Peristiwa

250 Siswa SDN 10 Lambung Bukit Pauh Jalani Belajar Darurat di Tengah Ancaman Longsor

×

250 Siswa SDN 10 Lambung Bukit Pauh Jalani Belajar Darurat di Tengah Ancaman Longsor

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 250 Murid SDN 10 Lambung Bukit Belajar di Tengah Ancaman Longsor

jurnalistik.co.id – Pasca bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 di Kota Padang, kegiatan belajar mengajar di SDN 10 Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, harus beradaptasi dalam kondisi darurat. Ratusan murid kini belajar dengan keterbatasan karena akses menuju sekolah mengalami kerusakan berat dan area sekitar bangunan menyimpan risiko longsor.

Di sekolah tersebut, sekitar 250 siswa menghadapi situasi yang membuat aktivitas harian berlangsung tidak seperti biasanya. Kondisi ini muncul setelah banjir bandang melanda wilayah setempat dan meninggalkan dampak fisik yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

Kerusakan paling terasa terjadi di bagian depan sekolah. Akses jalan tepat di depan lokasi belajar amblas total akibat derasnya aliran Sungai Gunung Nago Pauh, sehingga ruang gerak murid maupun aktivitas pendukung menjadi lebih sempit dan diawasi ketat.

Selain persoalan jalan, bangunan sekolah juga terkena dampak yang berpengaruh langsung pada ruang kelas. Kepala SDN 10 Lambung Bukit, Haryenti, menjelaskan bahwa dua ruang kelas mengalami retak hebat pada bagian fondasi tanah.

Menurut Haryenti, retakan tersebut membuat dua ruang kelas tidak lagi layak digunakan untuk kegiatan belajar. Di area yang seharusnya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran, kondisi justru beralih menjadi wilayah yang terpengaruh aliran air.

“Sekarang di bawah bangunan ruangan yang retak tersebut justru ada aliran sungainya. Dua ruang kelas itu saat ini kami jadikan gudang sementara,” ujar Haryenti kepada Kompas.com.

Dengan ruang kelas yang tidak dapat dipakai, sekolah terpaksa mengatur ulang fungsi bangunan agar proses kerja sekolah tetap berjalan. Dua ruang yang sebelumnya digunakan untuk mengajar kini diposisikan sebagai tempat penyimpanan sementara, mengikuti kebutuhan di lapangan.

Di sisi lain, pihak sekolah menempatkan keselamatan murid sebagai prioritas utama. Pengawasan diperketat agar para siswa tidak bermain ataupun berada terlalu dekat dengan area yang dinilai rawan ambruk akibat kondisi tanah dan struktur di sekitar bangunan.

Kebijakan pengamanan tersebut bukan hanya diterapkan saat cuaca sedang buruk. Sekolah menyesuaikan pola pengawasan karena perubahan kondisi di lapangan dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama ketika curah hujan meningkat dan aliran air kembali bertambah.

Ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut, sekolah menjalankan langkah darurat terkait jadwal belajar. Haryenti menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar akan dihentikan demi keselamatan siswa, serta kepulangan dilakukan lebih cepat dibanding waktu normal.

“Kalau hujan turun lebat, kami harus memulangkan murid lebih cepat dari waktu seharusnya. Cara ini kami lakukan agar murid tetap aman, mengingat kondisi sekolah lagi tidak aman di bagian depannya,” kata Haryenti.

Keputusan untuk menghentikan proses belajar saat hujan lebat diambil sebagai upaya pencegahan. Sekolah berupaya mencegah risiko tambahan yang dapat muncul dari pergerakan tanah atau perubahan aliran air yang memperparah kondisi area sekitar lokasi.

Bagi orangtua murid, situasi ini turut menimbulkan kecemasan karena anak-anak belum bisa kembali belajar di tempat yang benar-benar aman. Mereka berharap kondisi di sekolah dapat segera dipulihkan dan aktivitas pembelajaran dapat berlangsung tanpa harus menyesuaikan diri dengan ancaman longsor dan kerusakan yang masih berlanjut.

Hingga saat ini, sekolah tetap berusaha menjaga agar pendidikan tidak berhenti sepenuhnya, namun harus dilakukan dengan berbagai penyesuaian. Langkah pengawasan yang lebih ketat dan kebijakan darurat saat cuaca ekstrem menjadi bagian dari upaya memastikan murid tetap berada dalam perlindungan selama proses belajar berlangsung.

Dalam masa penyesuaian itu, kegiatan sekolah tetap diarahkan agar proses belajar tidak sepenuhnya berhenti, meski ruang gerak dan kapasitas fasilitas berkurang. Sekolah menata ulang alur aktivitas harian dengan mempertimbangkan area yang dinilai paling berisiko, sekaligus menjaga agar interaksi siswa tetap terkontrol dalam lingkungan yang kondisi strukturnya belum pulih.

Penataan sementara tersebut juga membuat aktivitas pendukung sekolah ikut berubah. Ruangan yang semula berfungsi sebagai kelas kini dialihkan sebagai tempat penyimpanan darurat, sehingga kebutuhan logistik sekolah ditampung pada ruang alternatif tanpa mengganggu keselamatan dan pengawasan terhadap murid.

Bagi keluarga siswa, penyesuaian ini menuntut kesiapan menghadapi jadwal yang tidak selalu sama seperti sebelum bencana. Kekhawatiran muncul karena aktivitas belajar harus mengikuti kondisi cuaca dan perkembangan di sekitar bangunan, termasuk ketika hujan membuat aliran air kembali bertambah sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan lebih ketat.