jurnalistik.co.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berhasil menghimpun dana sebesar 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 26 triliun melalui penerbitan obligasi global (global bond) perdana di pasar internasional.
Penerbitan surat utang berdenominasi dollar AS itu mendapat sambutan positif dari investor global. Pengumuman disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin (15/6/2026).
Rosan menyampaikan informasi tersebut dengan didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Dalam kesempatan itu, Rosan menjelaskan bahwa ia baru tiba dari New York, yang menjadi kota penutup rangkaian roadshow.
Roadshow tersebut dimulai sejak 3 Juni dan menyinggahi Hong Kong, Singapura, Boston, serta London. Rosan mengatakan ia masih dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih karena perjalanan.
“Mohon maaf masih agak kecapaian, sedikit jetlag. Tapi yang penting, alhamdulillah, hasilnya sangat-sangat baik,” kata Rosan seperti dilansir Kompas.id, Selasa (16/6/2026).
Menurut keterangan Danantara, permintaan yang masuk bahkan mencapai sekitar 4,6 miliar dollar AS atau setara Rp 81,4 triliun. Angka tersebut disebut lebih dari tiga kali lipat nilai obligasi yang diterbitkan.
Dari kondisi tersebut, Danantara kemudian meningkatkan nilai penerbitan dari target awal sekitar 1 miliar dollar AS menjadi 1,5 miliar dollar AS. Rosan menuturkan peningkatan itu terkait dengan besarnya buku pesanan yang terkumpul.
“Dari rencana 1 miliar dolar yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar, sehingga akhirnya kami meng- upsiz e dari 1 miliar menjadi 1,5 miliar dolar AS,” ujar Rosan.
Keberhasilan penerbitan global bond ini dipandang menjadi salah satu indikator kepercayaan investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia serta peran Danantara sebagai sovereign wealth fund yang mengelola aset-aset strategis milik negara.
Permintaan Investor Tembus 4,6 Miliar Dollar AS
Berdasarkan data Danantara, nilai pemesanan atau order book sempat mencapai 4,6 miliar dollar AS. Angka tersebut menggambarkan antusiasme investor institusi dari berbagai kawasan.
Investor yang terlibat berasal dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga Asia. Besarnya permintaan itu juga membuka peluang bagi Danantara untuk memperoleh pendanaan dengan biaya yang lebih kompetitif dibanding perkiraan awal.
Untuk obligasi tenor lima tahun, tingkat imbal hasil (yield) ditetapkan sebesar 5,35 persen. Sementara itu, obligasi tenor 10 tahun menawarkan yield sebesar 5,95 persen.
Besarnya minat investor turut memungkinkan yield akhir ditekan sekitar 35 basis poin dari indikasi awal. Dengan struktur tersebut, Danantara akhirnya merampungkan penerbitan global bond dengan nilai total 1,5 miliar dollar AS.
Dari total nilai tersebut, dananya berasal dari dua seri obligasi, yakni tenor lima tahun dan 10 tahun, masing-masing senilai 750 juta dollar AS. Rangkaian penerbitan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pendanaan internasional bagi institusi tersebut.
Ujian Kepercayaan di Tengah Ketidakpastian
Penerbitan obligasi global Danantara menjadi sorotan pasar karena dilakukan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Di saat yang sama, tensi geopolitik masih tinggi serta pasar keuangan internasional mengalami gejolak.
Transaksi ini juga dipandang sebagai ujian terhadap minat investor asing terhadap aset Indonesia, terutama setelah pelemahan rupiah. Selain itu, perhatian pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintah serta peran Danantara dalam perekonomian nasional ikut menjadi faktor yang diperhatikan.
Meski demikian, respons investor yang sangat kuat menunjukkan bahwa pasar global masih melihat Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik. Prospek jangka panjang yang positif disebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam arus minat tersebut.
Dana untuk Investasi dan Refinancing
Dana hasil penerbitan global bond akan digunakan untuk berbagai kebutuhan korporasi. Penggunaan dana itu disebut mencakup mendukung investasi serta pembiayaan kembali (refinancing) kewajiban yang sudah ada.
Keberhasilan penerbitan obligasi global perdana ini juga disebut menjadi tonggak penting bagi Danantara yang baru diluncurkan pemerintah pada 2025. Danantara dibentuk untuk mengelola dan mengoptimalkan aset-aset BUMN.
Dengan raihan dana mencapai 1,5 miliar dollar AS dan permintaan yang menembus 4,6 miliar dollar AS, Danantara memperoleh sinyal positif dari pasar internasional. Sinyal tersebut menunjukkan bahwa investor global masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan prospek investasi jangka panjang di Tanah Air.












