jurnalistik.co.id – Lonjakan harga energi akibat konflik Iran mulai memunculkan kekhawatiran baru terhadap arah inflasi global. Di Amerika Serikat, tekanan itu terasa semakin besar karena kenaikan harga minyak dan bahan bakar tidak lagi berhenti di sektor energi, tetapi mulai merembet ke berbagai bagian ekonomi.
Bloomberg melaporkan, indikator inflasi favorit Federal Reserve, yakni indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE), diperkirakan naik menjadi 3,8% secara tahunan pada April 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 3,5% pada Maret.
Jika proyeksi tersebut benar, inflasi AS akan naik satu poin persentase hanya dalam dua bulan terakhir. Laju itu juga akan menjadi inflasi tercepat sejak akhir 2021. Dengan demikian, tekanan harga yang muncul kali ini tidak lagi bisa dibaca sebagai gejala sementara yang hanya menyentuh energi semata.
Yang membuat perhatian makin besar adalah inflasi inti. Komponen ini mengecualikan energi dan pangan, sehingga sering dipakai untuk melihat arah tekanan harga yang lebih mendasar. Bloomberg memperkirakan inflasi inti AS akan naik ke 3,3%, dari 3,2% sebelumnya.
Level tersebut disebut sebagai yang tertinggi sejak akhir 2023. Artinya, dalam pembacaan Bloomberg, tekanan harga yang sedang bergerak naik sudah menjangkau lapisan yang lebih luas, bukan sekadar efek langsung dari mahalnya minyak atau bahan bakar.
Efek perang mulai menjalar
Kondisi ini menandakan dampak perang mulai menjalar ke biaya produksi, distribusi, hingga konsumsi rumah tangga. Ketika energi bergerak naik, beban itu biasanya tidak berhenti di harga di pom bensin atau tagihan transportasi. Tekanan kemudian bisa muncul di rantai biaya yang lebih panjang.
Dalam situasi seperti itu, perusahaan harus berhadapan dengan ongkos operasional yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, rumah tangga juga merasakan tekanan dari kenaikan biaya hidup yang ikut terdorong oleh pergerakan harga energi.
Karena itulah, lonjakan harga energi akibat konflik Iran menjadi perhatian bukan hanya bagi pelaku pasar, tetapi juga bagi otoritas moneter seperti The Fed. Data inflasi yang kembali menguat berpotensi menambah tekanan baru dalam upaya menjaga kestabilan harga.
Bagi The Fed, pembacaan inflasi yang lebih tinggi berarti ruang gerak kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Ketika inflasi utama dan inflasi inti sama-sama bergerak naik, sinyal yang diterima pasar menjadi lebih tegas: tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
Itu juga menjelaskan mengapa sorotan terhadap PCE tetap sangat besar. Sebagai indikator favorit Federal Reserve, angka ini kerap menjadi rujukan penting untuk melihat apakah inflasi bergerak sesuai arah yang diharapkan atau justru kembali memanas.
Dalam konteks saat ini, kenaikan proyeksi PCE dari 3,5% menjadi 3,8% menjadi penanda bahwa dorongan harga dari konflik Iran bukan persoalan kecil. Bersama inflasi inti yang naik ke 3,3%, data itu memperlihatkan bahwa tekanan inflasi di AS kembali mendapat bahan bakar baru.
Karena tekanan itu datang dari energi, dampaknya juga berpotensi lebih luas. Harga minyak dan bahan bakar yang meningkat bisa memengaruhi banyak sektor sekaligus, sehingga pembacaan inflasi ke depan akan sangat bergantung pada seberapa jauh lonjakan tersebut bertahan.
Dengan inflasi AS yang diperkirakan mencapai level tertinggi sejak akhir 2021 dan inflasi inti yang turut naik ke titik tertinggi sejak akhir 2023, kekhawatiran baru terhadap arah inflasi global pun makin sulit diabaikan. Pada saat yang sama, The Fed kembali menghadapi tekanan dari sebuah perang yang efek ekonominya terus meluas.












