jurnalistik.co.id – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) memandang industri otomotif nasional masih memiliki daya tahan yang kuat meski penjualan kendaraan mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut TMMIN, kekuatan industri terutama ditopang oleh besarnya pasar domestik dan konsistensi ekspor yang terus berjalan.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menilai penurunan penjualan memang memberi tekanan, namun belum menunjukkan bahwa fondasi industri otomotif di Indonesia sudah melemah.
“Industri otomotif punya resiliensi yang bagus. Kita punya pasar ekspor yang capai 500.000 unit dan ini menolong di saat domestik melambat. Pasar domestik kita juga besar,” ujar Bob Azam saat dihubungi Kompas.com, Senin (29/6/2026).
Meski demikian, Bob menekankan bahwa titik paling berat justru berada pada sektor komponen. Baginya, sektor ini menjadi penopang utama karena menyumbang sekitar 75 persen dari rantai nilai (value chain) industri otomotif.
Tekanan berlapis pada industri komponen
Bob menjelaskan produsen komponen saat ini menghadapi tekanan yang datang dari banyak arah. Industri komponen, yang padat modal dan padat karya, harus menanggung kenaikan biaya tenaga kerja.
Di saat yang sama, pelaku usaha juga menghadapi tarif energi yang lebih tinggi serta kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas produksi.
Perubahan kebutuhan pasar juga turut membuat industri komponen semakin tidak mudah. Sebab, sebagian besar pabrik komponen di Indonesia masih memproduksi komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).
Ketika pasar bergeser ke EV, rantai pasok ikut tertantang
Bob menyatakan ketergantungan pada komponen ICE membuat industri komponen belum ikut merasakan pertumbuhan yang dialami kendaraan listrik. Ia menegaskan kondisi tersebut karena ekosistem produksi lokal belum berpindah sesuai arah pasar.
“Hampir 100 persen pabrik komponen kita adalah komponen ICE. Belum ada komponen mobil listrik,” kata Bob.
Dalam gambaran yang ia sampaikan, pasar kendaraan baru di Indonesia sekitar 800.000 unit. Dari jumlah tersebut, sekitar 200.000 unit kini berasal dari kendaraan listrik.
Dengan komposisi tersebut, permintaan terhadap komponen ICE ikut menurun. Namun, industri lokal belum banyak masuk ke rantai pasok kendaraan listrik, sehingga transisi berjalan dengan ketimpangan.
Bob merangkum situasi tersebut sebagai tantangan besar bagi industri komponen. “Inilah yang disebut pabrik komponen berdarah-darah,” ujarnya.
Ia juga menilai kondisi ini tidak cukup ditangani hanya dengan mengandalkan pasar yang masih ada. Perubahan struktur permintaan menuntut penyesuaian kapasitas dan investasi yang tidak bisa dilakukan secara instan oleh pelaku industri.
Karena itu, Bob menekankan perlunya keberlanjutan arah kebijakan agar industri dapat merencanakan langkah transformasi secara lebih terukur.
Menurutnya, kepastian arah kebijakan pemerintah menjadi faktor penting dalam transisi industri. Pasalnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diberikan kepada kendaraan listrik.
Namun, ekosistem komponen untuk kendaraan listrik masih didominasi negara lain. Ketimpangan ini membuat industri komponen dalam negeri berada pada posisi yang sulit untuk mempercepat integrasi ke rantai pasok EV.
“Yang harus dibicarakan adalah industri komponen apa yang akan dilokalisasi di Indonesia. Kemudian bagaimana dia berkolaborasi dengan industri komponen yang sudah ada. Baru itu namanya positive cycle,” kata Bob.
Dengan pendekatan tersebut, TMMIN berharap proses lokalisasi komponen tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan kendaraan listrik, melainkan juga pada kesiapan industri komponen untuk berkolaborasi dan bergerak bersama.
Bob menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa penguatan sektor komponen akan menentukan seberapa kuat industri otomotif nasional menghadapi perubahan pasar, baik dari sisi domestik maupun ekspor.












