Nasional

Menteri PPPA: 80 Persen Anak Lebih Nyaman Bercerita ke Teman daripada Orangtua

0
×

Menteri PPPA: 80 Persen Anak Lebih Nyaman Bercerita ke Teman daripada Orangtua

Sebarkan artikel ini
Menteri PPPA: 80 Persen Anak Lebih Nyaman Bercerita ke Teman daripada Orangtua News 4 Juni 2026
Ilustrasi: Menteri PPPA: 80 Persen Anak Lebih Nyaman Bercerita ke Teman daripada Orangtua

jurnalistik.co.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa sekitar 20 persen anak memilih bercerita kepada orangtua saat menghadapi masalah. Sebaliknya, sekitar 80 persen anak lebih nyaman berbagi cerita dengan teman.

Hal itu disampaikan Arifatul saat menjelaskan pentingnya peran keluarga dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak usai penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) Program Percontohan Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak di Balai Kota Jakarta pada Kamis (4/6/2026).

Arifatul juga menegaskan mekanisme layanan yang ditujukan untuk korban. Ia menyebutkan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak nantinya cukup melapor satu kali untuk mendapatkan berbagai layanan yang dibutuhkan.

Dalam penjelasannya, Arifatul mengungkap temuan tersebut berasal dari survei yang pernah dilakukan bersama Forum Anak Nasional di Jawa Tengah. Ia mengatakan survei itu melibatkan lebih dari 20 ribu anak dalam waktu satu minggu.

“Kami pernah melakukan survei bersama Forum Anak Nasional di Jawa Tengah. Dalam waktu satu minggu, lebih dari 20 ribu anak mengisi survei tersebut,” kata Arifatul, Kamis.

Arifatul menjelaskan bahwa dalam survei tersebut, anak-anak ditanya kepada siapa mereka akan bercerita ketika menghadapi masalah. Pertanyaan yang diajukan, menurutnya, adalah “Kalau kalian memiliki masalah, kalian akan bercerita kepada siapa?”

Ia menyebut hasil survei menunjukkan hanya sekitar 20 persen anak yang menjawab akan bercerita kepada orangtua. Sementara itu, sekitar 80 persen lainnya memilih untuk bercerita kepada teman.

“Hasilnya, hanya sekitar 20 persen yang menjawab akan bercerita kepada orangtua, sedangkan sekitar 80 persen memilih bercerita kepada teman,” kata Arifatul.

Arifatul menilai hasil survei tersebut perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama keluarga. Menurutnya, kondisi itu menggambarkan bahwa masih ada anak yang belum merasa nyaman untuk terbuka kepada orangtuanya.

“Ini menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Ada apa dengan keluarga kita sehingga anak-anak tidak merasa nyaman untuk bercerita kepada orang tuanya?” ujarnya.

Di sisi lain, ia menyampaikan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan penting dalam upaya pencegahan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak. Dalam pandangannya, sejumlah kasus kekerasan bisa luput dari perhatian karena anak memilih menyimpan sendiri masalah yang dihadapinya.

Arifatul juga menyebut bahwa sebagian anak justru menceritakan persoalan yang mereka alami kepada teman sebaya. Ketika saluran komunikasi lebih banyak berpindah ke lingkungan luar keluarga, ia menilai ruang terdeteksinya persoalan di lingkungan rumah menjadi lebih terbatas.

Dengan temuan itu, Arifatul menggarisbawahi bahwa pencegahan kekerasan tidak hanya terkait pada ketersediaan layanan. Ia menekankan pentingnya memastikan anak memiliki rasa aman di lingkungan keluarga agar mau bercerita ketika menghadapi masalah.

Penandatanganan SKB di Balai Kota Jakarta menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat skema pelayanan terpadu. Dalam kesempatan tersebut, Arifatul menempatkan keluarga sebagai komponen awal yang menentukan keberanian anak untuk berbagi cerita, terutama ketika mereka berada dalam situasi yang sulit.

Lebih lanjut, ia menggambarkan bahwa ketika anak tidak menjadikan orangtua sebagai tempat pertama untuk bercerita, potensi masalah menjadi lebih sulit terpantau sejak awal. Situasi ini membuat pencegahan perlu menyentuh cara keluarga membangun komunikasi yang membuat anak merasa didengar.

Arifatul menyoroti bahwa layanan terpadu yang dirancang bagi korban juga harus dipahami sebagai satu jalur yang memudahkan akses. Dengan pola pelaporan satu kali, berbagai kebutuhan layanan dapat disalurkan tanpa harus berulang kali mengulang informasi, sehingga proses pendampingan lebih efektif.

Ia berharap keluarga dapat menjadi ruang yang aman, terutama saat anak menghadapi tekanan, kebingungan, atau ketakutan. Ketika anak merasa terlindungi dan tidak takut untuk menyampaikan pengalaman, dukungan dari lingkungan terdekat dapat hadir lebih cepat, termasuk untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak sejak dini.