Internasional

Buruh menaruh harapan pada Andy Burnham untuk memulai ulang, menjelang gebrakan kebijakan

×

Buruh menaruh harapan pada Andy Burnham untuk memulai ulang, menjelang gebrakan kebijakan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Labour pins hopes on Andy Burnham reboot as he plans policy blitz

jurnalistik.co.id – Di akhir pekan ini, Andy Burnham tengah mendekati salah satu momen paling menentukan dalam karier politiknya. Jalan menuju Downing Street yang selama ini ia impikan kini mulai terbuka, menyusul proses serah-terima pemerintahan yang berjalan semakin cepat.

Seorang pendukung Burnham menggambarkan perjalanan menuju posisi pemimpin itu sebagai sesuatu yang terasa lama, namun mendekat dalam waktu singkat. “16 years we’ve been thinking about this, and it’s still felt like a rush in the last few weeks,” katanya, menekankan bahwa harapan itu dibangun bertahap sebelum akhirnya bergerak cepat.

Kisah Burnham ke titik ini memang berlangsung perlahan, lalu berakselerasi dalam waktu yang tidak lama. Sekitar 2010, niatnya untuk memimpin sudah mulai terlihat secara lebih terbuka. Setelah kekalahan Partai Buruh pada pemilihan umum tahun itu, ia maju untuk memperebutkan kursi yang sebelumnya ditinggalkan Gordon Brown.

Langkah serupa ia jalankan pada 2015, ketika partainya kembali kalah. Pada dua kesempatan tersebut, Burnham tidak berhasil. Pada 2015, ia kalah dari Ed Miliband, sementara pada 2017 dan 2019 ia kembali tersingkir, kali ini oleh Jeremy Corbyn.

Tahun 2026 kemudian dipandang sebagai kesempatan ketiga bagi Burnham. Meski begitu, hingga awal Januari ia masih terhalang untuk menjadi kandidat Partai Buruh dalam sebuah pemilihan anggota parlemen. Situasi itu berubah setelah Keir Starmer, pihak yang sebelumnya menghalanginya, kini justru bersiap meninggalkan Downing Street.

Starmer dan keluarganya dijadwalkan meninggalkan kediaman pada Senin pagi. Di dalam internal Buruh, pergantian kepemimpinan ini menimbulkan harapan bahwa “reboot” yang dipimpin Burnham bisa membawa partai kembali bersaing dalam arena politik.

Langkah serah-terima yang mengarah pada “blitz” kebijakan

Proses penggantian pemimpin tidak melalui tantangan terbuka. Tidak ada kontestasi resmi untuk menggantikan Starmer setelah ia mundur, dan tidak ada pihak yang maju untuk mengambil alih. Karena itu, banyak pihak di tim Burnham sempat memperkirakan persiapan yang lebih panjang, namun kenyataannya justru terasa terburu-buru.

Dalam beberapa hari terakhir, disebutkan pembicaraan yang disebut “access talks” terus berlanjut. Burnham dan timnya berkomunikasi dengan layanan sipil mengenai rencana pemerintahan, termasuk rangkaian agenda awal pekan depan maupun langkah-langkah sesudahnya.

Indikasinya, pemerintahan baru ingin segera bergerak. Mereka menyiapkan serangkaian kemunculan publik dan pengumuman yang padat pada hari-hari awal masa jabatan, seolah menjalankan “blitz” dalam waktu singkat.

Sementara itu, Perdana Menteri berikutnya juga mulai menerima pengarahan terkait keamanan nasional. Dengan demikian, walau proses serah-terima sudah berjalan lebih lama, penguatannya memasuki fase yang lebih intens menjelang Senin.

Susunan tim puncak dan pekerjaan rumah yang menumpuk

Ketika Burnham menjadi pemimpin Partai Buruh, ia pernah menyampaikan pernyataan yang terdengar tegas: “I haven’t made any decisions yet about who will be in that top team.” Namun saat ditanya lebih lanjut apakah ia benar-benar belum memutuskan atau sebenarnya sudah tahu namun memilih menahan pengumuman hingga minggu berikutnya, ia mengatakan bahwa ia sedang “finalising those decisions.”

