jurnalistik.co.id – Casey Stoner baru menjalani tindakan medis besar pada awal 2026 untuk mengatasi keluhan punggung yang sudah ia bawa jauh sebelum era kepensiunnya dari MotoGP. Dalam pengakuannya, masalah itu tidak sekadar datang sesaat, melainkan menetap dan perlahan menjadi makin sulit ditangani.
Stoner, pebalap asal Australia yang dua kali menjuarai MotoGP, menyampaikan bahwa operasi dilakukan setelah rasa sakitnya berulang kali muncul, sampai akhirnya ia merasa tidak punya pilihan lain. Ia menegaskan bahwa proses menuju keputusan operasi berlangsung bertahun-tahun.
Balap motor dikenal sebagai olahraga berisiko tinggi, dan cedera yang dialami atlet tidak selalu berhenti saat masa pemulihan selesai. Pada kasus Stoner, benturan yang terjadi di lintasan justru meninggalkan dampak jangka panjang yang baru memuncak bertahun-tahun kemudian.
“Hari ini tepat tiga bulan sejak saya menjalani operasi fusi tulang belakang L5-S1 dan penggantian cakram L4-5,” tulis Stoner dalam unggahannya di Instagram, sebagaimana dikutip pada Sabtu (25/7/2026). Ia menggambarkan bahwa operasi tersebut menjadi titik akhir dari upaya bertahun-tahun untuk hidup dengan kondisi yang terus memburuk.
Stoner menyebut cedera itu berawal dari kecelakaan pada 2003, ketika ia mengalami insiden saat membalap di Kejuaraan Dunia 125cc. Ia menempatkan awal mula masalahnya pada momen benturan keras yang, menurut ceritanya, memberi tekanan langsung pada tulang belakang.
Ia menceritakan bahwa ketika kecelakaan terjadi, ia “menghantam tumpukan jerami” dengan posisi kepala lebih dulu. Benturan itu, kata Stoner, membuat tulang belakangnya mengalami tekanan, dan rasa sakit tersebut tidak benar-benar hilang meski ia tetap mampu melanjutkan karier saat itu.
Menurut Stoner, ia masih bisa menjalani tahapan karier yang panjang hingga meraih berbagai pencapaian, termasuk menjadi juara dunia MotoGP. Namun, di balik kemampuan untuk tampil, keluhan tersebut tetap ada dan terus menjadi beban yang akhirnya menuntut perhatian medis lebih serius.
Ia menuturkan bahwa lebih dari 20 tahun ia berusaha mengatasi masalahnya sebaik mungkin. Dalam kurun tersebut, ia tetap menanggung kondisi yang membuatnya tidak benar-benar bisa lepas dari rasa sakit, sampai akhirnya terjadi perubahan signifikan pada tahap-tahap terakhir.
Berita Terkait
“Dalam beberapa tahun terakhir, terutama enam bulan terakhir, rasa sakitnya menjadi tidak tertahankan,” ujar Stoner. Ia menyatakan bahwa meningkatnya intensitas keluhan itulah yang mendorongnya sampai pada kesimpulan bahwa tindakan operasi adalah satu-satunya jalan.
Setelah menjalani prosedur fusi di L5-S1 serta penggantian cakram L4-5, Stoner mengaku merasakan perbedaan pada kondisi punggungnya. Ia menyebut bahwa meskipun pemulihan tetap tidak selalu berjalan mulus, secara keseluruhan punggungnya kini terasa jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Stoner juga menekankan bahwa proses pemulihan memiliki pasang surut, namun ia menilai hasil akhirnya lebih positif dari apa yang ia rasakan selama bertahun-tahun. Menurutnya, kondisi punggung belum pernah terasa sebaik ini selama yang ia ingat.
Kisah Stoner memberi gambaran bahwa cedera di lintasan tidak selalu berakhir ketika seorang atlet pulih atau berhenti berlaga. Dampak yang muncul bisa menjalar dalam waktu lama, dan pada beberapa kondisi baru membutuhkan penanganan medis saat rasa sakit makin berat.
Dengan selesainya operasi pada awal 2026, Stoner menutup bab yang panjang dari keluhan yang dimulai sejak 2003. Melalui pengakuannya, ia memperlihatkan bahwa keputusan medis besar datang ketika upaya menghadapi kondisi selama bertahun-tahun akhirnya tidak lagi cukup.
Bagi Stoner, momen memilih tindakan medis besar bukan terjadi tiba-tiba, melainkan berangkat dari akumulasi kondisi yang makin menyulitkan hari ke hari. Ia menggambarkan bahwa berbagai upaya yang dijalani sebelumnya tetap tidak menghadirkan rasa lega yang benar-benar menetap.
Ia juga menyoroti bahwa perjalanan pasca-prosedur tidak sepenuhnya lepas dari tantangan. Meski begitu, ia menilai setiap perkembangan yang muncul tetap mengarah ke perbaikan dibanding periode panjang ketika keluhan terus hadir dan mengganggu.
Dengan demikian, pengalamannya menjadi penanda bahwa olahraga berisiko tinggi bisa meninggalkan konsekuensi yang baru terasa ketika waktu berjalan. Pada kasus Stoner, penanganan yang ditempuh sejak awal 2026 dipandang sebagai langkah penentu untuk mengakhiri rangkaian masalah yang sudah ia bawa sejak awal 2000-an.












