Bisnis & Ekonomi

PT Samwon Menjelaskan Penutupan Pabrik Jepara, Terjerat Kerugian Usai Pesanan Turun

×

PT Samwon Menjelaskan Penutupan Pabrik Jepara, Terjerat Kerugian Usai Pesanan Turun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: PT Samwon Buka Suara soal Penutupan Pabrik Jepara, Terus Merugi Usai Orderan Lesu

jurnalistik.co.id – PT Samwon Busana Indonesia memastikan pabrik garmen di Jepara akan menghentikan operasional mulai Agustus 2026. Keputusan ini diambil setelah perusahaan terus mencatat kerugian akibat pesanan yang melemah sejak pandemi Covid-19.

Perusahaan menyebut lokasi pabrik berada di Desa Damarjati, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. HR Manager PT Samwon Busana Indonesia, Taufan Adi Susilo, mengatakan penurunan pesanan membuat upaya penyelamatan yang dilakukan tidak lagi mampu menjaga keberlangsungan pabrik tersebut.

Dalam penjelasannya, Taufan menyampaikan bahwa kondisi yang terus memburuk pada akhirnya berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK). PHK dilakukan untuk seluruh karyawan yang masih bekerja di fasilitas produksi tersebut.

Taufan menjelaskan bahwa pabrik Jepara sebenarnya memiliki kapasitas hingga 4.000 pekerja. Pada masa ketika operasional berjalan di puncaknya, perusahaan pernah mempekerjakan 2.200 orang.

Namun, situasi berubah setelah pandemi Covid-19 menekan permintaan pasar ekspor. Perusahaan berupaya bertahan melalui penguatan jaringan buyer serta langkah efisiensi, tetapi hasilnya belum cukup untuk mengangkat kinerja bisnis.

Taufan juga menyinggung bahwa penurunan order membuat perusahaan tidak mampu mempertahankan struktur tenaga kerja yang ada. Ia menyampaikan bahwa jika ada karyawan yang mengundurkan diri, posisi tersebut tidak dapat digantikan.

“Karena kondisi permintaan orderan semakin turun, yang resign tidak ganti dan sudah ada upaya efisiensi karyawan agar bisa bertahan, namun nyatanya tidak bisa,” ujar Taufan.

Ia menegaskan penyebab utama penutupan pabrik di Jepara murni berkaitan dengan anjloknya permintaan produk hingga sekitar 30 persen. Taufan menyebut kerugian terus berlanjut karena pesanan belum kembali seperti sebelum pandemi, bahkan sebagian buyer menghentikan pemesanan.

“Alasan mengapa PT Samwon tutup, karena pasca Covid-19 sampai sekarang, kami mengalami kerugian terus-menerus,” jelas Taufan.

Menurut Taufan, dalam situasi seperti ini PHK merupakan langkah yang tidak bisa dihindari untuk karyawan. Ia menambahkan bahwa kondisi perusahaan di Semarang saat ini dinilai masih aman dibandingkan dengan pabrik Jepara.

“Untuk karyawan memang tidak bisa dihindari harus ambil langkah PHK. Untuk perusahaan di Semarang saat ini masih aman,” tambahnya.

Di tengah proses penyelesaian produksi, perusahaan masih mempekerjakan sekitar 680 karyawan. Para pekerja tersebut diarahkan untuk menyelesaikan seluruh pesanan yang masih ada hingga akhir Juli 2026.

Operasional pabrik dijadwalkan berakhir pada 31 Juli. Setelah itu, perusahaan memutuskan pabrik akan berhenti beroperasi pada awal Agustus 2026.

Perusahaan juga pernah mencoba strategi pengembangan produk baru sebagai bagian dari upaya mempertahankan usaha. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat kemeja perempuan melalui piloting project di pabrik Semarang.

Namun, Taufan menyebut percobaan tersebut tidak berhasil sehingga tidak bisa diterapkan untuk menopang operasional pabrik Jepara. Dengan demikian, rencana diversifikasi produk tidak menjadi penyangga yang cukup untuk menahan dampak penurunan permintaan.

Dengan keputusan penutupan ini, seluruh proses produksi yang tersisa diarahkan pada penyelesaian pesanan hingga batas waktu yang telah ditetapkan. Setelah pesanan tersebut selesai, operasional fasilitas di Jepara akan berhenti sepenuhnya sesuai jadwal perusahaan.

Penjelasan Taufan disampaikan pada konteks kerugian yang berlangsung sejak pandemi. Ia menyatakan bahwa kombinasi melemahnya order, efisiensi yang tidak memulihkan kinerja, serta penghentian sebagian pemesanan dari buyer menjadi alasan mendasar yang mendorong PT Samwon mengambil keputusan untuk menutup pabrik garmen di Jepara.

Sejauh ini, perusahaan menempatkan pabrik Semarang sebagai lokasi yang masih dapat melanjutkan operasional. Sementara itu, pabrik Jepara dinyatakan sudah tidak lagi dapat dipertahankan karena kerugian terus terjadi dan permintaan pasar tidak menunjukkan pemulihan yang cukup.