Bisnis & Ekonomi

Harga Minyak Belum Tembus 200 Dollar AS Meski Pasokan Terguncang

0
×

Harga Minyak Belum Tembus 200 Dollar AS Meski Pasokan Terguncang

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Belum Tembus 200 Dollar AS Meski Pasokan Terguncang Money 7 Juni 2026
Ilustrasi: Harga Minyak Belum Tembus 200 Dollar AS Meski Pasokan Terguncang

jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Penguatan ini didorong ketidakpastian penyelesaian konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) yang masih membayangi pasar energi global.

Dalam beberapa bulan terakhir, para pelaku industri energi kerap memperingatkan penutupan Selat Hormuz dapat memicu dampak ekonomi berskala besar. Jalur pelayaran tersebut selama ini mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Namun lebih dari tiga bulan setelah jalur itu terhambat akibat konflik di kawasan Teluk, harga minyak dunia justru belum melonjak setinggi yang dikhawatirkan banyak pihak. Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah masih bertahan di bawah level 100 dollar AS per barrel.

Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah prediksi analis yang sebelumnya memperkirakan harga bisa menembus 200 hingga 300 dollar AS per barrel. Di pasar, narasi “lonjakan tajam” itu tidak terjadi, meski suplai dari kawasan Timur Tengah terganggu.

Donald Trump bahkan menyinggung situasi tersebut pada Jumat (5/6/2026). Ia mengatakan, “Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk. Hari ini saya melihat harga minyak sekitar 96 dollar AS per barrel, padahal banyak yang memperkirakan bisa mencapai 300 dollar AS.”

Redaman dampak gangguan pasokan

Menurut pelaku pasar, kombinasi sejumlah faktor membantu meredam dampak hilangnya lebih dari 10 juta barel per hari pasokan minyak dari Timur Tengah. Salah satu penopangnya adalah lonjakan ekspor minyak AS.

Di sisi lain, pasar juga melihat perlambatan permintaan minyak China yang dinilai lebih tajam dari perkiraan. Masih adanya sebagian aliran minyak yang berhasil keluar melalui Selat Hormuz ikut menjadi penyangga tambahan.

Pelaku pasar menambahkan, kondisi surplus pasokan sebelum perang pecah turut membantu meredam lonjakan harga. Walau demikian, perhatian kini bergeser pada daya tahan penyangga tersebut.

Pasar juga menilai pentingnya waktu untuk mengetahui kapan arus minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali normal. Dengan begitu, pergerakan harga ke depan dipengaruhi oleh seberapa lama “buffer” ini mampu bertahan dan kapan gangguan pada jalur tersebut benar-benar mereda.

Permintaan China melemah

Salah satu kejutan terbesar datang dari China, yang merupakan importir minyak terbesar dunia. Data Vortexa Ltd menunjukkan impor minyak China pada Mei 2026 turun hampir 40 persen dibandingkan rata-rata tahun lalu.

Penurunan itu diperkirakan mampu mengimbangi sekitar seperlima hingga sepertiga pasokan yang hilang akibat perang. Dengan kata lain, berkurangnya kebutuhan impor China membantu menahan tekanan pada harga.

Selain penurunan impor, China juga disebut menghentikan laju penambahan cadangan strategis minyak. Perubahan kebijakan cadangan ini turut memengaruhi arah permintaan.

Permintaan minyak di China juga ditekan oleh pergeseran bahan baku industri petrokimia dari minyak ke batu bara. Faktor lain yang disebut adalah meningkatnya penggunaan kendaraan listrik yang mengurangi konsumsi bensin.

Lembaga riset Kpler dan Energy Aspects memperkirakan tingkat pengolahan kilang minyak China pada Mei dan Juni hanya sekitar 13 juta barrel per hari. Angka tersebut mendekati level yang terakhir terlihat pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020.

Nilai 13 juta barrel per hari itu juga dinilai jauh di bawah rata-rata 14,8 juta barrel per hari sepanjang tahun lalu. Dengan latar ini, pelemahan kinerja kilang menjadi salah satu sinyal bahwa kebutuhan minyak masuk masih tertekan.

Secara keseluruhan, pasar cenderung membaca bahwa kombinasi lonjakan ekspor AS, lemahnya permintaan China, serta masih tersisa aliran melalui Selat Hormuz menjadi alasan utama harga tidak langsung melesat ke kisaran prediksi terburuk. Namun, dinamika berikutnya tetap bergantung pada berapa lama penyangga tersebut dapat bertahan hingga arus melalui Selat Hormuz kembali normal.