Bisnis & Ekonomi

IHSG Terkoreksi 3,17 Persen di Pagi Hari, Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dolar AS

1
×

IHSG Terkoreksi 3,17 Persen di Pagi Hari, Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
IHSG Anjlok 3,17 Persen Pagi Ini, Rupiah Terperosok ke Rp 17.900 per Dollar AS Money 3 Juni 2026
Ilustrasi: IHSG Anjlok 3,17 Persen Pagi Ini, Rupiah Terperosok ke Rp 17.900 per Dollar AS

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi. Hingga sekitar pukul 10.30 WIB, indeks terkoreksi 196,579 poin atau 3,17 persen ke level 5.998,847.

Pergerakan itu memperlihatkan bahwa tekanan jual sudah terbentuk sejak sesi dibuka. IHSG memulai perdagangan di area 6.207,102, lalu langsung bergerak di zona merah dan terus melemah sampai menyentuh posisi terendah 5.995,012.

Di sisi lain, posisi tertinggi IHSG pada sesi pagi hanya sempat mencapai 6.213,801. Dengan rentang pergerakan seperti itu, indeks belum mampu membentuk rebound yang berarti dan tetap bergerak lebih dekat ke area terendahnya sepanjang pagi.

Tekanan pada IHSG juga terlihat dari komposisi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebanyak 607 saham melemah, jauh lebih banyak dibanding 88 saham yang menguat. Adapun 114 saham lainnya bergerak stagnan.

Dominasi warna merah tersebut menandakan pelemahan tidak hanya terjadi pada indeks utama, tetapi juga merata pada banyak emiten. Pada saat yang sama, aktivitas transaksi tetap berlangsung dengan nilai mencapai Rp 9,157 triliun, volume perdagangan 15,274 miliar saham, dan frekuensi transaksi 1,14 juta kali.

Di tengah pelemahan itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ikut turun menjadi Rp 10.540,217 triliun. Data ini memperlihatkan bahwa koreksi IHSG pada sesi pagi berlangsung dalam skala yang cukup besar, sejalan dengan tekanan yang juga dirasakan oleh mayoritas saham.

Secara year to date (YTD), IHSG tercatat anjlok 28,35 persen. Dalam periode yang sama, investor asing juga membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp 64,82 triliun. Dua data ini menunjukkan bahwa pelemahan indeks tidak terjadi hanya pada perdagangan hari itu, melainkan juga dalam tren yang lebih panjang sejak awal tahun.

Tekanan pasar saham tersebut juga beriringan dengan pelemahan rupiah di pasar spot pada pembukaan perdagangan Rabu. Mata uang Garuda terdepresiasi 80,50 poin atau 0,45 persen ke level Rp 17.919 per dolar Amerika Serikat.

Dengan posisi itu, rupiah kembali bergerak di area yang sangat tertekan pada awal perdagangan. Sementara IHSG masih berada di bawah level 6.000, rupiah pun belum mampu keluar dari tekanan yang terlihat sejak pembukaan sesi pagi.

Secara keseluruhan, perdagangan pagi hari itu memperlihatkan dua tekanan sekaligus pada pasar keuangan domestik. IHSG terkoreksi tajam, mayoritas saham berada di zona merah, kapitalisasi pasar menyusut, dan rupiah ikut melemah di pasar spot.

Data perdagangan yang tercatat hingga sekitar pukul 10.30 WIB menunjukkan bahwa pasar belum menemukan penopang yang cukup kuat untuk membalik arah. IHSG tetap bergerak dalam tekanan, sementara rupiah juga masih bertahan di level yang lemah pada awal perdagangan Rabu.

Jika dilihat dari pola pergerakan pagi itu, pasar belum memberi sinyal stabilisasi yang meyakinkan. IHSG sempat bergerak di atas 6.200 saat pembukaan, tetapi tekanan jual yang muncul sejak awal membuat indeks cepat kehilangan tenaga dan terus tertahan di bawah level psikologis 6.000. Kondisi seperti ini biasanya mencerminkan sentimen yang masih rapuh, karena setiap upaya naik belum cukup kuat untuk bertahan lebih lama di area hijau.

Situasi yang sama juga tampak pada saham-saham yang diperdagangkan di BEI. Ketika jumlah emiten yang melemah jauh lebih besar dibanding yang menguat, pergerakan indeks cenderung sulit pulih dalam waktu singkat. Ditambah dengan penurunan kapitalisasi pasar dan arus keluar asing yang masih tercatat besar secara year to date, pasar domestik tampak masih berada dalam fase hati-hati, dengan ruang rebound yang belum terbentuk secara solid pada sesi pagi itu.