jurnalistik.co.id – Anggota Komisi VII DPR Fraksi Golkar Gandung Pardiman mendorong pemerintah menambah devisa melalui sport tourism dengan mengandalkan event olahraga internasional, bukan semata destinasi pantai dan candi.
Menurut Gandung, strategi itu perlu ditempuh jika Indonesia ingin memperoleh pemasukan lebih cepat sambil menjaga dampak ekonomi langsung di tingkat lokal.
“Kalau mau tambah devisa cepat, jangan cuma andalkan obyek pantai dan candi serta alam, tapi mampu mengolaborasikan destinasi tersebut dengan event olahraga skala internasional,” ujar Gandung dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).
Ia menilai, pengembangan sport tourism seharusnya tidak berhenti pada promosi destinasi, melainkan diwujudkan lewat agenda berskala internasional yang mampu menarik wisatawan mancanegara datang dan beraktivitas selama periode tertentu.
JAKIM jadi contoh instrumen sport tourism
Gandung mencontohkan Jakarta International Marathon (JAKIM) yang baru saja diselenggarakan sebagai contoh ajang yang terbukti efektif mendatangkan devisa dan menggerakkan ekonomi lokal.
Dalam pandangannya, keberadaan peserta wisatawan luar negeri dapat memberi efek ekonomi yang langsung terasa, mulai dari kebutuhan akomodasi, transportasi, hingga belanja kebutuhan selama perjalanan.
“Contoh Jakarta International Marathon , devisanya langsung dirasakan, misalnya 1 pelari wisman dan wisnus tentunya mereka akan menyewa hotel, tiket pesawat, makan, dan oleh-oleh, yang berdampak langsung kepada pengusaha dan UMKM,” tutur Gandung.
Ia menambahkan bahwa aktivitas wisata yang mengikuti penyelenggaraan event berpotensi menambah perputaran uang di sejumlah sektor, sejalan dengan kebutuhan peserta selama mengikuti kompetisi sekaligus menikmati lokasi tujuan.
Gandung juga menekankan bahwa besaran peserta wisatawan mancanegara merupakan indikator penting dalam menilai kontribusi event terhadap devisa.
Dari total 45.000 peserta pelari yang ikut JAKIM, Gandung menyebut jumlah wisman yang datang dari luar negeri mencapai 1.012 orang.
Menurut dia, pelari asing itu menginap selama 3-5 hari, lalu melakukan belanja serta berwisata ke destinasi yang ada di Jakarta.
Ia menyebut dampak tersebut tidak berhenti pada pengeluaran dasar selama kunjungan, tetapi berpotensi berkembang menjadi pengeluaran yang lebih besar karena karakter sport tourism yang membawa kebutuhan pendukung.
Gandung menggambarkan adanya multiplier effect dalam sport tourism, yakni wisman berbelanja 2-3 kali lipat dibanding wisatawan biasa.
“Multiplier effect , setiap wisman sport tourism akan berbelanja 2-3 kali lipat dibanding wisatawan biasa, karena bawa tim , keluarga, dan fisioterapis,” papar Gandung.
Dengan pola itu, Gandung menilai Indonesia memiliki peluang yang lebih kuat jika olahraga dan pariwisata diposisikan sebagai prioritas yang saling menguatkan.
Ia menegaskan bahwa peluang sport tourism perlu dijadikan fokus kebijakan, karena olahraga plus pariwisata dapat menjadi daya tarik yang membuat wisatawan mancanegara memilih Indonesia sebagai tujuan.
“Ini peluang Indonesia di sektor sport tourism, olahraga plus pariwisata harus jadi prioritas. Jangan cuma sekadar promosi, tapi ada event berskala Internasional yang menjadi daya tarik wisman,” sambungnya.
Gandung berharap pemerintah mampu mengolaborasikan destinasi yang selama ini dikenal, termasuk pantai dan candi, dengan penyelenggaraan event olahraga internasional agar dampak devisa dan ekonomi lokal dapat meningkat secara lebih cepat dan terukur.
Selain mendorong pemasukan, Gandung menilai sport tourism juga mengarahkan wisatawan untuk menghabiskan waktu di lokasi tujuan secara terencana. Ketika pelari dan pendamping datang untuk mengikuti kompetisi, kebutuhan layanan seperti akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga belanja oleh-oleh menjadi lebih intens selama periode kunjungan. Kondisi ini membuat manfaat ekonomi tidak hanya berhenti pada momen promosi, tetapi ikut menghidupkan transaksi di lapangan.
Gandung juga menyoroti bahwa kontribusi event terhadap devisa perlu dilihat dari komposisi peserta, khususnya wisatawan mancanegara yang hadir. Dengan adanya kunjungan yang berlangsung beberapa hari, peluang bagi wisatawan untuk beraktivitas dan menikmati destinasi ikut terbuka lebih lebar. Ia menilai pengeluaran wisatawan asing pun cenderung lebih besar dibanding kunjungan biasa karena sport tourism membawa kebutuhan pendukung yang ikut serta dalam perjalanan.
Lebih jauh, gagasan ini menegaskan perlunya penguatan kolaborasi antara sektor olahraga dan pariwisata agar agenda internasional benar-benar menjadi mesin pemasukan. Ketika olahraga diposisikan sebagai pengikat kegiatan, destinasi yang sudah dikenal seperti pantai dan candi dapat dipadukan ke dalam rangkaian event sehingga wisatawan memiliki alasan dan jadwal jelas untuk datang, bergerak, dan membelanjakan kebutuhan selama berada di Indonesia.












