Internasional

Menlu Iran: Kesepakatan Damai dengan AS Belum Pernah Sekedekat Ini

0
×

Menlu Iran: Kesepakatan Damai dengan AS Belum Pernah Sekedekat Ini

Sebarkan artikel ini
Menlu Iran Sebut Kesepakatan Damai dengan AS Belum Pernah Sedekat Ini Global 13 Juni 2026
Ilustrasi: Menlu Iran Sebut Kesepakatan Damai dengan AS Belum Pernah Sedekat Ini

jurnalistik.co.id – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen belum pernah sedekat ini. Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam siaran Press TV Iran pada Jumat (12/6/2026) malam.

Araghchi mengatakan ini merupakan sinyal yang paling jelas dari Iran bahwa kesepakatan yang digembor-gemborkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump mungkin akan terwujud. Ia juga menekankan bahwa kesepakatan tersebut belum ditandatangani.

Menurut Araghchi, rencana yang sedang dipertimbangkan terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama berupa nota kesepahaman, sementara tahap berikutnya adalah dimulainya negosiasi mengenai beberapa isu yang lebih luas.

Tahap pertama: penghentian pertempuran

Pada tahap pertama, pertempuran akan dihentikan. Araghchi menyebut penghentian itu termasuk serangan Israel di Lebanon, dengan komitmen agar pihak terkait tidak melancarkan serangan kembali.

Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung bahwa nota kesepahaman awal masih berada dalam proses peninjauan. Ia menyatakan pembahasan yang dibawa ke tahap ini belum berujung pada penandatanganan final.

Tahap kedua: nuklir, sanksi, dan aset

Araghchi menjelaskan bahwa isu-isu kunci akan dibahas pada tahap kedua. Beberapa di antaranya mencakup masa depan program nuklir Iran, pencabutan sanksi, serta pencairan aset Iran.

Ia menekankan bahwa kerangka yang sedang disusun tidak berhenti pada mekanisme penghentian konflik. Pembahasan yang lebih menentukan, termasuk terkait program nuklir dan pemulihan ekonomi melalui pencairan aset, ditempatkan dalam tahap lanjutan.

Dalam konteks tersebut, Araghchi juga menyampaikan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman. Menurutnya, pengelolaan di masa depan akan berbeda dari sebelumnya.

Araghchi menyoroti ketidakpercayaan yang mendalam terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dua kali diluncurkan. Ia menggambarkan posisi tersebut sebagai bagian dari cara Iran memandang proses perundingan nuklir.

Selain Araghchi, ketua parlemen dan kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pesan di akun X. Ia menulis, “Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada ‘jika’, tidak ada ‘tetapi’, tidak ada alasan. Untuk kesepakatan yang akan datang, tidak ada cara lain,”

Ghalibaf melanjutkan pesannya dengan kalimat, “Kamu akan menuai apa yang kamu tabur.” Pernyataan itu disampaikan dalam bentuk pesan singkat namun menekankan tuntutan agar komitmen dalam kesepakatan benar-benar dijalankan.

Sementara itu, seorang pejabat senior AS menyatakan bahwa kesepakatan tersebut belum sepenuhnya rampung. Namun menurut pejabat itu, kesepakatan berada pada posisi yang sudah sangat dekat.

Pejabat senior AS itu mengatakan nota kesepahaman akan mencakup pencabutan sanksi yang signifikan. Dalam pertukaran kebijakan tersebut, AS menyebut pencairan aset Iran akan dilakukan setelah Iran menyetujui untuk membongkar program nuklirnya dan menyerahkan material nuklirnya.

Dengan demikian, baik dari pihak Iran maupun dari keterangan pejabat senior AS, rencana yang dibicarakan berangkat dari kerangka dua tahap. Tahap awal berfokus pada penghentian pertempuran, sedangkan tahap berikutnya diarahkan pada isu nuklir, pencabutan sanksi, dan pencairan aset.

Pada penjelasan itu, Araghchi juga menegaskan bahwa pendekatan Iran mengacu pada kepastian implementasi, bukan sekadar pengumuman. Ia menggambarkan posisi kesepakatan yang masih berada pada tahap pembahasan sehingga belum ada tanda tangan resmi, sementara isi pokoknya disusun agar penghentian konflik tidak diikuti langkah yang memicu kelanjutan kekerasan.

Dalam kerangka yang sama, pembahasan tahap lanjutan diposisikan sebagai agenda yang lebih “menentukan”, mencakup program nuklir, pencabutan sanksi, serta mekanisme pencairan aset. Araghchi menempatkan elemen ekonomi itu sebagai bagian dari arah pemulihan, sekaligus mengaitkannya dengan syarat-syarat yang akan mengatur kelanjutan hubungan dan tindak lanjut setelah tahap awal berjalan.

Sementara itu, pesan dari kubu Iran turut melengkapi gambaran mengenai tuntutan komitmen dalam perundingan. Ghalibaf menekankan tidak adanya ruang bagi alasan atau penundaan, dan pernyataan tersebut sejalan dengan penekanan bahwa proses yang dibahas di kedua sisi telah mendekati titik penting, meski dokumen awal masih dalam proses peninjauan sebelum memasuki tahap perundingan yang lebih luas.