Ini akhir pekan untuk “finalising” itu. Ada pertanyaan besar yang langsung menarik perhatian publik—siapa yang akan menjadi kanselir. Namun, di balik itu, masih banyak penempatan jabatan lain yang harus dibereskan dalam waktu yang tidak lebar.

Menurut Institute for Government, terdapat 149 jabatan menteri yang dipegang oleh 122 orang. Artinya, urusan komposisi bukan sekadar memindahkan nama, melainkan menyusun ulang struktur jabatan yang saling terkait.

Sejumlah pihak juga menganggap proses penentuan peran sebagai bagian dari dinamika politik yang rumit. Di sisi lain, pilihan siapa yang mengisi posisi tersebut akan membentuk arah, gaya, dan nada pemerintahan. Dalam praktiknya, ini digambarkan sebagai permainan “organizational jenga”, tempat perdana menteri dan timnya harus memperhitungkan politik, gender, lokasi geografis, serta pengalaman.

Sejumlah menteri kabinet yang sedang menjabat pun disebut masih berada dalam ketidakpastian dan tidak diberi gambaran penuh. Mereka yang berharap bisa bertahan melakukan argumentasi privat mengenai pentingnya stabilitas dan kesinambungan. Namun, ada juga yang sudah menerima bahwa mereka akan berakhir di luar struktur pemerintahan berikutnya.

Partai kembali tersenyum, tetapi tantangan tetap menunggu

Di tengah proses ini, ada “catatan manusia” yang menonjol: Partai Buruh seperti mengingat cara tersenyum kembali. Banyak yang menginginkan—dan hampir berharap—dengan perubahan kepemimpinan ini, partai bisa kembali masuk ke pertandingan politik.

Di dalam suasana itu, seorang anggota parlemen terlihat menggenggam botol air sambil tersenyum lebar. Ia menyebut, “think of this as a hydration break!”—sebuah isyarat yang mengarah pada nuansa sepak bola dan kebiasaan penonton yang sedang menyesuaikan diri dalam ajang besar.

Partai juga memutuskan mengubah taktik sebelum paruh waktu masa parlemen ini berakhir, dengan melakukan semacam “substitusi” yang dianggap kunci. “Kapten” baru mereka, Andy Burnham, menampilkan ambisi yang tinggi dengan mengklaim bahwa ia akan mewujudkan “the most significant change” in our politics in 40 years.

Untuk saat ini, semangat Burnham menghadapi pekerjaan berat dinilai tampak nyata. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah perhatian pada layanan perawatan sosial di Inggris. Namun, tantangan yang rumit itu tidak akan berhenti pada tahap retorika.

Pada Senin, pekerjaan berat akan terlihat di mana pun Burnham menoleh—di dalam negeri maupun di luar batas negara. Pertanyaan yang lebih besar kemudian muncul: sejauh mana “Burnham” bisa bertahan ketika berhadapan langsung dengan realitas memerintah.

Apakah karisma yang mudah, yang selama ini membuatnya tampak santai dan akrab, cukup kuat menghadapi fase pemerintahan yang lebih keras? Dan apakah ia mampu memenuhi janji yang terdapat dalam manifesto Partai Buruh dua tahun lalu, sehingga senyum yang mulai kembali tumbuh bisa benar-benar beralasan.

Dalam konteks yang lebih luas, ini merupakan perdana menteri kelima dalam empat tahun. Jabatan seperti ini, dalam beberapa periode terakhir, terasa memiliki tingkat keamanan kerja yang menipis. Meski demikian, publik yang tidak sabar tetap mengamati dan menunggu, menilai seberapa cepat pemerintahan baru bisa memberikan hasil nyata.