Peristiwa

Dari Evakuasi ke Media Edukasi: Koleksi Ular di Markas Damkar Kota Semarang

×

Dari Evakuasi ke Media Edukasi: Koleksi Ular di Markas Damkar Kota Semarang

Sebarkan artikel ini
Dari Hasil Evakuasi Menjadi Media Edukasi, Kisah Koleksi Ular di Markas Damkar Semarang Regional 20 Juni 2026
Ilustrasi: Dari Hasil Evakuasi Menjadi Media Edukasi, Kisah Koleksi Ular di Markas Damkar Semarang

jurnalistik.co.id – Di Markas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, tugas penyelamatan tidak berhenti pada pemadaman kebakaran. Petugas juga mengelola satwa liar yang terpaksa dievakuasi dari lingkungan warga, termasuk ular.

Kondisi itu membuat markas menjadi tempat edukasi yang berbeda dari bayangan kebanyakan orang. Di beberapa ruangan, sejumlah ular berada dalam kandang-kandang yang terawat dan dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat.

Ular yang dipelihara untuk edukasi antara lain ball python, corn snake atau ular jagung, serta python bivittatus. Kehadiran mereka diarahkan bukan untuk tontonan semata, melainkan untuk mengenalkan jenis-jenis ular dan cara bersikap saat berhadapan dengan satwa tersebut di sekitar tempat tinggal.

Dari evakuasi pada 2024 hingga menjadi koleksi edukasi

R. Kelvin Adirahmat Putera, Analis Kebakaran Ahli Pertama Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, menjelaskan bahwa awal koleksi tersebut dimulai pada 2024. Pada periode itu, tim Damkar mengevakuasi seekor corn snake dari lingkungan warga.

Kelvin menyebut ular berwarna cerah itu ditemukan dalam kondisi memprihatinkan karena sempat dipukul oleh warga yang mengira hewan tersebut berbisa. Setelah dievakuasi, keputusan diambil berdasarkan pengamatan karakter satwa.

“Setelah dievakuasi, kami tahu karakternya memang jinak. Waktu itu diputuskan untuk tidak langsung dilepas atau diserahkan ke BKSDA, tetapi dipelihara terlebih dahulu,” ujar Kelvin saat diwawancarai Kompas.com pada Jumat (19/6/2026).

Tak lama kemudian, tim kembali mengevakuasi seekor ball python. Karena karakter ular tersebut juga tenang, ball python tersebut turut dipelihara, sehingga dua ekor ular yang lebih dulu ditangani menjadi cikal bakal koleksi edukasi Damkar Kota Semarang.

Kunjungan sekolah mendorong edukasi lebih sering

Seiring waktu, koleksi ular tersebut menarik perhatian sekolah-sekolah. Kunjungan dari taman kanak-kanak dan sekolah dasar mulai berdatangan ke markas Damkar.

Dalam kunjungan itu, anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada kebakaran dan penyelamatan, tetapi juga dikenalkan pada berbagai jenis ular serta cara bersikap saat bertemu satwa di lingkungan sekitar. Petugas menempatkan edukasi sebagai bagian dari upaya mengenalkan penanganan satwa liar serta mitigasi risiko ketika berada di situasi yang berkaitan dengan ular.

Menurut Kelvin, edukasi menjadi alasan utama mengapa beberapa ular hasil evakuasi dipelihara. “Kunjungan dari TK dan SD semakin banyak. Akhirnya edukasi tentang ular menjadi salah satu kegiatan yang kami berikan kepada pengunjung,” katanya.

Komposisi koleksi saat ini dan penanganan satwa lainnya

Kini koleksi ular yang dimanfaatkan untuk edukasi terdiri atas tiga ekor ball python dan satu ekor corn snake. Selain itu, terdapat seekor python bivittatus yang masih dalam proses penyesuaian dan perawatan.

Meski demikian, Kelvin menegaskan tidak semua ular hasil evakuasi disimpan di markas. Sebagian besar tetap diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk proses penanganan lebih lanjut atau pelepasliaran apabila memungkinkan.

Dengan pendekatan itu, petugas Damkar menjadikan pengalaman evakuasi sebagai bahan pengenalan yang lebih dekat dan terarah bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Di markas yang identik dengan mobil merah dan sirene, ular hasil evakuasi akhirnya beralih fungsi menjadi media belajar tentang satwa liar yang selama ini kerap menimbulkan rasa takut.

Keputusan memelihara ular hasil evakuasi tidak muncul secara instan, melainkan melalui pengamatan terhadap perilaku satwa setelah ditangani. Dengan melihat karakter yang tenang, petugas memilih untuk menempatkannya terlebih dahulu sebagai materi edukasi, bukan sebagai tontonan.

Dalam setiap kunjungan, petugas menyesuaikan penyampaian agar pengunjung memahami bahwa ular memiliki beragam jenis dan respons yang berbeda-beda. Materi tersebut dirangkai dengan pengenalan cara bersikap ketika bertemu satwa di sekitar lingkungan, sehingga rasa takut bisa digantikan oleh pengetahuan.

Sejauh ini, koleksi yang dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi terus dirawat sesuai kebutuhan masing-masing individu. Komposisinya mencakup tiga ball python dan satu corn snake, sementara python bivittatus masih menjalani proses penyesuaian dan perawatan, agar pembelajaran yang diberikan tetap berjalan dengan aman dan terarah.