Pendidikan

Dikbud Gorontalo Pastikan Jadwal Sekolah Normal Pasca Final Piala Dunia 2026, Siswa Terlambat Diberi Tugas Edukatif

×

Dikbud Gorontalo Pastikan Jadwal Sekolah Normal Pasca Final Piala Dunia 2026, Siswa Terlambat Diberi Tugas Edukatif

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dikbud Gorontalo Pastikan Jam Sekolah Normal Usai Final Piala Dunia 2026, Siswa Terlambat Diberi Tugas Edukatif

jurnalistik.co.id – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Gorontalo, Sudarman Samad, memastikan bahwa pembelajaran di sekolah tetap berjalan normal meski bertepatan dengan momen final Piala Dunia 2026.

Penegasan tersebut disampaikan Sudarman setelah pertemuan secara virtual bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) se-Provinsi Gorontalo. Pertemuan itu membahas kesiapan satuan pendidikan dalam menghadapi akhir pekan final Piala Dunia 2026.

Sudarman menegaskan pemerintah daerah tidak menerbitkan edaran khusus terkait perubahan jam masuk sekolah. Ia menyebut aktivitas belajar mengajar pada Senin, 20 Juli 2026, tetap berlangsung sebagaimana jadwal rutin sekolah.

“Kami tidak menerbitkan edaran khusus soal perubahan jam masuk. Sekolah tetap berjalan normal seperti hari-hari biasa,” ujar Sudarman.

Menurut informasi yang disampaikan, kegiatan pembelajaran dimulai pukul 07.15 WITA dan berakhir pada pukul 15.45 WITA. Dengan demikian, sekolah tidak menyesuaikan jam belajar setelah pelaksanaan nonton bareng final Piala Dunia 2026.

Dalam penjelasannya, Dikbud juga mengantisipasi kondisi peserta didik yang kemungkinan baru pulang setelah menyaksikan siaran langsung final Piala Dunia pada Senin dinihari. Pada awal jam pelajaran hingga istirahat pertama, sekolah diarahkan mengisi waktu dengan kegiatan yang bersifat penyesuaian situasional.

Kegiatan tersebut mencakup kerja bakti, merapikan ruang kelas, serta menata meja dan kursi untuk persiapan pembelajaran. Sudarman menekankan bahwa pilihan teknis pelaksanaan kegiatan di awal hari menjadi kewenangan masing-masing satuan pendidikan sesuai kebutuhan di lapangan.

Aturan untuk siswa yang terlambat

Terkait peserta didik yang datang terlambat karena menyaksikan siaran live pertandingan final, Sudarman menyatakan sekolah tidak akan memberikan sanksi. Sebagai gantinya, siswa diminta mengerjakan tugas edukatif yang bersifat persuasif.

Sudarman menjelaskan bahwa siswa diminta membuat resume atau rangkuman analisis tentang hal-hal positif yang bisa dipetik dari momen menonton final Piala Dunia yang berlangsung setiap empat tahun sekali. Dari tugas tersebut, diharapkan peserta didik memperoleh pelajaran berharga sekaligus tetap mengikuti alur kegiatan sekolah.

Lebih lanjut, tugas tersebut akan difasilitasi dan diakomodir langsung oleh guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) atau guru Bimbingan Konseling (BK) di masing-masing sekolah. Dengan pola pendampingan itu, siswa tetap mendapatkan arahan sesuai peran guru di satuan pendidikan.

Selain mengatur ketertiban di lingkungan sekolah, Sudarman juga mengimbau orang tua untuk turut mengawasi anak-anaknya. Pengawasan dimaksudkan agar peserta didik tidak melakukan konvoi atau berkumpul dalam kelompok besar setelah pertandingan final selesai.

“Kami minta orang tua ikut mengawasi. Jangan sampai anak-anak konvoi atau berkumpul dalam jumlah besar setelah nonton, karena itu justru bisa merugikan mereka sendiri,” tegasnya.

Dikbud, menurut penjelasan Sudarman, juga tidak melarang sejumlah satuan pendidikan yang berencana menggelar nonton bareng bersama masyarakat. Namun, kegiatan tersebut hanya dapat dilakukan selama tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah dan tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.

Harapannya, seluruh pihak—mulai dari sekolah, guru, orang tua, hingga peserta didik—dapat mengambil nilai positif dari perhelatan final Piala Dunia 2026. Dengan kolaborasi tersebut, euforia pertandingan dapat dinikmati tanpa mengorbankan kelancaran proses pendidikan di Provinsi Gorontalo.

Sudarman juga menggarisbawahi bahwa penetapan kegiatan pembelajaran pada Senin, 20 Juli 2026, merupakan bagian dari komitmen agar rutinitas pendidikan tidak terputus. Sekolah diminta tetap merujuk jadwal utama yang sudah disepakati, sementara kebutuhan penyesuaian hanya bersifat sementara dan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Dikbud menilai langkah pengisian waktu di awal kegiatan belajar akan membantu peserta didik kembali beradaptasi setelah begadang menonton siaran final. Dengan pendekatan tersebut, suasana belajar tetap terjaga, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk mempersiapkan perlengkapan dan suasana ruang kelas sebelum pelajaran berlangsung normal.

Dalam pengaturan kedisiplinan, Sudarman menegaskan bahwa arahan kepada peserta didik yang terlambat diarahkan pada pembelajaran yang mendidik, bukan pada pemberian hukuman. Materi resume yang dikerjakan siswa diharapkan menuntun mereka memahami nilai positif dari perhelatan olahraga sekaligus menjaga keteraturan mengikuti tahapan aktivitas sekolah.