jurnalistik.co.id – Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Lambung Bukit di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, saat ini berada dalam situasi yang rawan. Sebanyak 250 murid harus menjalani proses belajar dengan ancaman longsor sebagai latar yang terus menghantui.
Meski demikian, antusiasme warga justru terlihat meningkat. Di tengah kondisi infrastruktur sekolah yang memprihatinkan, jumlah pendaftar untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini dilaporkan melonjak tajam dan bahkan melebihi kuota yang disediakan.
PPDB Melebihi Kuota
Kepala SDN 10 Lambung Bukit, Haryenti, mengatakan peningkatan pendaftar ini terjadi bersamaan dengan kenyataan bahwa sekolah sedang beroperasi dalam keterbatasan fasilitas. Ia menilai kepercayaan orang tua terhadap sekolah masih sangat kuat meskipun ruang belajar dan akses utama berada dalam kondisi yang berisiko.
“Alhamdulillah, mungkin banyak faktor yang dilihat orangtua sehingga mereka tetap optimis sekolah ini akan diperbaiki. Peningkatan pendaftar siswa tahun ini malah melebihi kuota,” ujar Haryenti, Jumat (3/7/2026).
Menurut penjelasan Haryenti, lonjakan pendaftar tersebut menggambarkan adanya optimisme sebagian orang tua. Mereka tetap memilih SDN 10 Lambung Bukit sebagai tempat pendidikan anak, meski lingkungan sekolah tidak lagi berada dalam kondisi normal.
Situasi ini menjadi sorotan karena sekolah pada kenyataannya tengah menanggung dampak bencana hidrometeorologi 2025. Bangunan dan akses utama sekolah terdampak hantaman banjir bandang pada Desember 2025 lalu, sehingga proses belajar berjalan dengan banyak penyesuaian.
Ruang Kelas dan Ruang Guru Tidak Bisa Dipakai
Bencana banjir bandang kedua yang melanda sekitar enam bulan sebelumnya ikut memperburuk kondisi di dalam area sekolah. Dua ruangan vital disebut rusak total dan tidak bisa lagi digunakan, yaitu ruang kelas dua dan ruang guru.
Berita Terkait
Akibatnya, sebanyak 259 murid harus berbagi waktu dan ruang belajar. Untuk mengatasi kekurangan tempat, pihak sekolah menerapkan sistem bergantian (shift) agar kegiatan belajar tetap berjalan bagi seluruh murid yang terdaftar.
Penyesuaian tidak hanya dirasakan oleh murid. Para guru dan pegawai SDN 10 Lambung Bukit juga harus beraktivitas tanpa memiliki ruangan kantor yang layak, sehingga pekerjaan harian berlangsung dalam keterbatasan yang sama.
Pengawasan Diperketat di Area Longsor
Di tengah ancaman bahaya di lingkungan sekolah, pengamanan dilakukan dengan lebih ketat. Pihak sekolah memperketat penjagaan terhadap aktivitas para murid, terutama di area yang berpotensi membahayakan.
Haryenti menambahkan bahwa bersama para guru, pihak sekolah terus berupaya memberikan pengawasan melekat di pekarangan sekolah yang tersisa. Langkah ini dilakukan supaya anak-anak tidak mendekati area bekas longsoran yang dinilai tidak aman.
Upaya tersebut diharapkan dapat menghadirkan rasa aman bagi orang tua yang tetap memercayakan pendidikan anak mereka di SDN 10 Lambung Bukit. Pada akhirnya, keputusan warga untuk tetap mendaftar dan memilih sekolah ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan pendidikan masih harus berjalan, sekaligus menuntut perhatian serius terhadap keselamatan dan pemulihan fasilitas.
Dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih, sekolah terus menjalankan proses belajar melalui pengaturan shift dan pengawasan tambahan. Di saat yang sama, lonjakan pendaftar yang dilaporkan melebihi kuota memperlihatkan bahwa harapan perbaikan tetap hidup di kalangan orang tua dan masyarakat sekitar.
Untuk menjaga kelangsungan pembelajaran, sekolah menjalankan penataan jadwal yang menyesuaikan keterbatasan ruang. Sistem bergantian itu dimaksudkan agar seluruh murid tetap memperoleh kesempatan belajar, sementara kondisi fasilitas yang belum pulih tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap aktivitas harian.
Dalam situasi seperti ini, peran guru dan pegawai tidak hanya berkaitan dengan proses mengajar, tetapi juga memastikan rutinitas di sekolah berjalan tertib meski berada pada lingkungan yang berisiko. Pengawasan yang diperketat membuat kegiatan murid lebih terarah, terutama ketika berada di sekitar area yang dianggap berbahaya.
Lonjakan pendaftar yang dilaporkan melebihi kuota juga memberi gambaran bahwa sebagian orang tua tetap melihat peluang perbaikan ke depan. Keputusan warga untuk mempertahankan pilihan di SDN 10 Lambung Bukit menunjukkan adanya kebutuhan layanan pendidikan yang terus berjalan, sekaligus tuntutan agar keselamatan anak dan pemulihan fasilitas menjadi perhatian bersama.












