Nasional

Bergadang semalaman, larangan ponsel, dan nonton di sekolah: cara fans melihat kemenangan epik Inggris

×

Bergadang semalaman, larangan ponsel, dan nonton di sekolah: cara fans melihat kemenangan epik Inggris

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: All-nighters, phone bans and school screenings - how you watched England's epic win

jurnalistik.co.id – Kemenangan dramatis Inggris 3-2 atas Meksiko pada Senin mengundang ledakan euforia sekaligus kelelahan yang tersebar ke berbagai sudut negeri. Kick-off berlangsung pukul 02:00 BST, namun banyak penggemar tetap bertahan, sementara sebagian lain baru bisa menyaksikan ulang atau bahkan harus menghadapi kenyataan pahit karena tertidur.

Beragam cara orang menyaksikan pertandingan ikut menjadi cerita tersendiri: ada yang menonton di sekolah dalam format “as-live”, ada yang bertahan di pub yang tetap buka sampai 05:00, hingga ada pula yang menyaksikan lewat layar ponsel dari tempat yang tak terduga. Semua kisah itu, menurut mereka, terasa seperti bagian dari pengalaman yang tak mudah dilupakan.

Di sekolah: “as-live” dan perayaan bersama

Di Malmesbury Church of England Primary School, Wiltshire, para murid datang lebih awal untuk menonton “as-live” langsung di sekolah agar bisa “enjoy the game together as a community”. Saat Jude Bellingham mencetak dua gol dalam dua menit di babak pertama, seorang murid mengatakan pertandingan “looking really good” untuk Inggris, meski ia juga mengaku punya firasat bahwa “Mexico are going to win”.

Ketika peluit akhir berbunyi dan kemenangan resmi milik Inggris, kegembiraan para siswa terlihat seolah mereka benar-benar menonton secara langsung. Salah satu murid menyampaikan, “It was better [watching] with my friends than it was with my parents”.

Sementara itu, anak-anak yang menonton di Castleway Primary di Leasowe, Wirral, diberi tahu bahwa mereka harus kehilangan waktu bermain untuk sisa minggu itu bila “spoiled the result for anyone”. Di luar aturan itu, mereka tetap berusaha menjaga ketegangan sampai pertandingan selesai.

Pub tetap buka: malam yang “incredible”

Di banyak kota, suasana pertandingan tidak berhenti saat pergantian hari. Pub di seluruh negeri tetap terbuka semalaman setelah pemerintah membalik kebijakan terkait jam operasional lisensi, sehingga tempat-tempat tersebut bisa bertahan hingga 05:00.

Di Brittania Inn, St Austell, Cornwall, sekitar 350 orang menonton pertandingan. Landlord Phil Lafferty menyebut malam itu “an incredible evening and something we have never done before”. Ia membandingkan dengan momen ketika Jepang bermain pada 2002 pukul 06:00, tetapi menegaskan tidak ada yang menandingi situasi kali ini: “It was amazing.”

Di Wales, Sarah Badrock, manajer The Ship Inn di Trefin, termasuk dari sedikit pub yang tetap buka sampai 05:00 untuk menyambut laga Inggris. Ia menyiapkan minuman gratis untuk setiap gol yang tercipta, namun hanya empat orang yang datang. Di antara mereka ada aktor Keith Allen, yang menulis lagu Piala Dunia Inggris “Vindaloo” pada 1998.

Di Broadstairs, Kent, Thea Barratt yang menjalankan Cramptons Sports Bar mengatakan ia “took more money than I did on New Year’s Eve”. Untuk menampung keramaian, bar itu menambah fasilitas portaloos dan membuka bar di bagian luar. Barratt juga menargetkan penghasilan pada laga perempat final Sabtu: “Long may they [England] continue and hopefully get to the final”.

Anak delapan tahun hingga keluarga yang menonton dari awal

All-nighter tidak hanya soal orang dewasa. Seorang penggemar berusia delapan tahun, Wren, kabarnya tidak seharusnya berjaga sampai jam malam untuk pertandingan yang berlangsung larut, tetapi ibunya, Jess Clark, mengatakan kepada BBC bahwa ia tidak sanggup menahan diri untuk membangunkan Wren demi merayakan bersama.

Jess menggambarkan momen itu sebagai pengalaman emosional yang intens: “It was incredible, my son and I were jumping up and down hugging each other singing Wonderwall – it was just a dream”. Ia menambahkan bahwa menyaksikan perjalanan sukses Inggris di Piala Dunia sejauh ini terasa “beyond magical”.

Namun bagi sebagian orang, malam yang sibuk juga membuat pengalaman menonton menjadi potongan-potongan. Michelle dari Evesham, misalnya, mengaku melihat sebagian pertandingan di area parkir Birmingham Airport saat menunggu suaminya yang sedang berangkat kerja. Mereka “trying to get some sleep” sambil menunggu, sampai ada sorakan yang membuatnya keluar dari mobil.

Michelle lalu berlari ke arah seorang sopir taksi yang sedang menonton pertandingan lewat ponsel. Ia menyampaikan bahwa ia berhasil menangkap momen gol kedua dan juga saat penalti terjadi. Ia menambahkan detail yang tetap melekat: “I got so excited when Harry Kane scored that I hit the guy on the shoulder.” Sayangnya, ia tidak bisa menonton sampai akhir karena “obviously the taxi driver had to go off and do his job”.

