Internasional

Diplomasi “Keripik Pisang” Jo Stevens dari Konjen Australia

0
×

Diplomasi “Keripik Pisang” Jo Stevens dari Konjen Australia

Sebarkan artikel ini
Diplomasi "Keripik Pisang" dari Konjen Australia News 15 Juni 2026
Ilustrasi: Diplomasi "Keripik Pisang" dari Konjen Australia

jurnalistik.co.id – Konsulat Jenderal Australia untuk Bali, NTB, dan NTT, Jo Stevens, mendatangi Desa Kembang Kerang, Aikmel, Lombok Timur, untuk merasakan langsung kegiatan warga dalam program INKLUSI. Kunjungan itu menjadi kesempatan bagi Jo untuk berinteraksi sekaligus mencoba membuat keripik pisang bersama Inaq Suma.

Di lokasi, Jo menyusuri jalan sempit di tengah dusun Kembang Kerang dan bertemu suasana kehidupan warga yang dekat dengan ternak rumahan. Beberapa ayam dan bebek terlihat di sekitar rumah, sementara sapaan datang dengan senyum khas suku Sasak.

Jo kemudian mampir ke rumah Ketua Kelompok Usaha Desa, Inaq (Ibu) Khaeriah yang biasa disapa Inaq Suma. Dalam percakapan, ia sesekali berbahasa Indonesia, tetapi tak jarang kembali menggunakan bahasa Inggris dengan aksen Australia.

Momen perkenalan berlangsung hangat ketika Jo mengajukan pertanyaan kepada Inaq Suma. Inaq Suma hanya bisa menjawab “Yes”, yang disambut tawa warga sekitar.

Kunjungan Jo ke desa tersebut pada Rabu (10/6/2026) merupakan bagian dari program INKLUSI, sebuah kemitraan pemerintah Australia-Indonesia untuk masyarakat inklusi. Di kesempatan itu, Jo menunjukkan ketertarikan pada proses produksi salah satu produk unggulan yang masuk dalam program, yakni keripik pisang.

Keripik pisang yang dibuat Inaq Suma tidak sama seperti irisan pisang tipis pada umumnya. Jo menyaksikan langsung cara kerja Inaq Suma ketika memproses pisang menjadi keripik dengan karakter yang berbeda.

Inaq Suma menggunakan parut yang berpola, dengan tampilan motif bolong dan hasil yang tidak rata. Motif tersebut, menurut cerita Inaq Suma, berasal dari pemotong khas yang ia dapatkan dari toko online.

Inaq Suma menjelaskan bahwa pemotong khas itu sulit didapat, sekaligus tidak mudah digunakan. Menurutnya, ada banyak penyesuaian agar pisang bisa digobet lewat pemotong tersebut.

Jo menyimak dengan saksama saat Inaq Suma memaparkan kendala yang kerap muncul dalam proses membuat keripik. Inaq Suma berkeluh bahwa ia sudah tiga kali ganti parut karena patah saat terlalu ditekan.

Di tengah percakapan itu, Inaq Suma menasihati cara penggunaan dengan nada waspada, “Hati-hati sekali cara pakainya,” tutur Inaq Suma. Ucapan tersebut membuat warga kembali tersenyum, karena proses yang dihadapi tampak membutuhkan ketelitian.

Melihat penjelasan dan kesulitan yang dihadapi, Jo tergoda untuk mencoba sendiri. Ia lalu berinisiatif memotong pisang kepok yang masih muda.

Ketika proses mencoba dilakukan di depan warga, Jo tampak menghadapi tantangan yang serupa. Ia kemudian mengatakan, “Ternyata sulit ya,” katanya, sambil menyimak reaksi sekitar yang terus mengiringinya dengan gelak tawa.

Semua orang tampak tertawa melihat seorang Konjen Australia yang berpakaian rapi bermotif “berugak” duduk menggunakan “sentauk” dan ikut merasakan kesulitan memotong pisang. Keakraban suasana terasa dari cara warga mengamati proses, sekaligus memberi ruang bagi Jo untuk memahami tahapan kerja yang dilakukan Inaq Suma.

Selama sesi mencoba membuat keripik pisang, terlihat bahwa keterampilan warga dalam program INKLUSI tidak hanya berada pada hasil akhir, tetapi juga pada detail alat yang digunakan dan kebiasaan mengatur tenaga saat memproses. Jo memperoleh gambaran langsung tentang kebutuhan kehati-hatian dan ketepatan, yang sebelumnya disampaikan Inaq Suma melalui pengalaman pribadinya.

Melalui kunjungan pada Rabu (10/6/2026) itu, Jo Stevens tidak hanya berinteraksi dengan warga Kembang Kerang, tetapi juga ikut mendekati proses kerja yang menjadi bagian dari program INKLUSI. Dari percakapan yang dimulai dengan jawaban “Yes” hingga percobaan memotong pisang yang diakhiri dengan “Ternyata sulit ya,” momen tersebut memperlihatkan pendekatan diplomasi yang dibangun melalui kegiatan nyata di tengah masyarakat.