Peristiwa

Muhammad (16) di Jakarta Putus Sekolah: Jual Roti dan Lukis Sketsa untuk Ibunya

×

Muhammad (16) di Jakarta Putus Sekolah: Jual Roti dan Lukis Sketsa untuk Ibunya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Muhammad, Remaja Putus Sekolah Jualan Roti dan Melukis demi Hidupi Ibu

jurnalistik.co.id – Di Jakarta Pusat, seorang remaja menghadapi pilihan yang tidak mudah ketika pendidikan formal terpaksa berhenti. Ia memilih bekerja agar kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi.

Dalam rutinitasnya, Muhammad (16) menjajakan roti sambil menawarkan jasa sketsa wajah. Ia bekerja di Stasiun Sudirman dan juga menulis sketsa di kawasan Bundaran HI.

Di saat banyak teman sebayanya berada di bangku sekolah, Muhammad justru harus mencari penghasilan untuk mendukung sang ibu. Kondisi ini berawal setelah kedua orangtuanya berpisah pada awal 2023.

Sejak kejadian itu, Muhammad dan ibunya pindah ke rumah indekos. Mereka mencoba bertahan di tengah himpitan ekonomi yang membuat ruang untuk rencana masa depan semakin sempit.

Roti dari rumah, sketsa untuk membantu pemasukan

Muhammad memanfaatkan waktu yang tersedia untuk berjualan. Ia membawa roti buatan ibunya dan menawarkannya kepada pembeli di sekitar stasiun.

Sebelum sepenuhnya bekerja, ia sempat mencoba menyesuaikan aktivitasnya dengan sekolah. Muhammad menceritakan awal mula usahanya ketika ia masih duduk di bangku SMP.

“Saya tahun 2023 itu kelas 7 akhirnya jualan di sekolah, roti ibu saya bawa ke sekolah, yang beli temen sama guru. Terus pulangnya kadang saya jualan di sini (Stasiun Sudirman),” kata Muhammad saat ditemui Kompas.com di Stasiun Sudirman.

Setelah jam sekolah selesai, Muhammad melanjutkan penjualan di lokasi yang sama. Di sisi lain, ia juga membuat sketsa wajah sebagai cara tambahan untuk mendapatkan pemasukan.

Menurut pengakuannya, ia menjalankan dua jenis pekerjaan itu karena pendapatan menjadi tumpuan keluarga. Ia berusaha menyeimbangkan upaya membantu ibu dengan keterbatasan yang ada.

Kendala masuk SMA dan pilihan untuk berhenti

Muhammad pernah menamatkan pendidikan di SMP Negeri 1 Jakarta, Cikini. Namun setelah lulus pada 2025, ia tidak berhasil diterima di SMA negeri karena nilai yang dimilikinya tidak mencukupi.

Hambatan itu tidak hanya bersumber dari proses seleksi, tetapi juga dari kemampuan ekonomi keluarga. Muhammad menyatakan bahwa ia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan ke sekolah swasta.

“Waktu itu pas PPDB tahun lalu 2025 saya enggak bisa masuk negeri karena nilai saya kurang cukup gitu. Mau ke jalur lain kayak KJP (Kartu Jakarta Pintar) atau bantuan gitu saya enggak bisa, karena enggak punya, kalau swasta enggak ada uangnya,” ungkap Muhammad.

Bagi Muhammad, keputusan untuk tetap bersekolah di jenjang berikutnya juga menyangkut ketersediaan waktu. Ia menyadari bahwa jadwal berjualan akan semakin sulit dilakukan jika ia masuk SMA.

“Akhirnya saya juga mikir gitu kalau sekolah SMA, saya jadi enggak ada waktu kan buat dagang. Kan pagi-sore tuh, jadi waktu dagang kan mepet. Jadi kayaknya berhenti sekolah aja deh gitu,” katanya.

Pada tahap awal, sang ibu sempat menolak rencananya untuk bekerja. Namun percakapan itu berujung pada kesepakatan yang lebih menekankan kebutuhan ekonomi harian.

“Sempat marah ibu waktu saya mau kerja aja, tapi sekarang memang cari uang aja fokusnya, enggak sekolah dulu karena enggak ada uang. Jadi saya yang inisiatif buat kerja, buat bantu ibu di rumah,” tuturnya.

Mimpi menggambar tetap menyala

Meskipun pendidikan formalnya terhenti, Muhammad tidak meninggalkan minat menggambar. Ia menyebut bahwa kecenderungannya pada dunia seni telah tumbuh sejak masa kanak-kanak.

Sejak duduk di taman kanak-kanak, Muhammad mengaku menyukai kegiatan menggambar. Ketertarikan itu kemudian ia jalankan lewat pembuatan sketsa wajah di ruang publik.

Dengan begitu, aktivitas yang ia kerjakan tidak sepenuhnya hanya soal mencari uang. Baginya, menggambar menjadi jalan yang tetap selaras dengan minat yang ia bawa sejak awal.

Di antara tumpukan kebutuhan dan keterbatasan, Muhammad berusaha mempertahankan dua hal sekaligus: membantu sang ibu melalui penjualan roti, dan menyalurkan kebiasaan menggambar melalui sketsa wajah.

Rutinitasnya di Stasiun Sudirman serta aktivitas sketsa di Bundaran HI menunjukkan bagaimana ia menyusun hari-harinya berdasarkan realitas yang ia hadapi. Di tengah jalan yang tidak sesuai rencana awal, ia tetap mencari cara agar keluarganya bisa bertahan.