Bisnis & Ekonomi

James Reed: Saya sudah 30 tahun di rekrutmen—begini cara agar direkrut

×

James Reed: Saya sudah 30 tahun di rekrutmen—begini cara agar direkrut

Sebarkan artikel ini
I've spent 30 years in recruitment - this is how to get a job
Ilustrasi: James Reed: I’ve spent 30 years in recruitment, here’s how to get hired

jurnalistik.co.id – James Reed mengaku telah menghabiskan tiga dekade di dunia rekrutmen. Pengalaman panjang itu membuatnya melihat pola-pola keputusan perekrut—serta mengapa banyak pelamar merasa proses mencari kerja makin terasa “tertutup”.

Dalam wawancara yang dirilis BBC News, Reed—pendiri sekaligus ketua dan CEO perusahaan rekrutmen Reed—membahas sejumlah langkah praktis agar kandidat lebih mudah terlihat, terutama di pasar kerja yang semakin kompetitif.

Reed menyinggung salah satu penyebab kesulitan yang terasa: jumlah lowongan jenjang lulusan. Menurut Reed, graduate vacancies yang semula berada di kisaran sekitar 180.000 tiga atau empat tahun lalu kini turun menjadi sekitar 50.000.

Lewat saringan berbasis AI tanpa kehilangan substansi

Reed menjelaskan bahwa sejumlah perekrut menggunakan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk menyaring lamaran sebelum dilihat oleh tim rekrutmen. Ia menilai, idealnya “computers shouldn’t reject people”.

Namun ketika AI dipakai, Reed menyarankan kandidat menyesuaikan isi dokumen agar selaras dengan kebutuhan yang tertulis. Reed menyebut pelamar mungkin dibandingkan dari deskripsi pekerjaan dengan CV atau surat lamaran, sehingga kandidat sebaiknya “try and mirror the job description with your skills and experience”.

Reed menegaskan batas yang tak boleh dilanggar: “It’s really important you don’t lie”. Ia menilai, ketika lowongan meminta kemampuan komunikasi, organisasi, atau layanan pelanggan, lamaran harus memperlihatkan bagian mana kandidat pernah melakukannya.

Ia juga mengakui rasa frustrasi yang sering muncul saat mencari kerja. Reed menyinggung pertanyaan yang sama seperti “How do I get experience if no one gives me a chance?”.

Menurut Reed, situasi saat ini makin berat karena perusahaan merekrut lebih sedikit, sehingga kandidat yang sudah punya bekal kerap lebih diutamakan. Ia menyarankan membangun pengalaman “even if it’s temporary, casual or part-time”.

Pengalaman itu, menurut Reed, bisa dikumpulkan lewat kerja, kerja sukarela, proyek komunitas, ataupun pelatihan daring gratis seperti Anthropic’s AI academy. Reed juga mendorong strategi yang lebih langsung bila kandidat sudah berhasil bertemu perekrut dan merasa cukup berani.

Dalam situasi tersebut, Reed merekomendasikan kandidat menyampaikan secara terbuka: “Someone gave you your first opportunity, that’s all I’m looking for.”

Gunakan AI sebagai alat, bukan pengganti identitas

Reed tidak menolak penggunaan AI dalam proses melamar kerja. Ia memandang AI sebagai “wonderful tool” yang dapat membantu memperbaiki lamaran.

Tetapi ia memberi peringatan jelas agar lamaran tetap memiliki ciri personal. Reed menegaskan, jika pelamar membiarkan dokumen “AI-only”, maka hasilnya “it’ll be identical to lots of other people’s and the point is to stand out”.

Nasihat utamanya adalah memastikan dokumen benar-benar mencerminkan diri pelamar. Reed menekankan “make sure your CV says who you are”.

Ia menyarankan format ringkas: “Make sure it is one page,” dan memastikan pernyataan pembuka di bagian atas benar-benar tepat. Reed juga mengingatkan perlunya masukan dari orang lain: “Get that opening top statement right and get advice from people to make sure it really sounds like you and it’s a document you feel proud of.”

