jurnalistik.co.id – China disebut memperlambat persetujuan pengiriman pesawat Airbus SE ke negaranya sebagai sinyal ketidaksabaran atas lamanya proses sertifikasi pesawat buatan Comac oleh regulator Eropa. Langkah itu, menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini, menjadi cara Beijing menunjukkan bahwa proses pengakuan terhadap produk penerbangan dalam negeri mereka belum bergerak secepat yang diharapkan.
Selama beberapa bulan terakhir, Administrasi Penerbangan Sipil China menunda persetujuan akhir yang dibutuhkan agar jet Airbus bisa masuk ke China dan kemudian dioperasikan. Para sumber yang meminta namanya tidak disebutkan karena membahas informasi rahasia itu mengatakan, penundaan tersebut bukan sekadar urusan administratif biasa, melainkan bagian dari pesan yang lebih luas kepada pihak Eropa.
Di sisi lain, lambatnya proses itu ikut menekan arus pengiriman Airbus ke pasar China. Airbus bahkan mencatat pengiriman jet komersial paling sedikit pada kuartal pertama sejak 2009, dan perusahaan menyebut salah satu penyebabnya adalah masalah administratif yang menghentikan hampir 20 pesawat untuk dikirim ke China. Dengan kata lain, hambatan ini bukan hanya memengaruhi jadwal satu atau dua armada, tetapi juga berdampak pada capaian pengiriman perusahaan secara keseluruhan.
Hubungan antara persetujuan pengiriman Airbus dan sertifikasi Comac memperlihatkan bagaimana proses regulasi bisa menjadi instrumen yang sensitif dalam persaingan industri penerbangan. Dari sudut pandang China, lamanya proses sertifikasi yang dilakukan regulator Eropa terhadap pesawat buatan Comac tampak memunculkan respons balasan di jalur yang sama, yakni dengan membuat proses masuknya pesawat Airbus ke pasar China berjalan lebih lambat dari biasanya.
Pesawat Comac C919 sendiri tengah menjadi sorotan dalam upaya China membangun alternatif untuk pasar pesawat komersial yang selama ini didominasi produsen Barat. Karena itu, sertifikasi dari regulator Eropa menjadi penting, bukan hanya untuk menunjukkan daya saing teknis pesawat tersebut, tetapi juga untuk membuka jalan yang lebih luas bagi penerimaan di luar negeri. Lambannya sertifikasi itu, sebagaimana digambarkan sumber-sumber tersebut, ikut memicu kegelisahan di pihak China.
CEO Airbus Guillaume Faury pada bulan lalu memperkirakan bahwa pengiriman akan kembali sesuai rencana pada akhir Juni. Namun, ia menolak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hambatan yang membuat pengiriman sempat tertahan, sehingga pasar masih harus membaca perkembangan ini dari petunjuk-petunjuk yang muncul di lapangan. Pernyataan itu memberi sinyal bahwa Airbus masih berharap jadwal pengiriman bisa pulih, meski gangguan administratif di China sempat mengganggu ritme bisnis perusahaan.
Sampai sejauh ini, penjelasan yang tersedia masih berpusat pada hambatan administratif dan belum memunculkan rincian tambahan dari pihak-pihak terkait. Situasi tersebut membuat pengiriman Airbus ke China tetap menjadi bagian penting dari perhatian industri penerbangan, terutama karena persetujuan akhir di sisi China berhubungan langsung dengan kelancaran operasional pesawat yang sudah siap dikirim. Di saat yang sama, proses sertifikasi Comac oleh regulator Eropa juga belum bergerak secepat yang diharapkan Beijing.
Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini menunjukkan bahwa proses sertifikasi pesawat tidak selalu berdiri sendiri sebagai urusan teknis. Ketika kepentingan industri, kebijakan perdagangan, dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri bertemu, keputusan administratif bisa berubah menjadi alat tekan yang dampaknya terasa sampai ke rantai pengiriman dan target produksi. Bagi Airbus, penundaan itu berarti jeda yang tidak diinginkan di salah satu pasar pentingnya, sedangkan bagi China, langkah tersebut tampak menjadi cara untuk mengirim pesan bahwa mereka tidak ingin proses terhadap Comac dibiarkan berlarut-larut tanpa respons.












