Teknologi

Elon Musk Kehilangan Status Triliuner setelah Saham SpaceX Terseret Koreksi Saham Teknologi Global

×

Elon Musk Kehilangan Status Triliuner setelah Saham SpaceX Terseret Koreksi Saham Teknologi Global

Sebarkan artikel ini
Elon Musk loses trillionaire status as global tech rout hits SpaceX
Ilustrasi: Elon Musk loses trillionaire status as global tech rout hits SpaceX

jurnalistik.co.id – Elon Musk kehilangan status triliuner pada Selasa, kurang dari dua pekan setelah menjadi orang pertama yang mencapai capaian tersebut menyusul debut publik SpaceX. Menurut data Bloomberg Billionaires Index, penilaian kekayaannya turun tajam di tengah koreksi saham teknologi global yang juga menyeret perusahaan yang terkait erat dengan ekspektasi pasar terhadap kecerdasan buatan.

Pada Selasa, indeks tersebut (diperbarui setiap hari pukul 17:30 waktu New York atau 22:30 BST) menilai kekayaan Musk sebesar $957 miliar (ÂŁ727 miliar). Angka itu turun dari nilai puncak sekitar $1,11 triliun yang dicatat kurang dari 14 hari sebelumnya.

Perubahan ini mengikuti penarikan tajam pada saham SpaceX dan Tesla ketika saham-saham teknologi secara lebih luas mengalami penurunan. Di balik koreksi tersebut, pasar berkembang dengan keraguan mengenai profitabilitas jangka panjang AI, sehingga sentimen terhadap perusahaan-perusahaan berorientasi pertumbuhan turut melemah.

Meskipun status triliuner hilang, Musk tetap menjadi orang terkaya di dunia. Kekayaannya masih jauh melampaui rival terdekatnya, tetapi pergeseran nilai tersebut memperlihatkan betapa sensitif kekayaannya terhadap pergerakan saham di dua entitas yang sangat dominan dalam struktur asetnya.

Perjalanan yang mengantar Musk ke status triliuner berawal pada 12 Juni, saat debut pasar publik SpaceX di bursa Nasdaq berlangsung setelah penantian panjang. Penawaran saham perdana atau IPO perusahaan roket tersebut dipatok pada harga $135 per saham dan dibuka pada level $150 ketika mulai diperdagangkan.

Debut tersebut memberi nilai bagi perusahaan roket dan satelit itu lebih dari $1,77 triliun. Karena Musk memiliki sekitar 42% saham SpaceX, pencatatan itu langsung mendorong kekayaan “kertas” Musk melewati ambang $1 triliun.

Antusiasme investor kemudian mengerek saham SpaceX lebih tinggi. Pada 16 Juni, sahamnya mencapai puncak di level $225,64, yang mendorong total kekayaan bersih Musk juga mencapai puncak sekitar $1,32 triliun.

Namun, reli pasar tidak bertahan. Kekhawatiran terkait belanja modal (capital spending), biaya infrastruktur AI, serta tingkat suku bunga yang tetap tinggi memicu aksi jual besar-besaran di sektor teknologi. Dampaknya dirasakan oleh berbagai “raksasa” teknologi seperti Nvidia, Intel, dan AMD.

Meski sentimen melemah secara luas, saham SpaceX menjadi yang paling berat terkena koreksi. Saham perusahaan tersebut jatuh lebih dari 30% dari puncak pertengahan Juni, hingga diperdagangkan sekitar $156.

Pada satu pekan yang bergejolak—yakni Senin, 22 Juni—penurunan harian sebesar 16% menghapus perkiraan $240 miliar dari lembar kekayaan pribadi Musk. Sehari setelahnya, saham Tesla juga ikut turun hampir 6%, memperbesar kerugian finansial yang berkaitan dengan penilaian aset Musk di perusahaan otomotif listrik itu.

Musk memiliki sekitar 12% saham Tesla yang beredar. Kombinasi penurunan pada SpaceX dan Tesla tersebut menjadi penjelas utama mengapa status triliuner yang baru dicapai kemudian menguap lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pihak.

Rentannya status triliuner akibat konsentrasi aset

Status triliuner Musk dinilai sangat rentan karena konsentrasi kekayaan yang ekstrem. Berbeda dari profil miliarder dengan portofolio yang lebih terdiversifikasi, kekayaan Musk hampir seluruhnya terikat pada ekuitas di hanya dua perusahaan: SpaceX yang mendekati 80% dari total nilai bersihnya, serta Tesla.

Analis pasar juga menyoroti bahwa volatilitas setelah IPO adalah hal yang lazim untuk perusahaan pertumbuhan dengan valuasi sangat tinggi. Namun, skala pergerakan tersebut menunjukkan adanya tarik-menarik yang lebih dalam antara “hype” dan realitas kinerja serta prospek yang kemudian dipertanyakan.

Danni Hewson, kepala analisis keuangan di AJ Bell, menyampaikan bahwa keputusan pada saham seperti SpaceX bisa terbawa emosi dan dipengaruhi antisipasi lompatan besar dalam eksplorasi serta pemanfaatan ruang angkasa. Hewson menekankan bahwa investasi seharusnya diperlakukan dengan cara pandang yang jernih dan kesabaran, bahkan ketika angka yang dipersoalkan sangat besar.

Selanjutnya, ada faktor pemicu tekanan pasar dari sisi perdagangan internal. Pembatasan yang akan dicabut pada akhir Juli memungkinkan para pihak dalam perusahaan akhirnya menjual saham mereka secara bertahap. Dengan perubahan tersebut, tekanan pasar dapat terus berlanjut, tergantung reaksi investor terhadap prospek dan distribusi saham.

Meski demikian, terdapat catatan peluang yang juga disebutkan dalam penjelasan pasar: apabila saham SpaceX pulih secara “modest” sebesar 6%, kekayaan Musk berpotensi kembali mencapai status dengan angka 13 digit. Dalam skenario itu, Musk dapat menjadi orang pertama yang berulang kali menyandang predikat triliuner.

Koreksi yang terjadi dalam rentang waktu singkat setelah debut publik SpaceX memperlihatkan bagaimana perubahan sentimen di pasar teknologi—dipicu keraguan atas AI jangka panjang, belanja modal, dan suku bunga—dapat segera mengubah lanskap kekayaan para tokoh yang paling terpapar pada saham-saham berisiko tinggi. Bagi Musk, perubahan tersebut tidak hanya soal fluktuasi harga, tetapi langsung mempengaruhi peringkat dan batas yang menentukan status triliuner.