Daerah

Di Balik Keramaian Jakarta Job Fair 2026, Pelamar Penyandang Disabilitas Masih Berjuang Masuk Dunia Kerja

0
×

Di Balik Keramaian Jakarta Job Fair 2026, Pelamar Penyandang Disabilitas Masih Berjuang Masuk Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Di Balik Ramainya Jakarta Job Fair, Pelamar Disabilitas Masih Berjuang Menembus Dunia Kerja News 5 Juni 2026
Ilustrasi: Di Balik Ramainya Jakarta Job Fair, Pelamar Disabilitas Masih Berjuang Menembus Dunia Kerja

jurnalistik.co.id – Juru Bahasa Isyarat (JBI) menjadi salah satu elemen yang paling terasa di Jakarta Job Fair 2026 yang berlangsung di GOR Senen, Jakarta Pusat, pada Jumat (5/6/2026). Bagi para pencari kerja penyandang disabilitas, khususnya teman Tuli, keberadaan aksesibilitas tersebut menghadirkan kemudahan sejak awal berinteraksi dengan informasi lowongan.

Di tengah keramaian bursa kerja, para pelamar tetap membawa harapan yang sama: mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan bisa mengubah kondisi hidup. Fasilitas komunikasi melalui JBI membantu mereka mengikuti alur pendaftaran dan memahami kebutuhan perusahaan tanpa harus menempuh proses yang terasa terhambat ketika melamar secara mandiri.

Daya tarik aksesibilitas, dari proses pendaftaran hingga tanya jawab

Galih (25), pelamar kerja penyandang disabilitas Tuli, menyebut pendampingan JBI di lokasi sebagai bantuan yang sangat konkret. Menurut dia, akses komunikasi adalah kebutuhan penting yang sering kali tidak tersedia saat seseorang melamar pekerjaan sendirian ke perusahaan.

Galih mengaku merasa terbantu karena alur pendaftaran dan proses bertanya lowongan bisa berjalan lancar. Ia menyampaikan, “Saya senang ke sini karena ada JBI, jadi proses pendaftaran dan nanya-nanya lowongan jadi lancar. Saya coba melamar di bagian helper dan office boy (OB),” ujar Galih saat ditemui di lokasi pada Jumat (5/6/2026).

Namun, di balik kemudahan yang ia rasakan di acara ini, Galih juga menegaskan bahwa mencari pekerjaan bagi teman Tuli di Indonesia tidak mudah. Dalam satu setengah tahun terakhir, ia terus berupaya mencari pekerjaan, tetapi belum membuahkan hasil.

Galih kemudian menyoroti persoalan yang ia lihat di bursa kerja. Ia mengatakan bahwa peluang yang benar-benar terbuka bagi penyandang disabilitas masih terbatas pada jumlah perusahaan yang secara spesifik menerima disabilitas. “Mencari kerja untuk disabilitas itu memang sulit. Di bursa kerja ini saya lihat sepertinya baru ada dua perusahaan saja yang benar-benar menerima disabilitas. Harapannya ke depan perusahaan yang inklusi bisa lebih banyak lagi,” ungkap pria asal Depok itu.

Peluang tetap ada, selama kompetensi selaras dengan kebutuhan

Pandangan mengenai peluang kerja juga datang dari pihak perusahaan. Krisna Pratikta, Senior Manager Sales RedDoorz Indonesia, menyampaikan bahwa perusahaan membuka kesempatan untuk merekrut penyandang disabilitas selama memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan posisi.

Krisna menjelaskan, “Posisi yang kami buka mostly hybrid dan mengandalkan komunikasi digital. Sebenarnya teman-teman disabilitas bisa-bisa saja bergabung, selama mumpuni dalam mengoperasikan handphone dan mengetik, itu masih sangat oke,” katanya.

Meski demikian, Krisna menyayangkan kenyataan di lapangan. Ia menegaskan bahwa selama gelaran berlangsung, belum ada pelamar disabilitas yang mendatangi stan perusahaannya. Bagi Krisna, kesempatan tetap terbuka selama pelamar memenuhi kualifikasi dan kemampuan teknis yang dibutuhkan.

Berjuang demi keluarga, walau waktu pencarian semakin panjang

Semangat serupa juga ditunjukkan Angga (39), pria Tuli asal Bekasi, yang telah menganggur selama satu tahun. Di tengah proses pencarian, Angga terus berupaya mendapatkan pekerjaan demi menafkahi keluarganya.

Bagi Angga, bursa kerja seperti Jakarta Job Fair 2026 tidak hanya menjadi tempat mencari informasi lowongan, tetapi juga ruang untuk menjaga momentum agar peluang yang dibutuhkan tidak hilang. Dengan dukungan aksesibilitas dan pendampingan, ia dan pelamar lain dapat mengikuti proses yang lebih jelas, sekaligus tetap memegang tujuan utama: memperoleh pekerjaan yang layak.

Keramaian Jakarta Job Fair 2026 memang mempertemukan banyak pencari kerja dan perusahaan. Akan tetapi, bagi penyandang disabilitas, perhatian pada aksesibilitas seperti JBI, kecocokan kompetensi dengan kebutuhan posisi, serta konsistensi pembukaan peluang menjadi faktor yang menentukan seberapa jauh harapan bisa berubah menjadi kesempatan kerja yang nyata.