Daerah

Seni Ukir Batu Kebumen Tetap Hidup, Suhanto Hadapi Pesanan yang Tak Pasti

×

Seni Ukir Batu Kebumen Tetap Hidup, Suhanto Hadapi Pesanan yang Tak Pasti

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menjaga Denyut Seni Ukir Batu di Kebumen, Suhanto Terkendala Pesanan yang Tak Tentu

jurnalistik.co.id – Bunyi pahat yang beradu dengan batu alam memecah keheningan di sebuah sudut Desa Bojongsari, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Di bengkel kerja itu, Suhanto mengolah bongkahan batu menjadi karya ukir dengan detail yang dikerjakan perlahan.

Di hadapannya, berbagai hasil ukiran tampak menempati ruang kerja. Ada bentuk naga dengan sisik yang tersusun rapi, burung rajawali dengan sorot mata tajam, hingga kuda yang tampak gagah berdiri.

Bagi Suhanto, proses mengukir batu tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Ia menyiapkan tahapan kerja lebih dulu sebelum pahat benar-benar menyentuh permukaan batu.

Ditentukan lebih awal lewat sketsa

Sebelum memulai pemahatan, Suhanto menentukan bentuk karya yang akan dibuat. Sketsa digambar di atas permukaan batu sebagai panduan, agar hasil akhir sesuai dengan rancangan.

Ia juga mengerjakan pesanan sesuai kebutuhan yang datang. “Lagi buat pesanan ini, ada yang minta ukiran Rajawali,” ujar Suhanto di sela-sela pekerjaannya pada Jumat (3/7/2026).

Setelah pola selesai dibuat di batu, proses pemahatan dilakukan secara bertahap. Batu yang semula berbentuk bongkahan perlahan berubah mengikuti alur pahatan yang dirancang sebelumnya.

Dalam pengerjaan itu, detail-detail kemudian dipertegas satu per satu. Setiap perubahan kecil dilakukan dengan kehati-hatian, karena karakter batu alam menuntut ketepatan.

Kesabaran jadi penentu hasil

Suhanto menekankan bahwa menyelesaikan satu karya bukan urusan hitungan hari. Sebab, kesalahan kecil saat memukul pahat bisa membuat batu retak dan mengubah keseluruhan bentuk ukiran.

Karena pertimbangan tersebut, ia membagi pekerjaan menjadi rangkaian proses dari awal sampai akhir. Dari bahan baku hingga tahap akhir, tiap fase memerlukan perhatian agar detail yang direncanakan tidak bergeser.

Ia menuturkan waktu pengerjaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya yang matang. “Ini saya kerjakan setengah bulan mulai dari bahan baku sampai sketsa, sampai pengerjaan, sampai finishing ,” tutur Suhanto.

Dengan rentang waktu sekitar 15 hari yang ia jadikan ukuran wajar, Suhanto berupaya memastikan setiap bagian selesai sesuai rencana. Kesungguhan itu tampak pada cara ia menata urutan kerja: menentukan bentuk, membuat sketsa, lalu memahat bertahap sampai hasil akhir.

Di bengkel kerja tersebut, cerita proses juga terlihat dari ragam motif yang dihasilkan. Naga, rajawali, hingga kuda menunjukkan bahwa setiap figur memiliki tingkat ketelitian tersendiri pada lekuk dan guratan.

Setelah tahap pengerjaan berlangsung, finishing dilakukan untuk menyempurnakan hasil. Pada tahap itu, detail yang sebelumnya dibentuk bertahap akhirnya dirapikan agar tampilan ukiran lebih utuh.

Dengan cara kerja seperti itu, Suhanto menjaga ritme pengerjaan agar batu tidak hanya terukir, tetapi berubah menjadi karya seni dengan karakter yang jelas. Meski menyesuaikan pesanan yang ia terima, ia tetap mempertahankan prinsip yang sama: sketsa dan kesabaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari prosesnya.

Setelah sketsa menjadi acuan, Suhanto kembali menyesuaikan ritme kerjanya dengan bentuk batu yang ia hadapi. Ia memastikan setiap goresan awal benar-benar selaras dengan rancangan, sehingga saat pahat berpindah ke tahap berikutnya, arah ukiran tidak berubah.

Dalam proses yang bertahap itu, ia juga menjaga agar setiap bagian terlihat seimbang, dari proporsi hingga kedalaman detail. Perubahan kecil yang dilakukan berkali-kali kemudian menjadi pembeda antara permukaan batu yang sekadar dipahat dan ukiran yang memiliki karakter jelas pada tiap figur.

Ketika pekerjaan masuk fase finishing, perhatian difokuskan pada penyatuan hasil agar tampilannya lebih utuh. Bagian-bagian yang sebelumnya dibentuk perlahan dirapikan satu per satu sampai bentuknya rapi dan halus secara visual, termasuk saat ia menyesuaikan karya dengan pesanan yang datang.