jurnalistik.co.id – London Fashion Week berakhir, namun para penyelenggara berharap panggung yang sama tidak lagi terasa “terlalu London”. Tahun ini, British Fashion Council melalui inisiatif Fashion Britain mencoba membuka ruang bagi talenta dari luar ibu kota.
Gagasan yang ingin diuji adalah apakah perhatian industri bisa dialihkan, setidaknya sebagian, agar benar-benar mencerminkan seluruh Inggris. Fashion Britain berangkat dari kerja sama dengan ajang London Fashion Week lewat rangkaian acara pop-up di berbagai wilayah.
Menurut keterangan British Fashion Council kepada BBC Newsbeat, pop-up tersebut digelar di Inggris, Wales, dan Skotlandia. Tujuannya adalah menegaskan bahwa acara musim ini “lebih besar dari London”.
Adapun Irlandia Utara tidak dimasukkan sebagai lokasi untuk gelaran tahun ini, tetapi akan ikut pada tahun berikutnya, sebagaimana disampaikan oleh pihak dewan.
Upaya mendesentralisasi atensi ini muncul di tengah fakta bahwa London masih memegang peran dominan. Sebuah laporan House of Commons menyebut lebih dari separuh (51%) keluaran ekonomi industri kreatif dihasilkan di London pada 2022. Di saat yang sama, laporan itu juga menekankan adanya “klaster industri kreatif” di berbagai tempat, termasuk kota seperti Manchester dan Leeds.
Bagaimana memindahkan pusat perhatian ketika merek besar tetap identik dengan kota tertentu? Charles Jeffrey, pendiri sekaligus creative director label internasional Loverboy, mengangkat sudut pandang yang menyoroti pola pikir yang terlalu menyamakan “besar” dengan “harus berada di kota besar”.
Jeffrey mengatakan banyak orang berpikir untuk menjadi besar seseorang perlu datang ke kota yang memiliki sekolah-sekolah di bidangnya. Namun, ia menilai ada pendidikan luar biasa yang juga terjadi di tempat lain.
Ia mengingat awal kariernya ketika memulai dari studio kecil di Dalston, London timur. Saat itu, Jeffrey menyebut mereka harus mencari kain dari toko-toko kain murah—yang, menurutnya, lebih mudah ditemukan di London karena “rag trade”.
Kini ia melihat perubahan telah membuat kondisi tersebut tidak lagi sama. Jeffrey mengatakan banyak toko itu telah hilang, sehingga “modal” yang dulu menjadikan London sebagai ibu kota mode ikut berkurang. Ia menilai, karena itu, mengambil bahan dari toko kecil di Manchester bisa lebih menguntungkan, bahkan ia menyebut biayanya “sepuluh kali lebih murah”.
Dukungan Fashion Britain pada tahun ini, dengan tujuan membuka pintu bagi kreator di luar London, tentu menarik perhatian. Tetapi gagasan tersebut juga menghadapi pertanyaan: seberapa realistis dampaknya bagi mereka yang selama ini harus menempuh jarak untuk mencari kesempatan?
Imarnie Bennett, lulusan Birmingham City University, merasakan langsung tantangan tersebut. Ia menyebut pernah bepergian ke London untuk memamerkan proyeknya bersama sesama lulusan BCU di Somerset House.
Bennett menilai London dikenal luas dan memiliki banyak peluang, namun ia juga memahami keraguan yang muncul ketika orang membandingkan Birmingham dengan London. Ia mengatakan ada kalanya terdengar pertanyaan apakah mereka akan mendapat kesempatan yang sama seperti yang ada di ibu kota.
Meski begitu, Bennett melihat perubahan yang lebih positif. Ia menyatakan Birmingham makin terlihat karena apa yang mereka kerjakan. Baginya, perbedaan bukan sekadar hambatan, melainkan modal.
Berita Terkait
Ia menuturkan cara memanfaatkan kekuatan “berbeda” dapat dimulai dari hal-hal kecil, termasuk warna. Bennett mengatakan beberapa kota terasa lebih cerah dan lebih hangat dibanding kota lain, sehingga cara orang memandang sesuatu ikut berubah.
Sementara itu, Sean Pajarillo—desainer lain yang ikut memberi pandangan—lebih menekankan aspek peluang yang mungkin muncul seiring pergeseran cara industri bekerja. Pajarillo merasa optimistis terkait kesempatan kerja, terutama karena teknologi dan industri mode sedang bergerak ke arah baru.
Ia menyatakan penggabungan lintas industri yang terjadi pada masa depan akan menciptakan peluang baru bagi seseorang. Dengan kalimat itu, ia menempatkan harapan bukan pada perpindahan geografis semata, melainkan pada perubahan ekosistem yang lebih luas.
Di sisi British Fashion Council, Natalie Potter menjelaskan pendekatan Fashion Britain dari sudut pandang organisasi. Potter berperan sebagai network director dan menyebut inisiatif ini bertujuan mengakui bahwa fesyen Inggris lebih besar daripada London.
Potter menambahkan bahwa menjelang London Fashion Week, rangkaian acara dilakukan tidak hanya di London, tetapi juga di berbagai kota lain. Ia menyebut acara tersebut berlangsung di London, Bristol, Manchester, Liverpool, Newcastle, Edinburgh, Dundee, dan Cardiff.
Namun pertanyaan berikutnya muncul setelah catwalk selesai: apa yang terjadi ketika acara berpindah dan kota-kota lain tidak lagi menjadi pusat perhatian? Potter mengatakan arah Fashion Britain adalah menghubungkan talenta dengan infrastruktur dan peluang yang mereka butuhkan untuk bertumbuh.
Ia menjelaskan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar global yang tersebar di berbagai wilayah, dengan memastikan perusahaan memiliki jalur menuju ritel serta menyediakan bimbingan yang aktif. Menurut Potter, proses itu akan berlangsung secara lokal dan regional.
Keyakinan bahwa dukungan praktis perlu terasa juga disuarakan oleh desainer Priya Ahluwalia. Ia menyebut ada persoalan nyata ketika London dipandang sebagai pusat semesta dalam konteks fesyen.
Ahluwalia menegaskan bahwa talenta datang dari seluruh Inggris. Ia menyebut beberapa desainer terbaik berasal dari wilayah utara, juga dari Wales dan Skotlandia.
Ahluwalia berbicara kepada Newsbeat setelah menampilkan arsip karyanya di Westfield Stratford City sebagai bagian dari rangkaian Fashion Week. Dari pengalamannya, ia menilai bantuan yang bersifat praktis dapat membuka jalan.
Dalam pandangannya, meskipun upaya desentralisasi dilakukan, London tetap akan menjadi pusat fesyen Inggris. Karena itu, ia mengatakan dukungan juga harus mencakup kemampuan orang untuk bepergian ke London, hadir, dan tampil di sana.
Hal serupa—tentang cara masuk tanpa terjebak pada satu jalur—juga diangkat oleh Jeffrey. Ia menyampaikan bahwa gelar universitas memang kadang membuat seseorang lebih mudah melangkah, tetapi ia menilai pada akhirnya yang menentukan adalah pekerjaan dan etos kerja.
Dengan sejumlah pandangan tersebut, pertanyaan “bisa pusatnya bergeser?” berubah menjadi pembacaan yang lebih realistis: apakah ekosistem dapat diperluas sehingga kesempatan tidak hanya terkonsentrasi, tetapi juga hadir melalui jaringan, bimbingan, dan akses yang lebih dekat dengan tempat talenta tumbuh.








