jurnalistik.co.id – Bitcoin kembali mengalami tekanan jual pada Selasa dan mencatat pelemahan lanjutan setelah sebelumnya sempat bergerak stagnan dalam dua pekan terakhir. Pada perdagangan saat itu, harga BTC turun 3,9% menjadi US$61.877.
Angka tersebut merupakan level terendah sejak 11 Juni. Dalam fase penurunan, Bitcoin bahkan sempat meninggalkan zona US$62 ribu sebelum akhirnya beranjak ke area yang lebih stabil.
Setelah pembelian kembali muncul, Bitcoin kemudian memangkas sebagian kerugiannya. Pada sesi perdagangan pagi di New York, BTC diperdagangkan sekitar US$62.223.
Pergerakan BTC terjadi di tengah aksi jual yang juga menekan aset berisiko. Kondisi ini tercermin pada pergerakan altcoin yang ikut melemah bersama ruang selera risiko yang menyempit.
Pelemahan di pasar kripto tidak hanya terbatas pada Bitcoin. Ether tercatat ambruk hingga 5,6% menyusul gelombang penurunan yang lebih luas.
Selain Ether, Solana juga ikut terkoreksi cukup dalam. Solana turun hingga 6,4% dalam periode yang sama.
Tekanan jual juga terlihat pada XRP yang ikut melemah. XRP turun sampai 3,3% mengikuti arah pergerakan mayor lainnya.
Keterkaitan dengan pelemahan saham teknologi
Penurunan Bitcoin selaras dengan pelemahan saham-saham teknologi yang dimulai pada Senin di AS. Pada saat yang sama, kekhawatiran terkait pengeluaran besar-besaran perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kembali muncul ke permukaan.
Sentimen tersebut mendorong pasar untuk menilai ulang prospek aset yang dinilai sensitif terhadap perubahan kondisi pembiayaan dan ekspektasi belanja korporasi. Alhasil, aset berisiko turut terkena tekanan.
Dalam konteks itu, pergerakan harga BTC menunjukkan pola penurunan yang cepat sebelum ada upaya pemulihan terbatas. Setelah menyentuh US$61.877, Bitcoin kembali bergerak mendekati area US$62 ribu, dengan harga sekitar US$62.223 pada sesi pagi di New York.
Meski demikian, pemulihan yang terjadi tidak langsung menghapus tekanan awal. Penurunan tetap terlihat jelas di seluruh spektrum kripto besar, sebagaimana tercermin dari persentase koreksi Ether, Solana, dan XRP.
Secara keseluruhan, pasar menggambarkan korelasi kuat antara pergerakan Bitcoin dan dinamika di saham teknologi. Ketika saham-saham teknologi melemah karena kekhawatiran pengeluaran AI yang besar, kripto turut bergerak dalam arah yang sama.
Periode dua pekan yang sempat berjalan lebih datar itu akhirnya memberi jalan bagi tekanan yang lebih terarah pada Selasa. Setelah fase stagnasi, penurunan mulai terasa dengan cepat, terlihat dari BTC yang langsung tergelincir ke area lebih rendah serta sempat menjauh dari patokan psikologis US$62 ribu.
Meski sempat keluar dari zona tersebut, pergerakan berikutnya menunjukkan adanya respons dari pembeli yang muncul setelah harga berada di level terendah sejak 11 Juni. Namun, respons itu tidak berlangsung penuh; pemangkasan kerugian lebih bersifat terbatas, sehingga harga tetap bergerak di sekitar area mendekati US$62 ribu.
Tekanan terhadap aset berisiko juga terlihat dari cara pasar menilai ulang preferensi risiko setelah gelombang penurunan melebar. Pada kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi posisi yang dianggap sensitif, yang tercermin dari koreksi simultan pada beberapa mata uang kripto besar selain Bitcoin.
Di luar BTC, penurunan yang dialami Ether, Solana, dan XRP memperkuat gambaran bahwa pelemahan tidak berdiri sendiri. Ether yang turun hingga 5,6%, Solana hingga 6,4%, serta XRP yang terkoreksi 3,3% menunjukkan bahwa arah pergerakan pasar tetap konsisten mengikuti turunnya sentimen, sehingga ruang pemulihan terasa sempit.
Kaitannya dengan saham teknologi menjadi salah satu pendorong penting dalam dinamika tersebut. Saat kekhawatiran mengenai pengeluaran besar-besaran untuk AI kembali mengemuka, pasar saham di AS mulai melemah pada Senin, dan konsekuensinya merembet ke sektor aset berisiko seperti kripto. Dengan latar itu, pergerakan BTC tampak selaras dengan pelemahan saham teknologi, sementara pemulihan yang muncul lebih menggambarkan upaya penahanan penurunan dibanding perubahan tren yang sudah terjadi.












