jurnalistik.co.id – Kehancuran jadwal penerbangan di Inggris kembali terjadi setelah gangguan teknis kedua dalam waktu dua pekan, memicu kritik tajam dari maskapai terhadap sistem pengendalian lalu lintas udara. Insiden pada hari Senin itu membuat operasi penerbangan di sejumlah wilayah terganggu dan menambah tekanan pada otoritas yang mengelola layanan tersebut.
EasyJet menyatakan kejadian hari ini “once again calls into question the resilience” dari layanan pengendalian lalu lintas udara. Wizz Air, melalui pejabatnya, menilai gangguan yang berulang telah menimbulkan krisis kepercayaan tingkat nasional, dengan menyebut kondisi sebagai “national confidence crisis” dalam National Air Traffic Services (Nats), operator layanan air traffic di Inggris.
Sementara itu, Nats menjelaskan bahwa gangguan terkait “connectivity issue” di Prestwick menjadi penyebab utama dampak yang dirasakan di Skotlandia, Irlandia Utara, serta wilayah utara Inggris. Nats juga menegaskan bahwa masalah di Prestwick “had nothing to do” dengan cacat perangkat lunak terpisah di Swanwick pada awal bulan ini.
Keresahan politik dan tuntutan investigasi penuh
Perdana Menteri Andy Burnham menyampaikan bahwa gangguan lanjutan hari ini “cause even greater concern” mengenai pengendalian lalu lintas udara Inggris. Ketika ditanya mengapa ia tidak memecat kepala Nats, Burnham menegaskan, “these are clearly serious issues and they need to be fully investigated”. Ia menambahkan bahwa Menteri Perhubungan menangani masalah ini “extremely seriously”, dan mula-mula menjadi tugasnya untuk “get to the bottom of… and why there has been a recurrence.”
Menurut Nats, persoalan yang mendasari gangguan hari Senin telah diselesaikan, dan layanan beroperasi pada “full capacity”. Meski demikian, pejabat memperingatkan masih ada potensi dampak berantai terhadap jadwal penerbangan setelah gangguan awal.
Juru bicara Nats menyatakan fokus mereka kini adalah bekerja dengan pelanggan untuk memulihkan keterlambatan sisa (residual delays) dan membantu mengembalikan operasi ke kondisi normal.
Dampak pada penerbangan dan respons maskapai
Gangguan tersebut berujung pada pembatalan sekitar 150 penerbangan pada hari Senin. EasyJet menjadi maskapai yang paling terdampak, dengan 47 dari 670 keberangkatan terjadwalnya dibatalkan. British Airways juga mengalami pembatalan, dengan 12 penerbangan dari 513 keberangkatan terjadwal yang mengalami pembatalan.
Dalam penilaian dampak yang lebih luas, disebutkan bahwa gangguan terbaru memengaruhi 140 penerbangan dan 25.000 penumpang. Airlines UK menyatakan baik penumpang maupun maskapai “deserve better” pelayanan setelah “yet another Nats failure”.
Yvonne Moynihan, Managing director Wizz Air UK, menyerukan “urgent reform” pada Nats dan menyampaikan bahwa ia tidak memiliki kepercayaan pada kepemimpinan saat ini. Saat ditanya di BBC Radio 4 program World at One apakah kepala Nats Martin Rolfe seharusnya mengundurkan diri, Moynihan menjawab, “We need to look at the leadership at the top. But more than that, what are the board of directors doing?”
Jet2, melalui Steve Heapy, juga meminta langkah “urgent and accountable” untuk memperkuat infrastruktur pengendalian lalu lintas udara Inggris. Ryanair kembali mengulang tuntutannya agar Rolfe mengundurkan diri, dengan menyebut ia gagal “deliver” either a reliable system or an effective back-up”.
British Airways menilai gangguan teknis lain dari Nats sebagai sesuatu yang “disappointing”. Nats sendiri menyampaikan permintaan maaf, dengan menyatakan, “In the real world, we accept technology can and sometimes does fail. Our job is minimising disruption where possible.” Nats juga menegaskan, “What isn’t acceptable is any incident where safety is compromised – this is always our first priority.”
