jurnalistik.co.id – JAKARTA – George Hotz, sosok hacker yang dikenal sebagai orang pertama yang berhasil membobol iPhone, melontarkan peringatan keras soal masa depan pengembangan software. Menurut dia, adopsi massal agen AI yang mampu mengerjakan coding secara mandiri berisiko besar dan bisa berujung pada bencana, atau setidaknya mendekatinya.
Pendapat itu ia sampaikan lewat postingan blog terbarunya yang berjudul The Eternal Sloptember, sebagaimana dikutip pada Selasa (26/05/2026). Dalam tulisannya, Hotz menegaskan bahwa penerapan agen AI ke dalam proses pengembangan perangkat lunak akan menjadi salah satu kesalahan paling merugikan dalam sejarah bidang tersebut.
“Saya menyebutnya sekarang, penerapan agen AI ke dalam pengembangan software akan menjadi salah satu kesalahan paling merugikan dalam sejarah bidang ini,” tulis Hotz.
Pernyataan itu muncul lima hari setelah Andrej Karpathy, salah satu peneliti AI paling terkemuka, bergabung dengan tim prapelatihan Anthropic. Karpathy diketahui memiliki pandangan yang eksplisit bahwa agen AI sudah mengubah cara pengembangan perangkat software berlangsung. Dengan begitu, dua nama besar di bidang teknologi itu kini berada di dua kubu yang berseberangan dalam perdebatan yang belum selesai.
Di satu sisi, Karpathy melihat agen AI sebagai bagian dari perubahan besar dalam pengembangan software. Di sisi lain, Hotz justru menilai arah tersebut berbahaya dan tidak menjanjikan sebagaimana yang sering digambarkan para pendukungnya.
George Hotz dan Andrej Karpathy, menurut Bloomberg Technoz, sama-sama memiliki kredibilitas untuk mempertaruhkan posisi mereka dalam perdebatan ini. Keduanya bukan nama sembarangan dalam dunia teknologi, sehingga pandangan yang mereka lontarkan ikut memberi bobot pada diskusi yang semakin hangat mengenai peran agen AI di industri software.
Hotz menyebut agen AI tidak benar-benar mampu membuat program. Ia juga menilai butuh waktu lebih lama bagi orang untuk menyadari keterbatasan itu.
“Agen tidak bisa membuat program, dan perlu waktu lebih lama untuk menyadari bahwa mereka tidak bisa membuat program,” kata Hotz.
Menurut Hotz, agen AI justru memuat seluruh kemajuan di depan mata pengguna. Dari sana, sistem itu kemudian memberikan sesuatu yang ia gambarkan seperti tuas mesin slot. Gambaran itu menegaskan skeptisisme Hotz terhadap cara kerja agen AI yang dinilai lebih menonjolkan kesan maju ketimbang kemampuan teknis yang benar-benar bisa diandalkan.
Perdebatan mengenai agen AI memang semakin menonjol seiring makin banyaknya perusahaan teknologi yang mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam proses kerja mereka. Namun, pernyataan Hotz menunjukkan bahwa tidak semua tokoh penting di industri ini melihat arah tersebut sebagai kemajuan yang sepenuhnya aman atau menguntungkan.
Dengan posisinya sebagai figur yang pernah mencuri perhatian dunia teknologi lewat pembobolan iPhone, kritik Hotz terhadap agen AI ikut menambah lapisan baru dalam diskusi soal masa depan software. Apalagi, saat para pendukung AI melihat agen sebagai alat yang mempercepat pekerjaan, Hotz justru mengingatkan bahwa konsekuensinya bisa jauh lebih besar daripada manfaat yang dibayangkan.
Dalam konteks itu, pernyataan Hotz dan pandangan Karpathy memperlihatkan betapa tajamnya perbedaan sikap di kalangan pelaku teknologi terhadap agen AI. Satu pihak menganggapnya sebagai perubahan penting dalam pengembangan software, sementara pihak lain memandangnya sebagai risiko serius yang bisa menyesatkan industri.
Hotz tidak tampak berbicara soal kemungkinan kecil semata. Ia menempatkan agen AI sebagai ancaman yang, bila diterapkan secara luas ke dalam pengembangan software, dapat menjadi salah satu kekeliruan paling mahal dalam sejarah bidang tersebut. Bagi dia, persoalannya bukan hanya soal efisiensi atau kemudahan kerja, melainkan soal arah perkembangan teknologi itu sendiri.
Perdebatan seperti ini kemungkinan masih akan terus berlanjut, terutama ketika perusahaan dan peneliti AI sama-sama mendorong penggunaan agen dalam alur kerja pemrograman. Namun, melalui pernyataannya, Hotz sudah lebih dulu memberi sinyal bahwa tidak semua terobosan otomatis layak diterima tanpa kritik.









