Hukum & Kriminal

Bukan Sekadar Lukisan: Mural di Bandar Lampung Ini Menyimpan Kisah Polisi yang Gugur Melawan Curanmor

×

Bukan Sekadar Lukisan: Mural di Bandar Lampung Ini Menyimpan Kisah Polisi yang Gugur Melawan Curanmor

Sebarkan artikel ini
Bukan Sekadar Lukisan, Mural di Bandar Lampung Ini Menyimpan Kisah Polisi yang Gugur Melawan Curanmor Regional 17 Juni 2026
Ilustrasi: Bukan Sekadar Lukisan, Mural di Bandar Lampung Ini Menyimpan Kisah Polisi yang Gugur Melawan Curanmor

jurnalistik.co.id – Di tengah padatnya arus kendaraan di Jalan ZA Pagar Alam, Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, sebuah mural berukuran besar kini menjadi perhatian setiap orang yang melintas.

Bukan semata karena warna-warninya, mural ini menyimpan kisah tentang pengorbanan di lokasi yang sama ketika sebuah peristiwa tragis terjadi.

Mural tersebut berdiri tepat di tempat gugurnya Bripka Anumerta Arya Supena, anggota Direktorat Intelkam Polda Lampung, yang tewas ditembak saat berupaya menggagalkan aksi pencurian kendaraan bermotor pada Mei 2026.

Peristiwa itu masih membekas di ingatan warga, terutama karena Arya menjadi salah satu sosok yang berhadapan langsung dengan pelaku curanmor saat menjalankan tugas.

Menurut uraian yang berkembang di lokasi, Arya sedang melintas dan memergoki pelaku yang beraksi di area parkir sebuah toko.

Ia berusaha menghentikan aksi tersebut, namun upaya itu berakhir dengan dirinya ditembak hingga gugur dalam tugas.

Atas pengabdiannya, Kapolri kemudian memberikan kenaikan pangkat luar biasa anumerta kepada Arya Supena.

Di balik gambar-gambar yang terpampang, mural ini dibuat dengan narasi visual yang mengajak pengunjung membaca dua sisi cerita sekaligus.

Bidang kiri mural menampilkan seorang perempuan berhijab yang menggandeng dua anak laki-laki.

Sosok tersebut merepresentasikan istri dan kedua putra Arya Supena, digambarkan memandang ke arah Tugu Adipura serta lanskap Kota Bandar Lampung.

Penggambaran itu menekankan bahwa di balik setiap peristiwa kriminal, masih ada keluarga yang harus memikul duka dan melanjutkan hidup dengan segala konsekuensinya.

Sementara itu, pada bagian kanan mural, perhatian diarahkan pada momen yang merenggut nyawa Arya.

Sebuah siluet pelaku kejahatan divisualisasikan sedang mengarahkan senjata api ke arah korban.

Di samping ilustrasi tersebut, tertulis pesan sederhana namun kuat: β€œMari Bersama Menjaga Keamanan Untuk Keselamatan Kita Semua.”

Kalimat itu menjadi penutup yang mengikat keseluruhan pesan mural, dari pengingat kehilangan hingga ajakan untuk lebih waspada.

Mural ini dikerjakan oleh delapan seniman dari komunitas Nusantara Art Project.

Melalui karya mereka, lokasi yang dahulu menjadi saksi peristiwa memilukan bertransformasi menjadi ruang publik yang menyimpan pesan tentang keberanian, kehilangan, dan kepedulian terhadap keamanan bersama.

Perwakilan Nusantara Art Project, Edi Pop, mengatakan mural ini tidak hanya dibuat untuk mengenang sosok Arya Supena.

Lebih dari itu, mural juga menghadirkan pesan kemanusiaan dan edukasi bagi masyarakat yang melihatnya.

Dengan penempatan mural di titik kejadian, karya tersebut hadir bukan sebagai gambar semata, melainkan sebagai pengingat yang terus berbicara kepada publik setiap hari.

Melalui kombinasi visual keluarga dan gambaran peristiwa, mural tersebut mengajak setiap orang untuk memahami bahwa keselamatan tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan tanggung jawab bersama.

Di tengah ruang kota yang terus bergerak, mural ini tetap berdiri sebagai penanda.

Ia mengemban memori atas keberanian Bripka Anumerta Arya Supena, sekaligus membawa seruan menjaga keamanan demi keselamatan semua pihak.

Melalui penyusunan elemen visual yang terarah, karya ini seolah meminta warga berhenti sejenak ketika melewati kawasan tersebut. Setiap detail pada sisi keluarga mengajak pengunjung membayangkan sosok yang ditinggalkan, lengkap dengan ruang kota yang menjadi latar Tugu Adipura, sekaligus memperlihatkan bahwa duka tidak muncul sendirian.

Pada saat yang sama, bagian lain mural menampilkan kontras yang tegas tentang ancaman kriminalitas. Ilustrasi siluet pelaku yang mengarahkan senjata api menjadi pengingat bahwa keselamatan dapat berubah dalam hitungan momen, sehingga pesan ajakan menjaga keamanan diposisikan sebagai refleksi bersama, bukan sekadar slogan.

Gagasan tersebut juga diperkuat oleh keterlibatan delapan seniman dari Nusantara Art Project, yang menjadikan lokasi kejadian sebagai ruang publik berisi narasi. Menurut Edi Pop, mural ini dirancang untuk tidak berhenti pada unsur penghormatan, melainkan mengalir menjadi edukasi agar masyarakat lebih peka terhadap tanggung jawab keamanan di lingkungan sehari-hari.