Bisnis & Ekonomi

Harga Solar Industri Naik, Sektor Tambang Terancam PHK

0
×

Harga Solar Industri Naik, Sektor Tambang Terancam PHK

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Solar Industri Meradang, Siap-siap PHK di Sektor Tambang - Energi

jurnalistik.co.id – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mencatat harga solar industri mengalami kenaikan setelah penutupan jalur perdagangan migas di Selat Hormuz. Di wilayah Indonesia Timur, harga solar industri bahkan menembus Rp30.000 per liter, sebuah lonjakan yang langsung menekan biaya operasional pelaku tambang.

Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi Ardhi Ishak Koesen mengatakan kenaikan harga itu terjadi bersamaan dengan lesunya sektor pertambangan. Menurut dia, kondisi tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB 2026.

Di Kalimantan, tekanan serupa juga dirasakan. Ardhi menyebut harga solar industri di wilayah itu sudah bergerak di atas Rp20.000 per liter, padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp18.000 per liter.

Biaya bahan bakar jadi penekan utama

Perubahan harga itu menjadi persoalan besar bagi perusahaan tambang karena bahan bakar memegang porsi sangat besar dalam struktur ongkos produksi. Ardhi menyebut, saat ini porsi biaya bahan bakar dalam komponen biaya penambangan telah mencapai 40 persen.

Dengan porsi sebesar itu, setiap kenaikan harga solar industri langsung terasa pada biaya keseluruhan. Tekanan yang muncul bukan hanya dari satu sisi, melainkan dari kombinasi kenaikan harga energi dan pengetatan ruang produksi yang tengah dihadapi sektor tambang.

Perhapi menilai kondisi tersebut makin berat karena para penambang sebenarnya sudah memikul berbagai tekanan sejak awal tahun ini. Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga solar industri membuat beban biaya menjadi semakin sulit dikendalikan.

Tekanan berlapis di sektor tambang

Lonjakan harga solar industri di Indonesia Timur dan Kalimantan memperlihatkan bahwa dampak gejolak energi tidak terjadi merata, tetapi tetap sama-sama menekan industri yang bergantung pada bahan bakar dalam volume besar. Di lapangan, kenaikan harga itu berpotensi memaksa perusahaan menghitung ulang efisiensi, biaya logistik, dan ritme operasi mereka.

Di saat bersamaan, pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026 menambah tekanan dari sisi lain. Kombinasi itu membuat sektor pertambangan menghadapi situasi yang kian berat, karena biaya naik sementara ruang produksi justru menyempit.

Dengan beban yang datang bersamaan dari harga solar industri dan pembatasan produksi, sektor tambang kini berada dalam posisi yang serba terjepit. Perhapi menggambarkan kondisi ini sebagai periode sulit yang datang ketika penambang masih harus menanggung tekanan yang menumpuk sejak awal tahun.

Kondisi itu juga menunjukkan bahwa beban operasional penambang tidak lagi berdiri sendiri. Saat harga bahan bakar naik tajam, perusahaan tidak hanya menghadapi kenaikan biaya langsung di lapangan, tetapi juga harus menyesuaikan ulang perhitungan kerja agar tetap efisien di tengah ruang produksi yang makin sempit. Dalam situasi seperti ini, setiap perubahan kecil pada harga solar industri bisa berdampak besar pada keseluruhan struktur biaya.

Di sisi lain, perbedaan harga antara satu wilayah dan wilayah lain menegaskan bahwa tekanan yang dirasakan pelaku usaha tambang tidak seragam, meski arahnya sama-sama memberatkan. Kenaikan yang terjadi di Indonesia Timur dan Kalimantan memperlihatkan bahwa faktor energi masih menjadi salah satu komponen paling sensitif bagi industri yang sangat bergantung pada mobilitas alat berat dan distribusi logistik. Begitu harga bahan bakar melonjak, daya tahan operasional ikut tergerus.

Karena itu, kombinasi antara mahalnya solar industri dan pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026 membuat pelaku tambang harus bergerak lebih hati-hati. Mereka tidak lagi cukup hanya menghadapi satu tekanan, melainkan serangkaian beban yang datang bersamaan dan saling memperkuat. Dalam kerangka seperti ini, ruang untuk menjaga stabilitas usaha menjadi makin terbatas, sementara upaya mempertahankan efisiensi justru menuntut penyesuaian yang lebih cepat dan lebih disiplin.