Bisnis & Ekonomi

IHSG Anjlok 3,46%, Bertahan di Level Terendah Setahun

15
×

IHSG Anjlok 3,46%, Bertahan di Level Terendah Setahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Ditutup Turun 3,46%, Parkir di Level Terendah Setahun Terakhir

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan tajam pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Pada penutupan pasar, indeks parkir di level 6.370,68, turun 228,56 poin atau 3,46% dan menjadi posisi terendah dalam satu tahun terakhir.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak bergejolak. Pada sesi pertama, indeks sempat masuk ke zona hijau, tetapi menjelang akhir sesi 1 tekanan jual meningkat dan IHSG gagal memantul hingga penutupan.

Secara pasar, kondisi hari ini didominasi warna merah. Sebanyak 647 emiten berakhir melemah, hanya 117 emiten yang naik, sementara 195 emiten lainnya stagnan.

Nilai transaksi juga terbilang ramai. Total transaksi mencapai Rp 25,71 triliun, dengan 43,29 miliar saham berpindah tangan dalam 2,77 juta kali transaksi. Di sisi asing, pembelian bersih pada sesi pertama tercatat sebesar Rp 321,3 miliar.

Merdeka Copper Gold (MDKA) menjadi emiten dengan net buy asing terbesar, yakni Rp 236,1 miliar. Setelah itu menyusul Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp 112 miliar, Bumi Resources (BUMI) Rp 69,7 miliar, Darma Henwa (DEWA) Rp 55,5 miliar, dan Telkom (TLKM) Rp 52,6 miliar. Menariknya, sebagian besar saham tersebut justru mengalami koreksi pada perdagangan hari ini.

Tekanan dari saham berkapitalisasi besar

Mengutip Refinitiv, tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari saham-saham yang dikeluarkan dari indeks Global Standard MSCI. Penurunan sejumlah saham berkapitalisasi besar itu memberi bobot besar terhadap pelemahan indeks secara keseluruhan.

Bank Central Asia (BBCA) menjadi beban terbesar IHSG hari ini. Saham tersebut turun 2,86% dan menyumbang bobot 16,39 poin terhadap penurunan indeks.

Selain BBCA, saham-saham yang dihapus MSCI seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Chandra Asri Pasific (TPIA), dan Amman Mineral (AMMN) juga memberi tekanan besar. Masing-masing menyumbang bobot -11,46 poin, -11,16 poin, dan 8,51 poin terhadap IHSG.

TPIA dan DSSA bahkan tercatat anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) atau 15%. Sementara itu, AMMN sempat mendekati zona ARB dan akhirnya ditutup merosot 8,12%.

Tekanan terhadap IHSG sejak akhir pekan lalu memang banyak datang dari saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index. Saham-saham ini menjadi perhatian pasar karena bobot dan pengaruhnya yang besar terhadap pergerakan indeks.

Sinyal baru dari FTSE dan rupiah yang melemah

Tekanan di bursa juga bertambah setelah penyedia indeks global lain, FTSE, ikut memberi sinyal soal masa depan saham-saham Indonesia yang tergabung dalam indeks buatannya.

Dalam pengumuman terbaru bertajuk “Index Treatment for the June 2026 Index Review” yang dirilis Rabu (13/5/2026), FTSE memberikan sinyal keras terkait potensi penghapusan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aturan ini diterbitkan menyusul upaya otoritas pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi, termasuk publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC).

Di dalam dokumen tersebut, FTSE Russell menegaskan bahwa jika sebuah perusahaan menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan saham dari otoritas bursa dan keuangan, di mana saham beredar hanya dikuasai segelintir pihak, maka saham tersebut akan didepak dari indeks pada tinjauan berikutnya.

“Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026,” tulis pengumuman resmi tersebut.

Kebijakan “harga nol” itu diambil karena FTSE menilai likuiditas saham HSC cenderung memburuk secara material. Investor institusi pengelola dana indeks atau passive fund dikhawatirkan tidak akan menemukan pembeli yang cukup jika harus keluar dari saham tersebut secara mendadak.

Di saat bersamaan, rupiah juga ikut menjadi sumber tekanan bagi pasar saham. Pada pukul 12.49 WIB, rupiah melemah 0,51% ke level Rp17.730 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan, mata uang Garuda masih melemah 0,31% ke level Rp17.695 per dolar AS.

Meski sedikit menjauh dari area Rp17.700 per dolar AS, posisi penutupan itu tetap tercatat sebagai level terendah sepanjang sejarah rupiah. Pelemahan sudah terlihat sejak pembukaan, ketika rupiah dibuka turun tipis 0,06% ke level Rp17.650 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia terpantau stabil. Pada pukul 15.00 WIB, DXY berada di level 99,172.

Gabungan tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar, aksi jual pada emiten yang tersingkir dari indeks global, serta pelemahan rupiah membuat IHSG kembali terbenam. Dengan posisi akhir hari ini, indeks mencatat level terendahnya dalam setahun terakhir dan mempertegas sentimen pasar yang masih rapuh.