jurnalistik.co.id – Lonjakan biaya hidup di Australia membuat tekanan finansial makin terasa bagi sejumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi dengan beasiswa. Kenaikan kebutuhan harian tidak hanya berdampak pada pengeluaran rutin, tetapi juga menyentuh keputusan keluarga soal tempat tinggal dan pengelolaan uang saku.
Data terbaru Biro Statistik Australia (ABS) menunjukkan biaya hidup berbagai kelompok rumah tangga naik sekitar 3,7 hingga 4,7 persen dalam setahun hingga Juni 2026. Meski biaya kuliah serta sejumlah kebutuhan penerima beasiswa ditanggung oleh Pemerintah Indonesia atau Pemerintah Australia, tekanan itu bisa terasa lebih berat ketika pasangan dan anak turut tinggal di sana.
Pola serupa juga muncul dari cerita Sitti Rahma Yunus, dosen dari Makassar yang sedang menjalani studi doktoral. Ia menempuh PhD di bidang pendidikan di University of Queensland dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sejak Januari 2025.
Rahma tinggal di Brisbane, Queensland, bersama suami dan empat anaknya di sebuah rumah di kawasan Taringa. Pada tahun pertama, ia menyewa tempat tinggal seharga sekitar 620 dollar Australia (Rp 7,86 juta) per minggu.
Ketika biaya sewa meningkat menjadi sekitar 680 dollar Australia (Rp 8,6 juta) per minggu, Rahma memilih berpindah. Kini ia bersama keluarganya menempati rumah yang lebih kecil dengan dua kamar tidur, dengan biaya sewa sekitar 400 dollar Australia (Rp 5 juta) per minggu.
Rahma menjelaskan beban itu berhubungan langsung dengan tunjangan yang diterimanya. Ia mengatakan, āKita dapat living allowance 2.700 dollar Australia (Rp 34,25 juta) (per bulan), kalau 620 dollar Australia kita bayar per minggu itu, jatuhnya 2.400 dollar Australia (Rp 30,44 juta) (per bulan),ā katanya, yang menerima tunjangan biaya hidup setiap tiga bulan.
Dalam penuturannya, ia menilai sebagian besar tunjangan habis hanya untuk biaya rumah. Ia menambahkan, āUdah habis untuk (sewa) rumah aja itu living allowance .ā
Tekanan soal hunian juga tercermin dari survei. Dalam survei Study Australia akhir 2025, 41 persen mahasiswa internasional menyatakan kesulitan mencari tempat tinggal, menjadikan sewa sebagai salah satu masalah utama saat beradaptasi di negeri baru.
Berita Terkait
Rahma menyebut ia menerima tambahan tunjangan keluarga untuk suami dan satu anak. Rujukannya adalah Buku Panduan Pencairan Keuangan Beasiswa 2025 LPDP, yang menyebut penerima program doktoral dapat memperoleh tunjangan keluarga untuk maksimal dua anggota keluarga, masing-masing sebesar 25 persen dari Dana Hidup Bulanan penerima beasiswa.
Meski ada skema tunjangan, Rahma mengaku persiapan finansial sebelum membawa keluarga tidak ringan. Sebelum membawa keluarganya ke Australia, ia harus meminjam sekitar Rp 400 juta ke bank.
Dari pinjaman itu, sekitar Rp 300 juta digunakan untuk membeli asuransi kesehatan di Australia bagi suami dan anak-anaknya yang tidak ditanggung LPDP. Sisanya, ia gunakan untuk tiket pesawat dan kebutuhan keberangkatan lainnya.
Cerita Rahma menggambarkan bagaimana kenaikan biaya hidup dapat mengubah rencana pengeluaran meski skema beasiswa tetap berjalan. Dalam praktiknya, perubahan harga sewa dan kebutuhan keluarga dapat membuat tunjangan yang tersedia perlu diperas agar tetap menutup kebutuhan pokok.
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa internasional yang membawa keluarga menghadapi tantangan yang tidak berhenti pada biaya akademik. Mereka harus menyesuaikan strategi tinggal, menghitung ulang alokasi dana, hingga menyiapkan cadangan sebelum berangkat, agar studi bisa dijalani dengan lebih stabil di Australia.
Kondisi itu juga memperlihatkan bahwa bantuan beasiswa tidak selalu bekerja seperti ādana tanpa batasā. Saat biaya hunian ikut melonjak, bagian yang semula bisa digunakan untuk kebutuhan lain menjadi lebih cepat terserap, terutama ketika keluarga tinggal bersama dalam satu rumah.
Selain persoalan sewa, adaptasi di Australia turut menuntut penyesuaian sejak awal. Seperti yang muncul dalam survei Study Australia akhir 2025, banyak mahasiswa internasional menempatkan pencarian tempat tinggal sebagai tantangan utama, sehingga perencanaan anggaran sering harus diperketat sejak masa transisi.
Dalam kasus Rahma, pengeluaran rumah yang menggerus tunjangan makin menegaskan pentingnya menghitung ulang alokasi harian dan bulanan. Ia harus menyiapkan dana tambahan, termasuk pinjaman untuk kebutuhan sebelum berangkat, agar kebutuhan kesehatan keluarga dan biaya keberangkatan tetap bisa dipenuhi tanpa mengganggu kelangsungan studi.












