jurnalistik.co.id – Houthis menyatakan telah menyerang dua tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah. Klaim itu muncul setelah Amerika Serikat melancarkan rangkaian serangan lanjutan terhadap Iran.
Menurut laporan media pemerintah Iran, serangan AS pada Rabu menewaskan dua orang. Di saat yang sama, sebuah tanker disebut mengalami kebakaran dalam ledakan di jalur perairan yang diberi kode rentan di kawasan Selat Hormuz.
Sebelum serangan terbaru, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengeluarkan peringatan terkait dampak di kawasan selat. Ia mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran jika Iran menyerang kapal di selat, serta menyatakan akan “take care of” Houthis bila mereka menghalangi pelayaran di Laut Merah.
Klaim Houthis menyebut mereka menutup Bab al-Mandab, sebuah jalur pelayaran penting yang menjadi gerbang menuju Laut Merah. Jika pernyataan tersebut dikonfirmasi, serangan ini disebut sebagai yang pertama sejak kelompok yang didukung Iran itu mengumumkan “maritime embargo” terhadap Saudi Arabia.
Houthis menyebut nama dua kapal yang ditargetkan, yakni Encelia dan Layla. Namun hingga berita ini ditulis, tidak ada konfirmasi terpisah yang menyatakan apakah Houthis benar bertanggung jawab penuh atas serangan ke kapal Layla.
Juru bicara militer Houthis, Yahya Saree, mengatakan mereka menggunakan drone dan rudal untuk menargetkan kapal yang dinilai melanggar blokade laut kelompok tersebut. Saree juga menyatakan Houthis berjanji melanjutkan operasi maritim dan terus “enforcing the ‘siege for a siege’ equation”.
Dari sisi pemantauan maritim, UK Maritime Trade Operation (UKMTO) melaporkan sebuah “unknown projectile” menghantam kapal tanker Saudi sekitar 130 km dari Al Shuqaiq pada pukul 20:00 GMT. Laporan itu menyebut insiden menimbulkan kebakaran, tetapi tidak ada korban jiwa.
Reuters juga melaporkan kelompok manajemen risiko maritim Vanguard menyatakan tanker Encelia mengalami hantaman. Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan pada pukul 21:30 GMT mereka melancarkan serangan atas arahan Trump untuk “further degrade Iran’s ability to threaten civilian mariners and commercial vessels transiting regional waters”.
Berita Terkait
Beberapa negara di kawasan segera menyampaikan respons terhadap ancaman dari udara. Kuwait, Yordania, dan Bahrain melaporkan langkah terkait peringatan terbang, sebelum Iran menyebut mereka menargetkan aset AS di ketiga negara tersebut, menurut AFP.
Di kawasan Teluk, media pemerintah Iran menyatakan dua orang tewas akibat serangan AS di wilayah selatan Iran dekat perbatasan dengan Irak. Reuters kemudian melaporkan pernyataan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) bahwa Selat Hormuz “completely closed” setelah ledakan terjadi di saluran tersebut.
IRGC menyebut mereka menghentikan tiga kapal tanker minyak agar tidak melewati selat. Media Iran melaporkan satu kapal mengalami kebakaran, sedangkan dua lainnya berbalik arah setelah mencoba melewati rute yang disebut telah ditambang di bagian selatan selat.
Konflik ini bergulir menyusul janji Trump untuk melakukan tindakan terhadap sasaran Iran di kawasan Hormuz apabila kapal-kapal menjadi target serangannya. Menyusul langkah tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kemudian memperingatkan adanya respons “eye for an eye”.
Adapun terkait “maritime embargo”, Houthis tidak merinci banyak detail ketika mengumumkannya pada Senin. Namun seorang pejabat media menyebut mereka akan menutup Bab al-Mandab Strait—gerbang Laut Merah di bagian selatan—untuk kapal-kapal yang menuju Saudi Arabia.
Laut Merah kini menjadi jalur yang semakin krusial bagi pengiriman minyak dari Arab Saudi, khususnya di tengah ketegangan yang membuat Selat Hormuz praktis mengalami penutupan efektif. Dalam situasi seperti ini, ancaman Houthis dapat memicu gangguan tambahan pada pelayaran internasional, sementara konflik di kawasan juga telah membuat harga bahan bakar berfluktuasi secara signifikan di pasar global.
Houthis juga mengklaim dampak langsung pada pelayaran di sekitar area tersebut. Saree menyebut kelompoknya telah “forced approximately ten ships to retreat and return”. Dalam laporan lain, setidaknya tujuh kapal tanker minyak dikabarkan melakukan putar balik di dekat Yaman sejak embargo diberlakukan.
Di latar belakang diplomasi, perundingan damai antara AS dan Iran disebut mengalami hambatan. Kedua negara menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada Juni untuk menghentikan operasi militer dan membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus menargetkan kesepakatan mengakhiri perang dalam waktu 60 hari, tetapi tiga minggu setelah penandatanganan, Trump menyatakan gencatan senjata “over” setelah serangan Iran ke kapal di Hormuz dan balasan serangan AS.












