Bisnis & Ekonomi

IHSG Menguat di Tengah FTSE Rebalancing, Saham Bank Jumbo Jadi Penopang

0
×

IHSG Menguat di Tengah FTSE Rebalancing, Saham Bank Jumbo Jadi Penopang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Menghijau Meski FTSE Rebalancing, Bank Jumbo Jadi Penahan Koreksi

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (25/5/2026) meski pasar sempat dibayangi sentimen negatif dari rebalancing indeks FTSE Russell yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks globalnya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup naik 0,72 persen ke level 6.206,349. Penguatan itu terutama ditopang kenaikan saham-saham big caps perbankan yang memiliki bobot dominan terhadap pergerakan indeks.

Di tengah tekanan sentimen FTSE, arah pasar pada akhirnya tidak sepenuhnya bergeser ke zona merah. Sejumlah saham berkapitalisasi besar justru bergerak menguat dan memberi penyangga yang cukup bagi IHSG untuk bertahan. Situasi ini membuat dampak rebalancing FTSE kali ini relatif terbatas jika dibandingkan dengan dukungan yang datang dari saham-saham super big caps di sektor keuangan dan telekomunikasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, efek rebalancing FTSE memang tidak terlalu besar pada perdagangan kali ini. Menurut dia, saham-saham yang dikeluarkan tidak memiliki kontribusi dominan terhadap pembentukan arah indeks utama bursa domestik. Karena itu, pelemahan pada satu saham besar belum tentu cukup untuk mengubah warna perdagangan IHSG secara keseluruhan.

“Saham yang keluar seperti DSSA memang memiliki kapitalisasi pasar yang cukup besar, namun bobotnya terhadap pergerakan harian IHSG tidak se-signifikan saham super big caps seperti BBRI, BBCA, BMRI, atau TLKM,” ujar Nafan kepada Kompas.com, Senin (25/5/2026).

Nama yang paling terasa berada di bawah tekanan adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Saham emiten Grup Sinar Mas tersebut anjlok 11,93 persen ke level Rp 480. Sepanjang perdagangan, DSSA bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup di area terendah harian. Tekanan itu muncul setelah FTSE Russell mengumumkan pengeluaran saham tersebut dari kategori large cap FTSE Global Equity Index Series (GEIS) akibat tingginya konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration (HSC).

Meski DSSA tertekan cukup dalam, pelemahannya tidak cukup kuat untuk menyeret IHSG ikut terkoreksi. Pasar justru mendapatkan dukungan dari penguatan saham perbankan besar yang selama ini memang menjadi penopang utama indeks. Kenaikan pada saham-saham ini membuat tekanan dari satu emiten besar dapat terserap oleh pergerakan yang lebih luas di papan utama.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi salah satu penopang terbesar setelah ditutup melonjak 3,93 persen ke level Rp 3.170. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menguat 3,39 persen menjadi Rp 6.100, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,43 persen ke level Rp 4.220. Di sisi lain, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turut menopang indeks dengan kenaikan 0,34 persen ke posisi Rp 2.930.

Pergerakan itu menunjukkan bahwa bobot saham-saham super big caps masih sangat menentukan arah IHSG ketika pasar menghadapi sentimen korporasi yang datang dari luar negeri. Dalam perdagangan Senin itu, tekanan pada DSSA tidak berkembang menjadi pelemahan yang lebih luas karena dukungan dari BBRI, BBCA, BMRI, dan TLKM datang bersamaan. Hasilnya, IHSG tetap mampu menutup hari dengan kenaikan, meski dibayangi kabar rebalancing FTSE Russell.

Dengan kondisi tersebut, pasar terlihat masih selektif dalam merespons setiap sentimen yang muncul. Rebalancing FTSE memang sempat memberi tekanan pada satu saham besar, tetapi penguatan serentak di saham perbankan jumbo menjaga sentimen tetap positif. Pada akhirnya, IHSG menutup perdagangan dengan warna hijau, sementara investor menilai kembali posisi saham-saham berkapitalisasi besar yang masih menjadi penggerak utama indeks.