jurnalistik.co.id – Madias Ngake akan kembali berlaga di ajang multi-cabang bergengsi bersama Inggris pada Commonwealth Games Glasgow 2026. Perjalanan atlet angkat besi kelahiran Kamerun ini tidak hanya soal prestasi, melainkan pilihan hidup yang membawanya melewati waktu panjang dan perubahan besar.
Kisahnya bermula ketika ia menantikan kabar yang sebenarnya sudah lama tertunda. Sekitar 5.000 mil dari rumahnya di Kamerun, Ngake menduga di sebuah laci yang bukan miliknya tersimpan medali Olimpiade—medali yang ia terima tujuh tahun setelah London 2012, karena tiga lifter yang finis di atasnya dinyatakan diskualifikasi akibat pelanggaran doping.
Namun, sejak pertama kali mendarat di Inggris, Ngake tidak pernah kembali ke tanah kelahirannya selama 14 tahun. Ia kini berbasis di Nottingham, dan awalnya tidak berniat tinggal lebih lama, sebelum keputusan yang mengubah hidupnya terasa seperti satu-satunya jalan untuk mendapatkan “safety and freedom” dari penganiayaan.
Dalam London 2012, orientasi seksualnya menjadi diketahui. Di Kamerun, homoseksualitas dinyatakan ilegal dan dapat berujung hukuman penjara. Pada usia 20 tahun kala itu, rasa takut yang ia sebut “fear” untuk keselamatan dirinya mendorong Ngake menghilang dari kamp atlet.
Ia menceritakan, “After I finished competing in 2012, staying was not easy, but I had to take a decision for my safety, for my future, because I saw I did not have a future any more in Cameroon.” Ia juga menambahkan alasannya secara gamblang, “I’m a lesbian, I love women and it’s not allowed in Cameroon. I had to stay here for me to have a good future, good life and not hurt myself if I decide to have a girlfriend.”
Meski pada akhirnya ia memperoleh perlindungan, bulan-bulan berikutnya jauh dari “glamourous” saat Olimpiade. Dengan tidak punya teman, tidak memiliki rumah, dan tidak ada uang, Ngake menjalani banyak waktu di jalan.
Tahun bergulir hingga 14 tahun setelah London 2012, Ngake mendapat kesempatan kembali tampil di panggung besar. Commonwealth Games kali ini ia sambut sebagai “remarkable return” untuk Inggris, negara yang kemudian menjadi tempat tinggalnya.
“This moment means a lot to me,” kata Ngake, yang meraih medali perunggu Eropa untuk Inggris Raya lebih awal tahun ini. “For Team England to have given me this second opportunity, it is amazing.”
Dari masa kecil yang sarat tantangan hingga kerja kebersihan
Ngake lahir di Douala, kota terbesar di Kamerun, sekitar 200 mil di sebelah barat Yaounde. Ia enggan terlalu memikirkan detail masa itu, tetapi ia menggambarkan bahwa sejak kecil ada “challenges”, banyak tantangan.
Lewat olahraga—khususnya angkat besi—ia menemukan bakat yang dapat mengangkat hidupnya. Ia tidak hanya berharap sukses personal, tetapi juga perubahan yang lebih luas, termasuk mendorong cara pandang baru tentang olahraga putri di Kamerun dengan menampilkan kekuatan perempuan.
Pada Commonwealth Games Delhi 2010, saat masih berusia 18 tahun, Ngake memberi gambaran tentang potensi tersebut. Ia finis keempat dengan total yang sama dengan peraih medali perunggu India, Laishram Devi, tetapi terlepas dari podium karena bobotnya lebih tinggi dari lawan.
Meski pertandingan berakhir dengan momen yang mengejutkan, kebanggaan tetap tersisa. Ia sempat jatuh pingsan beberapa saat setelah sukses mengangkat 121kg dan laga itu berakhir ia dibawa di tandu. “Not just anybody can qualify for a Commonwealth Games,” katanya sambil tersenyum. “It means you’re strong and, can I say, special?”
Dengan sumber daya yang terbatas—di tambah laporan luas soal skandal korupsi yang menimpa beberapa federasi internasional di Kamerun—mengikuti kompetisi lintas negara menjadi sangat sulit. Akibatnya, Ngake masuk ke London 2012 dengan peringkat yang relatif rendah sehingga ditempatkan di B Final, bersama atlet yang tidak dianggap punya peluang medali.
Tetapi ia tidak sekadar memenangkan B Final. Ngake mengangkat jauh lebih besar dibanding banyak lifter di divisi “elite”, dan akhirnya menempati peringkat keenam secara keseluruhan. Ia menganggap capaian itu “amazing” jauh sebelum hasil dan klasemen diperbarui.
Perayaan tidak sempat menjadi bagian dari rencana. Setelah memutuskan untuk bertahan, ia mengingat bahwa kadang ia tidur di atas bus. Ketika bus berhenti untuk malam, ia memilih tidur di luar. Untuk mandi, ia mengatakan, “When I wanted to have a shower, I would maybe find a place outside, in public, so to change myself was not too easy.”
