jurnalistik.co.id – Pelaksanaan Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, hingga saat ini masih belum berjalan. Bangunan dapur yang telah selesai dibangun sejak sekitar empat bulan lalu itu belum terlihat digunakan untuk penyiapan makanan.
Bangunan tersebut sebelumnya dikenal sebagai tempat belajar bagi ratusan pelajar. Kini fungsinya dialihkan menjadi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan nama Yayasan Dhanapati Agung Wijaya Kedaton, yang tertera dengan nomor registrasi #014.
Lokasi dapur berada di Jalan Kelinci Nomor 262, Kelurahan Kedaton. Dari tampilan di bagian luar, bangunan disebut sudah siap digunakan, termasuk ketersediaan peralatan serta fasilitas penunjang seperti sumur bor.
Namun, sampai Kamis (30/7/2026), belum terlihat aktivitas yang mengarah pada proses menyiapkan makanan untuk program MBG. Padahal, di wilayah tersebut sejumlah warga telah mendaftarkan diri untuk bekerja, sehingga keterlambatan operasional turut memengaruhi harapan mereka.
Warga sekitar, Wardi, mengatakan pembangunan dapur sudah rampung sekitar tiga hingga empat bulan lalu. Ia menilai, sejumlah perlengkapan tampak sudah tersedia, termasuk sumur bor.
“Sudah sekitar tiga atau empat bulan dapur ini selesai dibangun. Kayaknya sudah lengkap alat-alatnya, sumur bor juga sudah ada,” kata Wardi kepada Kompas.com.
Wardi menyebut warga sempat antusias dengan keberadaan dapur MBG karena ada harapan memperoleh pekerjaan. Akan tetapi, hingga waktu yang berjalan, belum ada pembukaan operasional yang membuat warga yang sudah mendaftar kembali harus menunggu.
“Iya, banyak orang sini yang daftar mau kerja. Tapi enggak tahu juga kenapa belum buka. Sayang banget,” ujarnya.
Meski belum beroperasi pada siang hari, Wardi mengatakan di dalam bangunan masih ada aktivitas pada malam hari. Ia mengaku melihat ada pihak yang berjaga, meski ia tidak mengenal orang yang berada di lokasi tersebut secara dekat.
Berita Terkait
“Kalau malam ramai kok, di dalam ada yang jaga. Tapi saya enggak begitu kenal. Masuknya lewat pintu belakang,” kata dia.
Sementara itu, warga lain, Sutrisno, menjelaskan bahwa bangunan tersebut sebelumnya merupakan kompleks SMP-SMA PGRI 4. Menurutnya, lokasi itu kemudian disewa dan dialihfungsikan menjadi dapur MBG.
“Dulu itu bekas bangunan SMP-SMA PGRI 4, terus disewa orang buat dapur MBG. Tapi enggak tahu kenapa sampai sekarang belum beroperasi,” ujar Sutrisno.
Ia menambahkan, warga di sekitar masih menunggu kabar terkait pembukaan dapur tersebut. Banyak warga yang sebelumnya mendaftar pekerjaan di lokasi itu kini berada dalam posisi menunggu, tanpa kepastian kapan dapur benar-benar mulai digunakan.
“Orang sini sudah banyak yang daftar buat kerja di sana. Sudah pada nunggu, bingung juga enggak buka-buka kenapa,” katanya.
Dengan kondisi bangunan yang dinilai sudah siap dari sisi fasilitas, belum beroperasinya dapur SPPG bernomor registrasi #014 di Kedaton menjadi perhatian warga setempat. Bagi mereka, keterlambatan operasional bukan hanya soal aktivitas memasak yang belum terlihat, tetapi juga soal penantian terhadap peluang kerja yang sudah mereka daftarkan.
Hingga laporan ini disusun pada 30/7/2026, dapur MBG tersebut belum memperlihatkan proses penyiapan makanan, sementara warga yang terdaftar masih menunggu kapan kegiatan akan dimulai.
Menurut pengamatan warga setempat, pergantian fungsi dapur tidak otomatis diikuti dengan pembukaan operasional. Meski bangunan sudah tampak siap dan perlengkapan disebut tersedia, proses yang lazim terlihat saat penyiapan makanan—mulai dari aktivitas dapur sampai alur pengolahan bahan—belum juga muncul di waktu siang.
Wardi dan Sutrisno sama-sama menekankan bahwa penantian tersebut memengaruhi warga yang sudah lebih dulu mendaftar untuk bekerja. Mereka berharap ada kejelasan jadwal atau informasi pembukaan layanan, sehingga orang-orang yang menunggu tidak terus berada dalam kondisi tanpa kepastian, terutama ketika fasilitas di lokasi dinilai sudah tersedia dan tinggal dijalankan.












