Bisnis & Ekonomi

Harga Emas Dunia Menguat Usai Kesepakatan Damai AS–Iran

×

Harga Emas Dunia Menguat Usai Kesepakatan Damai AS–Iran

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Dunia Naik Usai Kesepakatan Damai AS-Iran Money 17 Juni 2026
Ilustrasi: Harga Emas Dunia Naik Usai Kesepakatan Damai AS-Iran

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia menguat tipis pada akhir perdagangan Selasa (16/6/2026) waktu setempat, atau Rabu (17/6/2026) pagi WIB. Kenaikan itu muncul setelah kekhawatiran pasar terhadap inflasi mereda, seiring kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menekan harga minyak.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,8 persen menjadi 4.338,86 dollar AS per ons. Pada sesi sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni 2026.

Di pasar derivatif, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat tipis 0,1 persen menjadi 4.354,40 dollar AS per ons. Pergerakan itu mengikuti dinamika pasar yang dipengaruhi perkembangan hubungan AS–Iran.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menyebut ada faktor yang mendukung pasar selama dua sesi terakhir. “Yang mendukung pasar selama dua sesi terakhir adalah prospek tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, Meger menambahkan bahwa dampak dari perkembangan tersebut terlihat pada beberapa komponen. Ia menyebut penurunan suku bunga jangka pendek, melemahnya harga energi, serta berkurangnya kemungkinan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) perlu menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.

Kesepakatan damai sementara yang diumumkan Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Selain itu, kesepakatan tersebut juga membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang sebelumnya diblokade Iran sejak konflik dengan AS dan Israel pecah pada Februari lalu.

Perubahan sentimen juga tercermin pada pergerakan harga minyak. Dalam gambaran Reuters, harga minyak mentah Brent turun ke bawah 80 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak awal Maret 2026, setelah anjlok hampir 5 persen sehari sebelumnya menyusul pengumuman kesepakatan sementara AS–Iran.

Di sisi suku bunga, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Berdasarkan alat FedWatch CME Group, estimasi kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 60 persen, turun dari sekitar 70 persen pada pekan lalu.

Gambaran tersebut berangkat dari kondisi sebelumnya saat perang antara AS, Israel, dan Iran menekan pasar emas. Saat itu, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan berkepanjangan.

Kondisi tersebut lalu meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi, logam mulia cenderung kurang menarik ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi lainnya.

Setelah meredanya kekhawatiran yang terkait prospek inflasi, perhatian pasar beralih pada agenda rapat bank sentral dalam pekan ini. Pelaku pasar menantikan serangkaian pertemuan, termasuk keputusan suku bunga The Fed.

Pertemuan suku bunga itu menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Dengan perubahan kepemimpinan tersebut, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter mendapat sorotan tersendiri.

Selain emas, perdagangan logam mulia lain juga bergerak. Harga perak spot naik 0,3 persen menjadi 70,22 dollar AS per ons.

Untuk platinum, harga naik 2,8 persen menjadi 1.816,65 dollar AS per ons. Sementara itu, palladium menguat 0,7 persen menjadi 1.358,06 dollar AS per ons.

Secara keseluruhan, penguatan logam mulia pada perdagangan terakhir mencerminkan kombinasi sentimen dari meredanya kekhawatiran inflasi dan pergerakan harga energi. Prospek kesepakatan antara AS dan Iran yang memperpanjang gencatan senjata ikut menjadi faktor yang menjaga nada positif pasar.