jurnalistik.co.id – Jakarta — Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah sebelumnya terkoreksi selama dua hari beruntun. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual yang sempat menekan logam mulia tersebut mulai mereda, setidaknya untuk sementara, setelah koreksi yang terjadi pada dua hari sebelumnya cukup dalam.
Pada perdagangan spot, harga emas dunia ditutup di level US$ 4.492,9 per troy ons. Angka itu naik 0,83% dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa emas berhasil bangkit lagi setelah dua hari berturut-turut berada dalam tekanan, ketika harganya anjlok 2,48%.
Jika dilihat dari pergerakan dua hari sebelumnya, koreksi sebesar itu tergolong cukup dalam. Dalam kondisi seperti ini, emas kembali menarik perhatian pelaku pasar ketika harganya dianggap sudah berada di level yang lebih murah dibandingkan sebelumnya. Dorongan minat beli semacam itu kerap muncul setelah pasar menilai penurunan sudah terlalu jauh.
Dengan kata lain, rebound yang terjadi bukan sekadar pergerakan harian biasa. Kenaikan itu memperlihatkan bahwa setelah dua hari turun, emas kembali diburu. Saat harga tertekan, sebagian pelaku pasar melihatnya sebagai peluang untuk masuk kembali, sehingga dorongan beli ikut mengangkat harga.
Situasi di Timur Tengah juga ikut menjadi pengerek harga emas. Dalam perkembangan terbaru, Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai perdamaian sementara. Kesepakatan itu memperpanjang masa gencatan senjata hingga 60 hari ke depan.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang mewarnai sentimen pasar terhadap emas. Di tengah kabar itu, harga emas justru bergerak naik setelah sebelumnya sempat terkoreksi dua hari beruntun. Artinya, pasar tidak hanya bereaksi pada penurunan harga sebelumnya, tetapi juga pada dinamika geopolitik yang masih berlangsung.
Rebound setelah koreksi dua hari
Selama dua hari penurunan sebelumnya, emas sempat kehilangan 2,48% dari nilainya. Koreksi itu kemudian diikuti oleh kenaikan pada perdagangan Kamis. Pola seperti ini memperlihatkan bagaimana pasar emas bergerak cepat merespons perubahan sentimen, baik dari sisi harga maupun dari kabar geopolitik yang muncul pada saat yang sama.
Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencermati dua hal sekaligus. Pertama, seberapa jauh harga sudah terkoreksi dalam dua hari sebelumnya. Kedua, bagaimana perkembangan di Timur Tengah memengaruhi arah pergerakan berikutnya. Kedua faktor itu muncul bersamaan dan membuat emas kembali naik pada perdagangan kemarin.
Kenaikan 0,83% ke level US$ 4.492,9 per troy ons juga memperlihatkan bahwa emas belum kehilangan daya tariknya. Setelah sempat ditekan selama dua hari, logam mulia itu kembali mendapat minat beli. Kondisi ini sejalan dengan pandangan bahwa koreksi yang dalam sering kali memicu pembelian baru ketika harga dianggap sudah lebih rendah.
Meski demikian, pergerakan emas dalam satu hari tidak bisa dilepaskan dari konteks penurunan yang baru saja terjadi. Dalam dua hari beruntun sebelumnya, harga emas ambruk 2,48%. Karena itu, pemulihan yang terlihat pada Kamis bisa dibaca sebagai reaksi atas tekanan jual yang mulai mereda, bukan sebagai perubahan arah yang sepenuhnya stabil.
Dari sisi sentimen, kabar mengenai AS dan Iran menjadi salah satu sorotan utama. Informasi bahwa kedua pihak dikabarkan sudah mencapai perdamaian sementara, dengan masa gencatan senjata diperpanjang 60 hari, menambah warna pada pergerakan harga emas. Di pasar komoditas, perkembangan semacam ini kerap ikut menentukan arah beli atau jual dari para pelaku pasar.
Dengan harga yang kembali naik setelah dua hari turun, pertanyaan tentang jual atau beli pun kembali muncul. Namun yang pasti, pergerakan kemarin menunjukkan bahwa setelah koreksi yang cukup tajam, emas masih mampu bangkit dan kembali menarik perhatian pasar.