Yang tertidur: kisah Katharine Merry

Tidak semua orang berhasil mempertahankan mata tetap terbuka. Mantan sprinter Inggris, Katharine Merry, bercerita bahwa ia sempat “ploughed on through yesterday” sambil berniat tidak mengambil “a tactical nap”. Namun saat kick-off ditunda dari 01:00 menjadi 02:00, suaminya justru pergi untuk tidur siang.

Merry menuturkan perubahan situasi itu terjadi cepat. “Half past one, I was still awake, all still bright-eyed, and kind of bushy-tailed, and then I went horizontal and dozed off,” katanya. Ia menambahkan, “My husband never came back. I woke up at 06:30 and missed everything.”

Keheningan dan aturan tanpa ponsel

Bagi yang tidak merayakan di pub, ada pula tekanan berbeda: menjaga suasana agar tidak membangunkan anak-anak atau tidak “spoiled the result”. BBC journalist Owen Amos menggambarkan bahwa saat Inggris unggul, ia harus berusaha tetap diam. Amos menonton “as-live” mulai pukul 03:30 karena ia punya pekerjaan pagi, lalu ia menggambarkan reaksinya dengan nada jenaka: “a silent leap off the sofa” saat Bellingham mencetak gol pertamanya dan “a wild (but equally silent) fist pumping” ketika gol kedua masuk kurang dari satu menit setelahnya.

Ketika Meksiko menyamakan keadaan, Amos menyebut, “cushions were thrown”, dan ia juga mendengar “a quiet ‘peep of dissent when England’s Jarell Quansah was sent off’”. Ia memastikan bahwa meskipun ada intervensi VAR, ia tetap bisa menahan volume selama pertandingan dan, yang paling penting, kedua anaknya tetap tidur.

Di sisi lain, Mark Ansell dari BBC Look North mengatakan di tempatnya ada kebijakan ketat “no-phones policy” agar tidak ada yang mengetahui skor akhir sebelum waktunya. Empat keluarga berkumpul untuk menonton rekaman mulai pukul 06:00. Ansell menambahkan, “Six adults skipped to work, happier than ever as our dream of a World Cup win continues”.

Kerja malam dan fleksibilitas: saran Bellingham

Sementara itu, jadwal kerja juga ikut menyesuaikan agar laga bisa masuk ke rutinitas. Bellingham sendiri memberi nasihat: “Text your bosses and tell them you’re not coming in.” Pada beberapa sektor, permintaan itu lebih mudah dipenuhi daripada yang lain. Pekerja di distribution centre di Rochdale, misalnya, menonton pertandingan ketika sedang bekerja. Salah satu pekerja mengatakan, “It’s not good for my heart, but football’s my heart,” selaras dengan intensitas pertandingan.

Pendekatan yang sama datang dari Joshua Elash, yang menjalankan MT Finance Group berbasis London. Ia mengizinkan staf memulai pekerjaan pada pukul 11:00 dan menyebutnya “no-brainer”. Ia menambahkan bahwa ini baik untuk suasana hati: “It’s good for morale,” dan ia berharap manfaat tersebut tetap terasa bahkan bila Senin tidak terlalu produktif.

Octopus Energy juga memberi kelonggaran pada jadwal kunjungan rumah, dengan mengizinkan para engineer memulai home visits beberapa jam lebih lambat. Untuk staf yang bekerja di kantor atau peran berbasis pelanggan dari rumah, mereka juga dapat memulai dan mengakhiri lebih belakangan.

Kevin Craig, pendiri dan CEO PLMR, membenarkan keputusan itu melalui logika budaya kerja dan dukungan yang nyata. Craig mengatakan ia menyiapkan izin bagi sekitar 100 karyawan di empat kantor—London, Coventry, Birmingham, dan Ipswich—untuk mulai bekerja pukul 12:00 jika ingin menonton pertandingan. Ia menjelaskan, “I just instinctively knew it was the right thing to do,” serta menegaskan upaya menyeimbangkan keluarga dan target bisnis: “We try to be pro-family alongside making money. I know it’s not possible for all organisations in the land but… these days are special.”

Namun tidak semua tempat menerapkan perubahan. Menurut laporan, supermarket Sainsbury’s dan Aldi tetap menjalankan rutinitas normal pada Senin, begitu pula pabrikan mobil Nissan.

Pagi sekolah dan tetangga yang mengobrak-abrik rencana tidur

Pada pagi berikutnya, perjuangan tampak jelas bagi orang tua yang tetap bertahan menonton. Stella Creasy, politisi dari Walthamstow, menggambarkan betapa sulitnya menjalani school run setelah kartu merah dan penalti. Ia menulis di X pada 03:28 BST: “I have no idea how I do the school run this morning after a red card and a penalty… Like having had ten espressos and a red bull chaser”.

Sementara itu, suami BBC DJ Sara Cox mengalami hasil pertandingan yang “spoiled” oleh tetangga yang terus bersorak. Untuk menghindari mengganggu Sara sebelum debut Radio 2 pada Senin, suaminya memutuskan tidur di ruang bawah. Tetapi ia mendengar hasil itu dari keramaian: warga menchant “Where were you when we won 3-2.”

Berbagai kisah ini akhirnya bermuara pada pertanyaan yang sama: bagaimana cara masing-masing orang menonton, dan bagaimana perasaan mereka setelahnya—apakah masih seperti Harry Kane yang “croaky”, atau justru merasakan semangat yang belum padam.