jurnalistik.co.id – Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu bulan dengan total kenaikan 100 basis poin. Kenaikan beruntun ini memunculkan pertanyaan apakah kebijakan moneter masih akan dilanjutkan.
Chief Economist BTN Myrdal Gunarto menilai, ruang kenaikan BI Rate ke depan mulai terbatas. Menurutnya, walaupun BI telah menaikkan suku bunga, kenaikan secara kumulatif saat ini masih lebih rendah dibanding penurunan suku bunga sebesar 125 basis poin yang dilakukan sepanjang tahun lalu.
Gunarto menyebut arah kebijakan moneter ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan beberapa variabel utama. Ia menyoroti nilai tukar rupiah, inflasi domestik, harga energi global, serta dinamika arus modal internasional.
Ia menekankan bahwa keputusan BI saat ini tidak terlepas dari kebutuhan menjaga stabilitas makroekonomi. Dalam pandangannya, pengendalian tekanan eksternal dan kondisi harga energi menjadi bagian penting dalam membaca arah kebijakan selanjutnya.
“Selama tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali, kami memperkirakan BI Rate berpotensi dipertahankan pada level 5,75 persen hingga akhir tahun,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (19/6/2026).
Gunarto menjelaskan, BI menaikkan suku bunga menjadi 5,75 persen sebagai bentuk fokus bank sentral dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Perhatian itu diarahkan, khususnya, pada nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Di sisi lain, BI juga dinilai sedang mengantisipasi sejumlah risiko eksternal yang dapat memengaruhi kondisi keuangan domestik. Risiko yang disebut Gunarto mencakup potensi pelebaran defisit transaksi berjalan.
Selain itu, ia menyinggung meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi serta pembayaran dividen korporasi. Perubahan pada komponen-komponen tersebut diyakini dapat berdampak pada tekanan terhadap rupiah dan stabilitas sistem keuangan.
Gunarto juga mengaitkan dinamika arus modal global dengan pilihan kebijakan BI. Ia menilai minat investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan perbaikan, tetapi BI tetap mengambil langkah preventif untuk memperkuat kepercayaan pasar.
“Meskipun minat investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan perbaikan, Bank Indonesia tetap mengambil langkah preventif untuk memperkuat kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas sistem keuangan,” ungkapnya.
Meski demikian, pandangan mengenai kelanjutan kenaikan BI Rate tidak sepenuhnya seragam. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut.
Leong menilai BI Rate tetap menjadi instrumen penting untuk menopang rupiah. Namun, ia memandang kenaikan tersebut bersifat sementara, sebagai respons sampai tekanan eksternal maupun domestik mereda.
“BI diperkirakan masih akan dinaikkan ke depannya paling tidak 50 basis poin lagi,” ucap Lukman kepada Kompas.com, Jumat (19/6/2026).
Dari proyeksi tersebut, Leong menyebut BI Rate berpotensi mencapai 6,25 persen jika kenaikan tambahan setara setidaknya 50 basis poin benar terjadi. Ia juga menjadikan level itu sebagai acuan karena pada September 2024 rupiah mengalami pelemahan berkelanjutan dari kisaran Rp 15.000 per dollar AS setelah serangkaian penurunan BI Rate.
Leong menilai berbagai intervensi yang selama ini dilakukan BI masih belum cukup efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Karena itu, menurutnya, kenaikan suku bunga tetap menjadi instrumen utama yang digunakan bank sentral.
Perbedaan pandangan antara Gunarto dan Leong memperlihatkan betapa kebijakan BI masih akan ditentukan oleh perkembangan faktor di luar dan di dalam negeri. Di satu sisi, ada sinyal bahwa BI Rate dapat dipertahankan pada 5,75 persen bila tekanan eksternal dan harga minyak terkendali.
Di sisi lain, proyeksi kenaikan lanjutan menekankan bahwa penopang rupiah dapat memerlukan langkah tambahan, setidaknya untuk menjaga perimbangan respons kebijakan hingga situasi lebih reda. Pada akhirnya, apakah BI akan kembali menaikkan BI Rate akan bergantung pada bagaimana kondisi rupiah, inflasi, energi global, dan arus modal berlanjut.












