jurnalistik.co.id – WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Militer Amerika Serikat (AS) menembak jatuh sejumlah drone kamikaze Iran yang terbang di sekitar Selat Hormuz. Peristiwa ini diumumkan oleh Komando Pusat AS, atau Centcom, melalui platform media sosial X pada Sabtu (13/6/2026).
Menurut Centcom, Iran meluncurkan beberapa drone serang yang diduga bertujuan mengganggu lalu lintas pelayaran komersial di kawasan selat tersebut. Centcom menyampaikan bahwa serangan itu terjadi ketika aktivitas pelayaran masih berlangsung di wilayah strategis itu.
Centcom menyatakan bahwa pihaknya telah merespons peluncuran drone tersebut. Dalam pengumumannya, Centcom menyebut bahwa penindakan dilakukan dalam rentang waktu yang singkat.
“Kami telah menembak jatuh semuanya dalam beberapa jam terakhir sementara arus lalu lintas melalui selat terus berjalan tanpa hambatan,” bunyi pernyataan Centcom, sebagaimana dilansir CNN.
Centcom juga menegaskan bahwa jalur perdagangan internasional di kawasan tersebut tetap dapat digunakan sebagaimana mestinya. Pihaknya menekankan bahwa koridor perdagangan tetap terbuka untuk dilintasi.
“Koridor perdagangan internasional tetap terbuka untuk dilintasi,” tambah Centcom.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Dalam pemberitaan terkait, disebutkan bahwa selat ini menjadi salah satu titik terpenting bagi perdagangan minyak global.
Laporan tersebut menyebut bahwa Selat Hormuz menjadi jalur penting dalam perdagangan sekitar 20 persen minyak global. Karena itu, gangguan apa pun di wilayah ini dinilai berpotensi berdampak pada arus perdagangan di tingkat kawasan maupun internasional.
Kendati demikian, kejadian penembakan drone kamikaze tersebut muncul di tengah kabar bahwa AS dan Iran semakin dekat pada kesepakatan damai. Perkembangan itu membuat situasi di kawasan tetap menjadi perhatian.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah mencapai draf final dalam perjanjian damai tersebut. Melalui unggahannya di platform X pada Jumat (12/6/2026) malam, Sharif menyatakan bahwa Pakistan terus mengawal proses.
“Kami dapat mengonfirmasi bahwa teks final yang disepakati dari kesepakatan damai telah tercapai, dan Pakistan kini bekerja sama erat dengan kedua belah pihak untuk memfinalisasi langkah-langkah berikutnya,” ujar Sharif.
Sharif juga menyampaikan penilaiannya terkait kedekatan proses menuju perdamaian. “Perdamaian belum pernah sedekat ini,” sambungnya, sebagaimana dilansir CBS News.
Sejalan dengan pernyataan Sharif, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi turut menyatakan bahwa potensi kesepakatan dengan AS kini sudah berada di depan mata. Araghchi menyampaikan hal itu lewat unggahan di media sosial X pada Jumat.
Selain menyinggung kemajuan yang ia sebut mendekati kepastian, Araghchi juga meminta agar semua pihak, khususnya media, tidak berspekulasi mengenai isi kesepakatan tersebut. Permintaan ini disampaikan bersamaan dengan pernyataannya terkait tahapan finalisasi.
“Nota Kesepahaman Islamabad belum pernah sedekat ini (untuk terwujud). Sembari menunggu finalisasinya, media harus menahan diri dari berspekulasi mengenai isinya,” kata Araghchi.
Araghchi juga menegaskan pendekatannya terhadap keterbukaan informasi setelah proses mencapai tahap yang ditentukan. Ia menyampaikan bahwa rincian akan dibagikan kepada publik pada waktunya.
“Sejalan dengan pendekatan kami yang bertanggung jawab dan transparan, semua rincian akan dibagikan kepada publik pada waktunya,” sambungnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump membagikan tangkapan layar unggahan Araghchi melalui akun media sosialnya di Truth Social. Langkah tersebut memperlihatkan perhatian publik yang luas terhadap perkembangan perundingan yang sedang berjalan.
Dengan demikian, pengumuman Centcom soal penembakan drone kamikaze terjadi bersamaan dengan rangkaian kabar terkait kemajuan perjanjian damai AS-Iran. Dalam waktu yang sama, pernyataan dari pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan menempatkan proses finalisasi perjanjian itu sebagai tema utama yang terus dipantau.












