri turut dibentuk oleh penurunan pasokan gas dari hulu.

“Di tengah tantangan penurunan pasokan gas dari hulu dan dinamika industri energi global, Badak LNG mampu menunjukkan resiliensi dan kinerja yang solid,” ujar Achmad dalam keterangannya pada Rabu (17/6/2026).

Badak LNG menyatakan realisasi produksi LNG dan elpiji tersebut melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025. Dari sisi operasional, perusahaan juga mencatat peningkatan dalam pengolahan bahan baku gas (feed gas).

Perusahaan menyebut pengolahan feed gas meningkat 14,23 persen dibanding target. Dari peningkatan itu, Badak LNG menghasilkan LNG 15,83 persen di atas target yang direncanakan dalam RKAP 2025.

Selain pencapaian berbasis volume, Badak LNG juga mempertahankan tingkat ketersediaan kilang (plant availability) sebesar 99,77 persen sepanjang 2025. Angka tersebut, menurut perusahaan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di level 95,18 persen.

Badak LNG turut mencatat capaian Plant Thermal Efficiency (PTE) sebesar 83,34 persen selama tahun berjalan. Dengan demikian, perusahaan memandang kinerja proses dan efisiensi operasional tetap terjaga pada level yang ditargetkan.

Secara keseluruhan, Badak LNG melaporkan Key Performance Indicator (KPI) perusahaan mencapai 107,16 persen pada tahun lalu. Achmad menekankan bahwa perusahaan terus mengoptimalkan aset dan sumber daya yang dimiliki agar operasi tetap aman, andal, efisien, dan berkelanjutan.

Menjelang periode berikutnya, Achmad menyatakan Badak LNG akan memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Fokusnya, menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan bisnis ke depan,” pungkas Achmad.

Angka produksi itu, dengan rincian LNG sebesar 7.122.857 meter kubik dan elpiji mencapai 197.496 meter kubik, memperlihatkan bahwa Badak LNG tidak hanya menjaga kesinambungan pasokan, melainkan juga tetap mampu menjalankan portofolio produksi yang saling melengkapi di sepanjang tahun 2025.

Dalam laporan yang sama, perusahaan mengaitkan capaian tersebut dengan kinerja pengolahan feed gas. Peningkatan pengolahan feed gas sebesar 14,23 persen menjadi dasar untuk capaian produksi LNG yang tercatat 15,83 persen lebih tinggi daripada target yang tertuang dalam RKAP 2025, sekaligus menegaskan eksekusi operasional yang terukur.

Di sisi keandalan fasilitas, Badak LNG menempatkan tingkat ketersediaan kilang (plant availability) di 99,77 persen sepanjang 2025. Menurut perusahaan, pencapaian tersebut berada di atas rata-rata global di level 95,18 persen, sehingga menjadi indikator penting bahwa operasi berjalan dengan gangguan yang lebih minimal dan stabil.

Performa proses juga tetap dijaga melalui pencapaian Plant Thermal Efficiency (PTE) 83,34 persen, serta KPI perusahaan yang mencapai 107,16 persen. Dengan kombinasi efisiensi proses, ketersediaan aset, dan penguatan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, perusahaan memandang langkah berikutnya sebagai upaya mempertahankan ketahanan energi dan keberlanjutan bisnis.