Situasi itu berlangsung sekitar dua bulan sebelum Ngake mengajukan permohonan suaka secara resmi. Ia kemudian mendapat akomodasi sementara selama kasusnya ditinjau, dan pada periode itu Olimpiade maupun olahraga bukan lagi fokusnya. Ia hanya berusaha menemukan cara agar Inggris bisa menjadi rumah.
Berita Terkait
Baru setelah hampir lima tahun, ia mampu mengurus dokumen yang tepat untuk mendapatkan pekerjaan tetap berbayar. Langkah awalnya memang dari bawah, tetapi ia bersyukur memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan.
“At first, I was an office cleaner and yes, that was my full-time job for nine years,” tuturnya. Ia pernah berada di Leeds, lalu pindah ke Nottingham. Dalam rentang waktu panjang itu, ia tidak memikirkan olahraga yang dulu ia cintai—hingga akhirnya berubah.
Kebangkitan karier dan peluang baru menuju Glasgow
Perubahan itu datang empat tahun lalu. Setelah Durban dicabut haknya menjadi tuan rumah Commonwealth Games 2022 karena gagal memenuhi target kunci atau menyediakan jaminan finansial, Birmingham menggantikan posisi tersebut.
Dengan begitu, beberapa rekan setimnya dan pelatih dari Kamerun turut kembali ke Inggris. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Ngake berani membuka pikirannya lagi pada angkat besi.
Ia menceritakan, “One of my coaches was still with the team, travelling over for Birmingham 2022 and after he came to stay with me and kept pushing me to start again.” Ngake mengakui bahwa ia sempat berhenti total, tetapi dorongan itu membuatnya kembali mengangkat palang. “I’d stopped everything, but he encouraged me and when I did lift a bar again, yes, it felt so natural, it felt right and that was very exciting.”
Tahun berikutnya, Ngake meraih emas di British International. Dalam 12 bulan selanjutnya, ia kembali ke panggung internasional dan mencapai tonggak besar pertamanya dalam karier: perak pada nomor snatch di Kejuaraan Dunia 2024 untuk Great Britain.
Karena telah menjadi atlet naturalisasi dan punya rekam peluang meraih medali di ajang besar, ia kemudian berhak mendapatkan dukungan dari UK Sport. Dukungan itu datang dan memberinya kesempatan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan, lalu fokus menjadi atlet sepenuh waktu.
Prestasi Eropa pun menyusul. Kini, menuju Commonwealth Games kedua, tepat 16 tahun setelah debutnya di India, Ngake melangkah sebagai unggulan utama di kelas putri 86kg.
Ia juga akan berkompetisi bersama Cyrille Tchatchet II. Atlet asal Kamerun yang kemudian menjadi bagian dari Team England ini ikut dalam daftar skuad dan akan tampil emosional di Skotlandia pada pekan yang sama. Tchatchet II mencari suaka setelah berkompetisi pada Commonwealth Games Glasgow 2014.
Pesan tentang suaka dan target berikutnya
Kisah mereka memang luar biasa, tetapi mereka sadar tidak semua orang memiliki pandangan positif terhadap pencari suaka. Ngake menyampaikan sikapnya sendiri tentang orang-orang dari luar yang ingin tinggal di Inggris.
“Some people come here, apply for asylum seeker and they are very good people, but some are not good, so there is a mix,” katanya. “I’m not going to say I’m good or bad, but I work here for a very long time, I pay tax and for me, if you want to apply for asylum seeker [status], you have to respect the law of this country.”
Ia menegaskan sikapnya soal aturan, “I didn’t come to this country and want to bring my laws from Cameroon to England. No, that’s not good and that’s why we have a lot of problems. For me, if you want to live here, you have to respect the country and you have to love this country, that’s why you stay.”
“For me, I love this country and it would be amazing to win a Commonwealth medal for this country. Maybe a Commonwealth gold,” ujarnya disertai senyum. “That’s my goal to do my best and win that gold medal.”
Ngake juga ingin menambah capaian yang sebelumnya ia dapatkan di London 2012, yaitu perunggu Olimpiade. Medali itu—yang menjadi medali Olimpiade keenam Kamerun sepanjang sejarah—masih tersimpan di negara asal kelahirannya.
“The best thing for me would be to go back to Cameroon and take the medal, but I don’t want to go back because of the politics there,” katanya. Akan tetapi, Commonwealth Games bukan penutup targetnya.
Ia juga menatap peluang untuk lolos ke Olimpiade Los Angeles 2028. “Very challenging, but [it would be] very, very special,” kata Ngake. Kali ini, medali yang ia bayangkan adalah yang bisa ia genggam langsung—bukan sesuatu yang harus disembunyikan di dalam laci.












