Bisnis & Ekonomi

Ekonom Nilai Efektivitas Insentif Fiskal untuk Dongkrak Daya Beli Masih Terbatas

0
×

Ekonom Nilai Efektivitas Insentif Fiskal untuk Dongkrak Daya Beli Masih Terbatas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ekonom Soroti Efektivitas Insentif Fiskal Demi Dongkrak Daya Beli - Market

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Pemerintah baru saja menggelontorkan sejumlah stimulus fiskal untuk mendorong daya beli masyarakat pada semester II-2025. Namun, di tengah harapan agar kebijakan itu memberi dorongan nyata ke konsumsi, Ekonom Senior Institute for Developmemt of Economics and Finance (Indef), Ahmad Tauhid, menilai efektivitas insentif fiskal tersebut masih sangat terbatas.

Menurut Tauhid, persoalan utamanya terletak pada besaran insentif yang belum cukup kuat untuk menahan laju kenaikan harga di lapangan. Ia mencontohkan insentif yang berkaitan dengan tiket penerbangan. Kebijakan itu, kata dia, memang tergolong baik, tetapi porsinya masih kalah dibandingkan kenaikan harga minyak dunia maupun inflasi yang terus menekan biaya hidup.

“Sehingga kenaikan harga misalnya pesawat, harga avtur itu tidak bisa dicegah, jauh lebih tinggi Itu akhirnya membuat efektifitasnya menjadi terbatas. Dan kalau kita lihat kan harganya tidak turun banget,” kata Tauhid saat dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (29/5/2026).

Pandangan itu menunjukkan bahwa menurut Tauhid, insentif fiskal tidak otomatis langsung menurunkan beban masyarakat bila tekanan harga yang dihadapi jauh lebih besar. Dalam kondisi seperti itu, kebijakan yang disiapkan pemerintah memang tetap memiliki manfaat, tetapi dampaknya ke daya beli dinilai belum bisa diharapkan terlalu besar.

Tauhid juga menekankan pemerintah perlu mencari celah lain yang efeknya lebih terasa di masyarakat. Artinya, stimulus tidak cukup hanya diarahkan pada pos-pos yang dampaknya relatif kecil atau tidak terlalu langsung dirasakan oleh rumah tangga. Ia menilai perlu ada insentif yang daya dorongnya lebih kuat ketimbang sekadar membantu harga tiket pesawat.

Insentif yang lebih dekat ke kebutuhan harian

Di antara sejumlah opsi yang menurut Tauhid berpotensi lebih terasa, ia menyebut insentif listrik sebagai salah satu yang paling mungkin langsung dirasakan masyarakat. Selain itu, insentif yang terkait dengan kebutuhan pokok juga dinilai lebih relevan karena bersentuhan dengan pengeluaran harian rumah tangga.

Tak berhenti di situ, Tauhid juga menyebut bantuan sosial sebagai instrumen yang dapat memberikan dampak lebih nyata terhadap daya beli. Dengan karakter manfaat yang lebih langsung, insentif semacam ini dinilai lebih dekat ke kebutuhan masyarakat dibandingkan kebijakan yang pengaruhnya hanya menekan sebagian kecil komponen biaya.

Meski demikian, Tauhid tetap menempatkan stimulus fiskal sebagai langkah yang penting. Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya insentif, melainkan pada seberapa jauh kebijakan itu mampu mengimbangi tekanan harga yang lebih besar. Dalam penilaiannya, jika insentif yang disiapkan pemerintah tidak sebanding dengan laju kenaikan harga, maka hasil akhirnya hanya akan terasa terbatas.

Karena itu, menurut dia, arah kebijakan perlu lebih selektif dan menyasar pos yang benar-benar bisa menopang daya beli. Insentif yang efeknya terlalu kecil akan sulit mengubah situasi secara berarti, terlebih jika harga-harga lain masih bergerak naik. Dengan kata lain, dukungan fiskal perlu hadir pada titik yang paling dekat dengan pengeluaran masyarakat agar manfaatnya lebih cepat dirasakan.

Pernyataan Tauhid tersebut sekaligus menggambarkan bahwa stimulus fiskal memang bisa menjadi penahan sementara, tetapi belum cukup menjadi jawaban penuh atas tekanan daya beli. Selama kenaikan harga minyak dunia dan inflasi masih lebih kuat, ruang efektivitas insentif akan tetap terbatas. Di titik itu, pemerintah dinilai perlu menimbang ulang prioritas agar dukungan fiskal benar-benar menyentuh kebutuhan yang paling mendesak.

Dalam kerangka itu, Tauhid tampak menilai bahwa pemerintah perlu menempatkan stimulus fiskal sebagai pelengkap, bukan tumpuan utama, terutama bila tekanan harga masih dominan. Selama beban biaya hidup belum mereda, insentif yang bersifat terbatas akan cenderung hanya menjaga kondisi tetap berjalan, tanpa benar-benar mengangkat konsumsi secara signifikan.

Karena itu, efektivitas kebijakan pada akhirnya akan sangat bergantung pada ketepatan sasaran. Jika insentif diarahkan ke kebutuhan yang paling sering dibayar rumah tangga dan dampaknya terasa langsung, maka ruang pengaruhnya terhadap daya beli bisa lebih besar. Namun bila tetap menyasar komponen yang efeknya tipis, hasilnya diperkirakan sulit melampaui sekadar peredam sementara.