jurnalistik.co.id – Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menjelaskan alasannya tidak hadir di Stadion Azteca saat laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan. Dalam konferensi pers pada Jumat (12/6/2026), ia mengatakan pilihan itu berkaitan dengan harga tiket yang dinilai terlalu mahal bagi banyak warga.
Sheinbaum mengaku memutuskan untuk tidak memakai tiket Piala Dunia 2026 yang menjadi haknya. Ia menyampaikan bahwa sebagai presiden, ia lebih memilih memberikan tempatnya kepada orang yang tidak bisa datang, sekaligus merayakannya bersama masyarakat secara gratis.
“Tiket stadion sangat mahal,” kata Sheinbaum. Ia menambahkan, “Sebagai presiden, lebih baik saya memberikan tempat saya kepada seseorang yang tidak bisa datang, yang mencintai sepak bola, terutama seorang wanita muda, dan saya dapat merayakannya bersama rakyat secara gratis,” terangnya.
Menurut Sheinbaum, harga tiket membuat akses pertandingan menjadi sulit bagi sebagian besar masyarakat. Ia menilai hanya sedikit orang yang mampu membayar tiket dengan besaran tersebut.
“Sangat sedikit orang yang mampu membayar tiket dengan harga tersebut,” tambahnya. Ia menyebut harga tiket Piala Dunia 2026 di Meksiko menjadi perhatian karena rata-rata mencapai 3.000 dolar AS (Rp53,4 juta).
Sheinbaum menyatakan bahwa perbedaan kemampuan membayar tersebut menjadi pertimbangan saat ia memilih untuk menonton di luar stadion. Ketika laga pembuka berlangsung pada Kamis (11/6), ia memilih menyaksikan pertandingan di luar Stadion Azteca.
Ia menonton kemenangan Meksiko atas Afrika Selatan bersama ratusan warga di salah satu titik nonton bersama di ibu kota negara tersebut. Sementara itu, tiket presidennya akhirnya disalurkan kepada pihak lain.
Tiket Piala Dunia 2026 milik presiden Meksiko kemudian diberikan kepada Yolett Cervantes Cuaquehua. Cervantes merupakan atlet muda dari komunitas Nahua di Veracruz, dan ia memperoleh kesempatan menyaksikan pertandingan dari area VIP.
Cervantes dipilih melalui kontes nasional yang diselenggarakan pemerintah Meksiko. Ia juga berkesempatan menyaksikan laga langsung dan berhasil mengungguli sekitar 1.000 finalis lain dari berbagai daerah di Meksiko.
Publik kemudian tertarik pada cerita Cervantes setelah video viral yang memperlihatkannya mengenakan pakaian tradisional sambil memainkan bola sepak tanpa alas kaki. Dalam video itu, Cervantes menceritakan awal ketertarikannya pada sepak bola.
Ia mengatakan, “Sekembalinya ke rumah, saya jatuh cinta pada sepak bola, dan pada saat itu saya melupakan puisi,”. Cervantes menuturkan bahwa pada usia delapan tahun, ia memenangkan lomba puisi tingkat negara bagian dengan hadiah berupa perjalanan ke Spanyol untuk menonton pertandingan sepak bola.
Ia juga menjelaskan proses latihannya sejak kecil. “Ayah saya melatih saya selama empat tahun. Setelah dua tahun, saya bisa memainkan bola 3.000 hingga 4.000 kali.”
Dalam kesempatan lain, Sheinbaum menyebut kontes tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong keterlibatan perempuan muda dalam dunia olahraga. Ia menyampaikan hal itu ketika mengumumkan program pada Maret lalu.
Sheinbaum mengatakan, “Selama bertahun-tahun, pintu tertutup bagi kami – mencegah kami menjadi wasit, pemain sepak bola, komentator, atau pembawa acara olahraga,”. Ia menambahkan, “Hari ini, kami ingin membuka pintu-pintu itu bagi perempuan dan hak-hak mereka, sehingga mereka dapat menjadi apa pun yang mereka inginkan dan memiliki setiap kesempatan untuk mencapainya.”
Bagi Sheinbaum, penyaluran tiket kepada Cervantes sekaligus menjadi simbol dari kesempatan yang ingin dibuka bagi perempuan muda. Melalui keputusan tersebut, ia mengaitkan persoalan akses tiket yang dinilainya mahal dengan upaya memberi ruang bagi seseorang yang mencintai sepak bola.












