jurnalistik.co.id – Filipina berencana membangun cadangan minyak strategis untuk melindungi diri dari guncangan gejolak pasokan energi global, terutama yang dipicu konflik di Timur Tengah, termasuk perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. Langkah ini diambil di tengah kondisi Filipina yang sangat bergantung pada impor minyak dan rentan terhadap lonjakan harga energi dunia.
Rencana tersebut muncul setelah perang mendorong kenaikan tajam harga bahan bakar minyak di Filipina. Dampaknya tidak kecil, karena Presiden Ferdinand Marcos Jr kemudian menetapkan status darurat nasional. Situasi itu memperlihatkan betapa sensitifnya perekonomian Filipina terhadap perubahan pasokan dan harga energi dari luar negeri, terutama ketika ketegangan geopolitik meningkat secara tiba-tiba.
Sekretaris Energi pemerintah, Sharon Garin, mengatakan pemerintah tengah menyiapkan pembentukan stok minyak strategis yang dikelola negara untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Cadangan nasional ini dirancang untuk menambah setidaknya persediaan produk minyak bumi selama 30 hari. Skema itu berada di luar stok wajib 30-60 hari yang selama ini diamanatkan pemerintah kepada perusahaan minyak lokal.
Dengan kata lain, Filipina ingin memiliki bantalan tambahan ketika pasar energi terguncang. Bagi negara yang mengandalkan impor, cadangan seperti ini dinilai penting bukan hanya untuk menghadapi lonjakan harga, tetapi juga untuk memastikan pasokan tetap tersedia saat situasi global memburuk. Pemerintah ingin mengurangi risiko kekosongan pasokan yang dapat memicu kepanikan di pasar domestik.
Pembangunan cadangan minyak strategis itu memerlukan investasi besar, yakni senilai US$81 juta. Rencana awal mencakup pembuatan satu tangki penyimpanan berkapasitas 500.000 barel, yang setara dengan konsumsi minyak harian negara tersebut. Besarnya kapasitas itu menunjukkan bahwa proyek ini tidak sekadar simbolis, melainkan ditujukan sebagai penyangga yang benar-benar bisa dipakai saat pasokan terganggu.
Untuk pendanaan, pemerintah akan melibatkan perusahaan pelat merah Philippine National Oil Co. serta sovereign wealth fund Maharlika Investment Corp. Skema pembiayaan ini memperlihatkan bahwa proyek cadangan minyak strategis diposisikan sebagai infrastruktur energi penting yang memerlukan dukungan lembaga negara. Pemerintah tampaknya ingin memastikan proyek tersebut tidak bergantung pada satu sumber dana saja.
Dalam konferensi pers, Senin (1/5/2026), Sharon Garin menjelaskan alasan utama proyek itu. “Ini untuk memastikan kami tidak kehabisan minyak atau panik setiap kali perang pecah di negara lain, dan agar kami memiliki jaminan pasokan stabil selama beberapa hari,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa cadangan strategis dipandang sebagai perlindungan langsung dari efek rambatan konflik internasional ke dalam negeri.
Garin juga mengatakan Jepang ikut mendukung rencana tersebut. Tokyo disebut siap membantu melalui studi kelayakan dan penguatan kapasitas dalam pengembangan sistem penyimpanan minyak strategis. “Kami senang mencatat bahwa Jepang akan mendukung inisiatif ini dengan melakukan studi kelayakan yang diperlukan dan menyediakan peningkatan kapasitas dalam pengembangan sistem penimbunan,” tambahnya. Menurut Garin, Presiden Marcos mengamankan komitmen itu saat kunjungan kenegaraan ke Tokyo bulan lalu.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah Filipina ini menunjukkan bagaimana negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi harus menyiapkan perlindungan tambahan ketika pasar global berguncang. Bagi Filipina, cadangan minyak strategis bukan hanya soal ketersediaan bahan bakar, tetapi juga soal meredam dampak krisis geopolitik terhadap stabilitas ekonomi domestik. Di tengah ketidakpastian pasokan energi global, strategi semacam ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan nasional.
Jika terealisasi, cadangan ini akan memberi ruang napas tambahan bagi pemerintah saat pasar minyak internasional bergejolak. Alih-alih bereaksi mendadak setiap kali konflik luar negeri memicu kenaikan harga, Filipina ingin memiliki penyangga yang bisa digunakan lebih dulu untuk menjaga distribusi dan menenangkan pasar domestik.
Pada akhirnya, rencana tersebut mencerminkan upaya Filipina membangun ketahanan energi yang lebih kuat dari sekadar kewajiban stok minimum di sektor swasta. Pemerintah tampak ingin memastikan bahwa guncangan dari luar tidak langsung berubah menjadi tekanan besar di dalam negeri, terutama bagi konsumen yang paling cepat merasakan dampak dari naik-turunnya harga BBM.