Reed bahkan bercanda mengenai kesalahan ejaan yang sesekali mungkin terjadi. Namun, ia tetap menegaskan alasan mengapa perhatian pada detail penting: “because it shows it was written by a human, not AI”.

Karena itu, kandidat perlu menjaga ketepatan tata bahasa dan keterbacaan. Reed menilai kerapian dokumen tetap berpengaruh pada kesan pertama.

Fokus pada kemampuan yang dicari: komunikasi, kolaborasi, dan ketangguhan

Ketika ditanya keterampilan apa yang sebaiknya diprioritaskan, Reed menyebut komunikasi, kolaborasi, dan resiliensi. Ia mengatakan beberapa orang masih kurang pada kemampuan-kemampuan ini.

“Good communicators have an advantage,” kata Reed. Ia mengaitkannya dengan kemampuan mengekspresikan diri dan membangun rasa percaya diri saat berbicara di depan orang.

Reed menilai kolaborasi juga menjadi penentu karena pekerjaan selalu melibatkan tim. “Nothing is achieved by one person as you’re always part of a team,” ujarnya.

Ia menambahkan peringatan yang tegas saat wawancara: “If it’s all about ‘me, me, me’ at a job interview you won’t proceed.”

Selanjutnya, Reed menempatkan resiliensi sebagai faktor pembeda ketika job-hunting terasa melelahkan. Ia menyarankan kandidat bisa mengembangkan “If you can develop a super thick skin and be persistent and resilient, it will serve you well,”.

Reed juga mengingatkan bahwa kegagalan dan penolakan adalah bagian dari proses. “You’ll have some knocks in life, but don’t take it personally, it’s normal,” kata Reed.

Persiapan wawancara: “tell me about yourself” yang tepat sasaran

Reed mengatakan ada satu pertanyaan yang paling sering muncul saat wawancara: “tell me about yourself”.

Menurut Reed, bila kandidat sudah siap, pertanyaan itu justru yang paling mudah dijawab. Reed menjelaskannya melalui kalimat, “If you’re prepared, it’s the easiest question and you can knock it out of the park, but if you’re not, then you go all over the place”.

Ia menekankan bahwa wawancara adalah percakapan yang bisa mengubah hidup. “Interviews are a life-changing conversation so it’s important to really prepare.”

Koreksi pola pikir terbesar saat melamar

Reed menilai kesalahan terbesar adalah berpikir “the world owes you a living”. Ia juga mengkritik anggapan bahwa seseorang semestinya mendapat pekerjaan hanya karena sudah berada di ruangan.

Ia mendorong kandidat mengubah cara pandang. Reed menyarankan berpikir bahwa “A job is a problem to be solved so you need to think how are you the solution to the employer or company?”.

Dengan cara itu, kandidat tidak lagi terjebak pada “what’s in it for me”. Reed mengatakan fokus kemudian berubah menjadi menunjukkan alasan mengapa perusahaan seharusnya memilih kandidat tersebut.

Universitas bukan satu-satunya jalan

Reed juga menyampaikan pendapatnya tentang apakah universitas masih layak ditempuh. Ia menegaskan universitas tidak cocok untuk semua orang.

Reed berkata bahwa mengejar gelar hanya karena “the done thing and all my friends are doing it is not such a good idea”. Ia menilai terlalu banyak anak muda memilih kuliah.

Karena itu, Reed mendorong pertimbangan terhadap jalur lain seperti magang, bidang kejuruan, pekerjaan berbasis keterampilan, atau langsung masuk dunia kerja. Ia menutup dengan pandangan yang lebih luas bahwa “We have been ridiculously snobby about trades and the idea that half of young people should go to university feels very outdated”.

Dengan latar pasar kerja yang menyusut, poin Reed tampak konsisten: tampil lebih tepat sasaran di saringan awal, bangun pengalaman yang relevan, serta bawa kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan resiliensi ke setiap tahap—dari CV hingga wawancara.