jurnalistik.co.id – Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, mengingatkan para pembuat kebijakan agar tidak menaruh harapan berlebihan pada kecerdasan buatan (AI) untuk membantu meredam inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat. Menurut dia, mengandalkan kemungkinan lonjakan produktivitas di masa depan bukanlah cara yang aman untuk menyelesaikan tekanan harga yang sudah terjadi saat ini.
Pernyataan itu disampaikan Musalem dalam pidato tertulis pada konferensi di Reykjavík, Islandia, pada Kamis (28/5) waktu setempat. Dalam pandangannya, prospek bahwa AI akan mendorong produktivitas secara signifikan memang sering dibahas, tetapi hal itu tidak bisa dijadikan pegangan utama ketika inflasi masih menjadi masalah yang harus dihadapi The Fed hari ini.
“Saya rasa sangat berisiko jika kita mengandalkan prospek pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi di masa depan untuk menyelesaikan masalah inflasi yang kita hadapi hari ini,” ujar Musalem dalam pidato tertulisnya pada konferensi tersebut.
Peringatan itu muncul di tengah situasi yang kembali menambah kekhawatiran soal inflasi global. Perang dengan Iran telah memicu lagi tekanan harga di berbagai pasar, sehingga membuat pembahasan soal arah kebijakan moneter The Fed semakin sensitif. Dalam kondisi seperti itu, ruang bagi bank sentral AS untuk bertahan dengan sikap tenang menjadi makin sempit.
Sejumlah pembuat kebijakan pun disebut semakin sering mengingatkan bahwa suku bunga acuan Federal Reserve mungkin perlu dinaikkan lagi jika inflasi tetap tinggi. Nada kehati-hatian itu mencerminkan bahwa risiko harga belum dianggap selesai, terutama ketika sumber tekanan baru muncul dari perkembangan geopolitik dan dampaknya terhadap energi maupun pasar global.
Di sisi lain, risalah pertemuan The Fed pada 28-29 April lalu menunjukkan bahwa banyak pejabat bank sentral sebenarnya ingin menghapus kalimat dalam pernyataan resmi mereka bulan lalu yang memberi kesan adanya “kecenderungan pelonggaran” arah suku bunga. Pembahasan itu memperlihatkan bahwa bahasa kebijakan yang dipilih The Fed tetap menjadi perhatian penting, karena setiap perubahan redaksi dapat dibaca pasar sebagai sinyal arah kebijakan berikutnya.
Dalam konteks itu, komentar Musalem menegaskan bahwa The Fed belum bisa bersandar pada harapan bahwa kemajuan teknologi akan datang lebih cepat daripada persoalan inflasi yang masih berlangsung. AI mungkin tetap dipandang sebagai faktor yang berpotensi mengubah perekonomian dalam jangka panjang, tetapi untuk saat ini, menurut Musalem, inflasi tetap harus dihadapi dengan kebijakan yang berhati-hati dan tidak bertumpu pada asumsi optimistis semata.
Pesan yang disampaikan Musalem juga sejalan dengan kekhawatiran yang lebih luas di antara pejabat The Fed bahwa tekanan harga bisa kembali menguat jika gangguan global berlanjut. Karena itu, arah kebijakan suku bunga masih akan dipantau ketat, terutama ketika pasar menilai apakah bank sentral AS akan bertahan atau justru perlu bergerak lebih jauh untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Dengan nada itu, Musalem pada dasarnya ingin menekankan bahwa ekspektasi terhadap AI tidak boleh mengalihkan perhatian dari persoalan inti yang sedang menekan perekonomian saat ini. Lonjakan efisiensi, bila benar-benar terjadi, mungkin baru terasa dalam jangka yang lebih panjang. Namun bagi bank sentral, tantangan yang mendesak adalah memastikan tekanan harga yang sudah ada tidak semakin mengakar sebelum manfaat apa pun dari teknologi baru itu benar-benar muncul.
Ia juga menggarisbawahi bahwa pasar dan pembuat kebijakan cenderung cepat menangkap perubahan nada dari pejabat The Fed, termasuk ketika muncul sinyal kehati-hatian soal suku bunga. Karena itu, pesan yang disampaikannya dapat dibaca sebagai pengingat bahwa kebijakan moneter tidak bisa disandarkan pada skenario terbaik semata. Selama inflasi belum mereda secara meyakinkan, pendekatan yang terlalu optimistis justru berisiko membuat respons kebijakan menjadi terlambat.
Di tengah ketidakpastian yang dipicu ketegangan geopolitik, pandangan tersebut semakin memperjelas bahwa The Fed masih akan bergerak dengan kalkulasi yang ketat. AI mungkin tetap menjadi topik penting dalam diskusi ekonomi ke depan, tetapi untuk saat ini Musalem menegaskan bahwa bank sentral perlu tetap fokus pada data inflasi, risiko harga, dan arah kebijakan yang paling aman bagi stabilitas ekonomi secara keseluruhan.