Berita Terkait
Otoritas tersebut menyatakan mereka berupaya mengembalikan lalu lintas udara ke kondisi normal secepat mungkin, sekaligus meminta penumpang mengecek status penerbangan melalui maskapai masing-masing.
Di sisi pemerintah, Menteri Perhubungan Heidi Alexander mengakui situasi ini sebagai sesuatu yang “deeply frustrating” bagi penumpang.
Status kompensasi dan tinjauan independen
CAA juga menyebut tinjauan independen mengenai ketahanan (resilience) sistem pengendalian lalu lintas udara Inggris sedang berlangsung. Hasil tinjauan itu akan dipublikasikan dalam waktu “within six months”.
Prestwick, Swanwick, dan ingatan pada gangguan sebelumnya
Dari sisi teknis, penyebab detail masalah terbaru tidak banyak diketahui, namun yang disebutkan adalah kegagalan teknis di pusat kontrol Prestwick. Pusat ini menangani lalu lintas untuk wilayah utara Inggris, Skotlandia, dan Irlandia Utara, dengan cakupan sekitar 42% dari lalu lintas udara Inggris.
Pusat Nats lain berada di Swanwick, Hampshire, yang mengelola ruang udara bagian selatan, termasuk pendekatan menuju Heathrow dan Gatwick. Insiden Swanwick pada bulan lalu berdampak pada ratusan ribu penumpang, termasuk sebagian yang harus tidur di lantai bandara atau terjebak di luar negeri beberapa hari sebelumnya. Nats menyebut gangguan tersebut lebih berat karena memengaruhi perjalanan antarbenua dan jarak jauh melalui ruang udara Inggris.
Dalam laporan pekan lalu, Nats menyatakan gangguan perangkat lunak terjadi “in the space of a millisecond”, hingga sistem menghasilkan data yang rusak (corrupted data). Di balik layar, disebutkan maskapai “furious” karena gangguan terus berulang, sementara mereka harus menanggung biaya pengembalian dana penumpang dan perawatan bagi mereka yang terkena dampak.
Sejumlah kekhawatiran juga muncul bahwa belum cukup sumber daya dialokasikan untuk memastikan sistem memiliki ketahanan yang dibutuhkan. Saat membahas insiden Swanwick sebelumnya, Rolfe mengatakan kepada BBC bahwa ia tidak akan mengundurkan diri, dengan menyebut cacat perangkat lunaknya “very, very obscure”.
Kisah penumpang yang kembali terjebak
Wartawan BBC juga menampilkan beberapa pengalaman penumpang. Steve Davies, 74, mengatakan ia “cheesed off with air traffic control” karena masalah teknis tampak “happening a lot”. Ia dan istrinya, Sadie, terjebak di Birmingham setelah diberi tahu untuk turun dari penerbangan EasyJet menuju Edinburgh pada Senin pagi.
Nicole McCloskey dari Kilmarnock mengaku keluarganya semula dijadwalkan berangkat ke Disneyland Paris, tetapi penerbangan dibatalkan. Ia menyampaikan bahwa keluarga menerima pesan bahwa penerbangan tertunda saat mereka sedang menuju Glasgow, namun baru mengetahui penerbangan tersebut dibatalkan sepenuhnya setelah tiba.
Rebecca Freeman mengalami situasi serupa di Bristol Airport. Ia menceritakan atmosfer saat itu sebagai “chaos” setelah penerbangan menuju Edinburgh untuk pertemuan bisnis dibatalkan. Ia juga menyatakan bahwa ia sempat terdampak pada awal bulan yang sama dan harus menunggu sembilan jam di Bristol, sehingga ia merasa kecewa karena kejadian kembali terulang.
Dengan gangguan yang berulang dan tuntutan reformasi dari maskapai, pertanyaan utama kini beralih pada investigasi penuh yang diminta pemerintah serta langkah konkret untuk memastikan sistem pengendalian lalu lintas udara Inggris benar-benar kembali andal dan tahan terhadap gangguan teknis.












