jurnalistik.co.id – Maria Bernadeth Latifah Oetama dikenang sebagai sosok perempuan kuat yang tidak pernah lepas mendoakan keluarganya. Bagi cucu dan anak-anaknya, doa-doa itu menjadi bagian penting dari kehidupan Latifah semasa hidup.
Latifah adalah istri dari pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama. Dalam kenangan keluarga, ia disebut sebagai pribadi yang selalu memikirkan kelancaran urusan orang-orang terdekatnya, terutama saat menghadapi momen-momen penting.
Cucu Latifah, Maria Setiamuliati Putri Majapahit (33), mengatakan sang nenek selalu membawa doa untuk keluarga besar, termasuk Jakob. Doa itu tidak hanya dipanjatkan pada kesempatan tertentu, tetapi juga dilakukan setiap hari.
“Sebenarnya setiap hari sih (berdoa), tapi kalau lagi ada momen-momen khusus, kayak misalnya kerjaan kakek mungkin lagi susah, atau anak-anaknya mungkin lagi ada ujian, nenek berdoa demi kelancaran keluarganya. Jadi itu yang kita taruh. She was a very spiritual woman,” ujar Maria ditemui usai prosesi penutupan peti di rumah duka, Kamis.
Maria juga membawa Alkitab dan rosario yang biasa digunakan Latifah untuk berdoa ke dalam petinya. Benda-benda itu menjadi simbol kedekatan Latifah dengan doa yang selama ini ia jalani dalam keseharian.
Kehangatan di balik sosok yang kuat
Di mata keluarga, Latifah bukan hanya dikenal sebagai perempuan yang tekun berdoa, tetapi juga sosok yang sangat memperhatikan kebutuhan anak dan cucunya. Maria menyebut neneknya sebagai pribadi penyayang yang selalu hadir untuk keluarga.
“Dia sangat mencintai anak-anaknya dan cucu-cucunya. Dia juga sosok perempuan yang sangat kuat ya dengan berbagai macam hurdles, tantangan hidup. I look up to her for her resilience. That is what I carry with me and what my mother carries with me,” tutur Maria.
Baginya, keteguhan Latifah menjadi teladan yang ingin ia terus bawa. Dari sosok sang nenek, Maria merasa belajar tentang ketahanan, kelembutan, sekaligus keberanian menghadapi berbagai tantangan hidup.
Maria juga menilai ada kekuatan yang selama ini tidak banyak terlihat di balik kesuksesan Jakob Oetama. Menurut dia, di belakang Jakob selalu ada Latifah yang setia mendampingi dengan ketenangan dan sikap anggun.
“Di balik semua mungkin kesuksesan kakek, itu kekuatan nenek yang tidak terlihat ya, yang tidak orang tahu. Di belakang kakek itu ada nenek yang selalu ada, yang sangat anggun. She was a good fighter,” kata Maria.
Ucapan itu menggambarkan bagaimana keluarga memandang Latifah bukan sekadar sebagai pasangan pendiri Kompas Gramedia, melainkan sebagai penopang yang kuat dalam perjalanan hidup keluarga mereka.
Doa yang selalu menyertai keluarga
Hal serupa juga disampaikan putra sulung Latifah, Irwan Oetama. Ia mengatakan nama-nama anggota keluarga selalu disebut dalam doa yang dipanjatkan Latifah setiap hari.
Menurut Irwan, doa itu menjadi kebiasaan yang terus dilakukan sang ibu, terutama ketika Jakob menghadapi sakit atau persoalan di kantor. Pada saat-saat seperti itu, Latifah bahkan menyalakan lilin dan berdoa dengan khusyuk.
“Kalau Bapak sedang sakit atau ada masalah di kantor, beliau memasang lilin dan berdoa. Beliau menyebut nama Bapak berkali-kali dan mengajak kami berdoa bersama untuk menyertai Bapak dalam pekerjaan sehari-hari,” ungkap Irwan.
Keterangan Irwan memperlihatkan bahwa doa menjadi bagian yang sangat melekat dalam kehidupan keluarga Oetama. Bagi mereka, perhatian Latifah bukan hanya hadir lewat sikap sehari-hari, tetapi juga lewat kesetiaan spiritual yang ia jaga untuk suami, anak, dan cucu-cucunya.
Dalam kenangan keluarga, Maria Bernadeth Latifah Oetama meninggalkan jejak sebagai perempuan yang lembut, kuat, dan konsisten mendoakan orang-orang yang dicintainya. Dari cerita cucu dan anaknya, tampak bahwa peran Latifah di keluarga berjalan jauh melampaui hal-hal yang kasatmata.
Ia dikenang sebagai sosok yang selalu ada, yang menjaga keluarga lewat kasih sayang, keteguhan hati, dan doa yang tidak pernah putus. Bagi Maria dan Irwan, itulah warisan paling berharga dari Latifah: kekuatan yang tenang, namun terasa dalam kehidupan seluruh keluarga.










