jurnalistik.co.id – Purworejo, Jawa Tengah, pada Rabu (5/8/2026) dipenuhi suasana khidmat di kompleks makam Kanjeng Gagak Handoko. Di lokasi itu, keluarga keturunan dan masyarakat menggelar tradisi Sulih Langse, sebuah rangkaian penggantian kain penutup makam yang dijalankan secara berkala.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Pada penyelenggaraan kali ini, perhatian warga tertuju pada perawatan tempat ziarah sekaligus upaya menjaga ingatan terhadap sosok yang dimuliakan di sana.
Kanjeng Gagak Handoko dikenal sebagai adipati kesembilan sekaligus adipati Loano terakhir. Ia juga disebut sebagai senopati atau prajurit Pangeran Diponegoro yang turut berjuang pada masa Perang Jawa.
Menurut Erwan Widi Ashari, salah seorang keturunan Kanjeng Gagak Handoko, kiprah sang leluhur terhubung dengan wilayah Kalibawang dan Kaliwiro. Perang Jawa yang berlangsung pada 1825–1830 menjadi latar penting dalam penelusuran jejak perjuangan tersebut.
Erwan menyampaikan, “Dulu ketika melawan Belanda pangeran Gagak Handoko ini ikut berperang melawan Belanda di Kaliwiro, Wonosobo,” kata Erwan. Kalimat itu merangkum keterlibatan Gagak Handoko dalam perlawanan pada wilayah-wilayah yang disebutkan.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Sulih Langse tahun ini merupakan rangkaian ketiga setelah tradisi itu kembali dirawat secara rutin enam tahun lalu. Dengan begitu, ritus yang digelar sekarang berangkat dari upaya pemeliharaan yang telah dijalankan kembali.
“Kegiatan hari ini adalah ritual tiga tahunan untuk pelestarian dan perawatan makam para pejuang, khususnya Eyang Gagak Handoko. Ini sudah ketiga kalinya dilaksanakan,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan tujuan utama kegiatan, yakni menjaga makam sekaligus memastikan warisan sejarah tetap hidup.
Lebih lanjut, Erwan mengatakan tujuan ritual tidak berhenti pada aspek perawatan fisik, melainkan juga berkaitan dengan kesinambungan ingatan generasi penerus. Melalui kegiatan ini, diharapkan jasa para leluhur yang berjuang pada masa Perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro tidak terlupakan.
Berita Terkait
Sulih Langse sendiri berfokus pada penggantian langse, yaitu kain penutup makam. Proses inti kegiatan ini menempatkan unsur tradisi, doa, hingga pengaturan perlengkapan ritual agar makam dapat kembali ditutup dengan kain yang sesuai.
Pada rangkaian awal, kegiatan diawali seremoni berupa sambutan, doa bersama, serta penyampaian pesan pelestarian budaya dari perwakilan pemerintah daerah. Tahap ini menjadi penanda bahwa tradisi dipandang penting tidak hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh pihak pemerintah setempat.
Setelah tahapan seremoni selesai, rombongan keluarga adat kemudian bergerak melakukan arak-arakan menuju area makam. Dalam prosesi itu, perlengkapan ritual dibawa bersama, disiapkan untuk mengiringi penggantian kain penutup makam.
Di sepanjang iring-iringan, terlihat sesaji serta kain langse baru yang ditandu secara khusus. Pengaturan pengangkutan kain dan kelengkapan ritual menunjukkan bahwa detail prosesi diperlakukan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tradisi.
Erwan menjelaskan mekanisme arak-arakan tersebut dengan menyebut jarak perpindahan rombongan. “Rombongan melakukan kirab dari rumah peninggalan Gagak Handoko atau Pasepen ke makam Gagak Handoko yang berjarak sekitar 500 meter,” katanya.
Dalam tradisi ini, terdapat dua jenis langse yang digunakan. Langse dalam terdiri atas tujuh lapis kain, sementara langse luar berupa satu lapis sebagai penutup terluar makam.
Pembagian lapisan itu menegaskan adanya susunan yang telah dikenal dalam praktik Sulih Langse. Dengan demikian, penggantian kain penutup dilakukan mengikuti ketentuan jenis dan jumlah lapisan yang disebutkan dalam tradisi.
Melalui rangkaian yang tersusun dari doa, pesan pelestarian, prosesi kirab, hingga penggantian langse, Sulih Langse di Purworejo tidak hanya menjadi peristiwa ritual tahunan semata. Kegiatan pada Rabu (5/8/2026) juga menjadi ruang bagi keluarga keturunan dan masyarakat untuk merawat sekaligus meneruskan nilai perjuangan yang disematkan pada Kanjeng Gagak Handoko.












