jurnalistik.co.id – Target pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% yang dipasang pemerintah dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 dinilai cukup ambisius oleh ekonom. Angka tersebut dianggap menunjukkan bahwa pemerintah ingin mendorong akselerasi ekonomi, tetapi tetap bergerak dalam pagar fiskal yang lebih disiplin dibanding batas maksimal 3% PDB.
Kepala Ekonom Bank Pertama Josua Pardede menilai target itu bukan sesuatu yang mustahil, namun jelas tidak mudah dicapai. Menurut dia, angka 5,8% masih mungkin diraih, tetapi hanya jika sejumlah prasyarat penting terpenuhi secara bersamaan. Di antaranya, konsumsi rumah tangga harus tetap kuat, belanja pemerintah perlu lebih cepat sekaligus lebih produktif, investasi mesti meningkat, kredit perbankan harus terus tumbuh, dan ekspor tidak boleh terlalu tertekan oleh pelemahan global.
Butuh dorongan di banyak sisi
Josua menegaskan bahwa target 2027 tidak bisa hanya bergantung pada belanja pemerintah. Ia menilai, tanpa perbaikan nyata pada investasi produktif, hilirisasi, manufaktur bernilai tambah, logistik, dan kepastian aturan, ruang untuk mencapai pertumbuhan setinggi itu akan sangat terbatas. Karena itu, menurutnya, target tersebut menggambarkan dorongan besar yang harus datang dari berbagai sumber pertumbuhan sekaligus, bukan dari satu mesin ekonomi saja.
“Dari sisi pertumbuhan ekonomi, target 5,8% sampai 6,5% cukup ambisius. Jadi, pemerintah tidak hanya memasang asumsi pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi juga mencoba menunjukkan bahwa akselerasi pertumbuhan tetap dilakukan dalam pagar fiskal yang lebih disiplin dibanding batas maksimal 3% PDB,” kata Josua dikutip Jumat (29/5/2026).
Ia juga menyoroti bahwa proyeksi yang berlaku saat ini masih menunjukkan ruang pertumbuhan yang lebih moderat. Bank Indonesia (BI), kata Josua, masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9% sampai 5,7%. Dengan begitu, asumsi 2027 di level 5,8% sampai 6,5% berarti pemerintah mengharapkan adanya percepatan yang cukup besar setelah 2026.
Perbedaan itu, menurut Josua, memperlihatkan bahwa target dalam KEM-PPKF 2027 bukan sekadar kelanjutan dari tren yang ada, melainkan lompatan yang membutuhkan dukungan lebih kuat dari sektor swasta maupun pemerintah. Tanpa penguatan pada konsumsi, investasi, dan ekspor, laju pertumbuhan sulit naik secara konsisten ke kisaran yang diinginkan.
Ekspektasi percepatan yang tidak ringan
Josua melihat optimisme pemerintah sebagai sinyal bahwa akselerasi ekonomi masih ingin dijaga, tetapi ia mengingatkan bahwa jalan menuju angka tersebut tidak sederhana. Kenaikan belanja negara memang bisa membantu, namun kontribusinya akan lebih kuat bila disertai belanja yang produktif dan mampu menarik efek pengganda ke sektor lain. Dalam pandangannya, kualitas belanja menjadi sama pentingnya dengan besaran belanja itu sendiri.
Di sisi lain, investasi juga harus tampil lebih agresif agar target tersebut punya fondasi yang cukup kokoh. Tanpa kenaikan investasi yang nyata, pertumbuhan berisiko tetap tertahan di level yang lebih rendah. Hal serupa berlaku bagi kredit perbankan, yang menurut Josua harus tetap tumbuh agar aktivitas dunia usaha dan konsumsi dapat terus bergerak.
Ekspor pun masuk dalam daftar variabel yang tidak boleh melemah terlalu dalam. Jika tekanan global memburuk, ruang bagi ekspor untuk menjadi penopang pertumbuhan akan semakin sempit. Karena itu, target ekonomi 2027 pada akhirnya membutuhkan kombinasi kondisi eksternal yang relatif bersahabat dan perbaikan internal yang nyata.
Dengan rangkaian syarat tersebut, target 5,8% sampai 6,5% dipahami sebagai sasaran yang menuntut kerja besar di banyak lini. Josua tidak menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin, tetapi ia menekankan bahwa realisasinya bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan pelaku ekonomi mampu membangun dorongan pertumbuhan yang lebih kuat, lebih produktif, dan lebih merata.












