jurnalistik.co.id – Di sudut-sudut trotoar Jakarta, lapak sederhana sering menjadi tempat berputarnya ulang waktu dan pilihan hidup. Di bawah hiruk-pikuk aktivitas harian, kisah pedagang kaki lima memperlihatkan bagaimana pekerjaan formal yang hilang bisa memaksa seseorang mencari jalur bertahan yang lebih cepat.
Di depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, salah satu contoh itu datang dari Asep (41). Ia menempati lapak untuk berjualan batagor, menggantikan rutinitas yang selama bertahun-tahun akrab dengan ruang kantor.
Asep mengaku, sebelum menjadi PKL, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup dikenal. Di tempat itu, ia pernah menempati bagian database, sekaligus mengelola kegiatan event organizer dan penggalangan dana publik untuk perusahaan. “Dulu bagian database di kantor. Dulu saya juga mengelola event organizer dan penggalangan dana publik untuk perusahaan,” kata dia saat ditemui di lokasi pada Senin (22/6/2026).
Meski telah berkarier dan memiliki pengalaman, Asep pada akhirnya harus meninggalkan pekerjaannya. Ia menyebut perusahaannya mengalami krisis, sehingga penghasilan yang diperoleh tidak lagi cukup untuk menghidupi keluarganya.
Bagi Asep, hidup di Jakarta terasa semakin berat karena kebutuhan sehari-hari dan biaya yang harus dibayar terus berjalan. Dalam situasi seperti itu, ia kemudian memutuskan menjadi pedagang kaki lima demi mendapatkan uang dalam waktu lebih cepat.
Keputusan tersebut juga dipengaruhi pertimbangan usianya. Asep menilai usianya tak lagi muda, sementara untuk menemukan pekerjaan formal di perusahaan lain tidak mudah. Ia juga hanya memiliki ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA), karena gagal menuntaskan kuliahnya ketika muda.
Awalnya, ia berjualan aci kerupuk untuk mempercepat pemasukan. Namun, dari waktu ke waktu, ia mencoba membentuk konsep yang lebih sesuai dengan kemampuannya dan kebutuhan pembeli. “Awalnya saya berjualan aci kerupuk agar cepat mendapatkan uang. Akhirnya saya punya ide sendiri untuk membuat batagor. Alhamdulillah, bisa berjalan untuk menyambung hidup,” tutur dia.
Dalam menjalankan usaha, Asep mengaku sengaja menyasar lahan trotoar. Ia sadar bahwa berjualan di trotoar dilarang, tetapi ia melihat ada peluang yang lebih besar jika dagangannya berada di titik yang ramai.
Bagi Asep, keramaian pembeli adalah faktor yang menentukan. Ia mengatakan dirinya mencari tempat dengan arus yang cukup ramai agar penjualan berjalan, terutama ketika pilihan lokasi sekitar rumah tidak menghasilkan pembeli yang memadai. “Saya mencari tempat yang ramai pembeli. Kalau di daerah rumah pembelinya kurang, jadi susah mendapatkan uang,” ucap dia.
Walau memanfaatkan trotoar sebagai tempat berjualan, Asep tetap tidak bisa menganggap usahanya berjalan tanpa biaya. Ia menyebut lapak yang digunakan dibelinya sekitar Rp 4 juta dari anggota organisasi masyarakat (ormas) yang mengelola lokasi tersebut.
Selain itu, ia juga menanggung biaya bulanan yang menyertai penggunaan tempat. Ia menambahkan bahwa ia turut membayar listrik untuk gerobaknya sebesar Rp 250.000.
Meski semua pengeluaran itu harus ditanggung, Asep mengatakan ia tidak berkeberatan. Ia justru melihat pilihan yang ada sekarang lebih mungkin dibanding harus menyewa ruko yang biayanya jauh lebih mahal.
Dengan cara itu, batagor yang ia jual tidak sekadar menjadi produk, melainkan jawaban atas kebutuhan hidup yang harus segera dipenuhi. Bagi Asep, pekerjaan kantoran yang pernah ia jalani dan pengetahuan yang ia miliki dulu tidak bisa diulang begitu saja, tetapi pengalaman menghadapi masalah tetap ia bawa ke lapak.
Di tengah keterbatasan peluang kerja formal, Asep memilih langkah yang realistis dan terukur. Ia menempuh proses dari berjualan aci kerupuk hingga membuat batagor, lalu menata lokasi berjualan agar sesuai dengan pola belanja warga di sekitar Stasiun Tebet.
Kisah Asep memperlihatkan bagaimana keputusan yang terlihat sederhana di permukaan bisa memuat rangkaian pertimbangan panjang. Ketika kesempatan kerja berubah dan kebutuhan keluarga tetap harus ditopang, trotoar menjadi salah satu ruang tempat bertahan hidup—dengan segala biaya yang harus dibayar dan target penghasilan yang harus terus dicapai.












